
"Zidan Kau mau ke mana?"pertanyaan dari Oma Keisha itu, proses membuat langkahnya terhenti. dan tak lama berselang, laki-laki yang memiliki wajah manis itu menoleh ke belakang.
Kini, jujur saja Zidane merasa begitu bingung apa yang harus ia lakukan saat ini karena situasinya benar-benar sangat kacau.
"maafkan aku Oma, tapi aku harus bergerak cepat untuk menyelamatkan Putraku."tanpa pikir panjang lagi, ZIdan segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Beruntungnya jalan raya pada malam itu terlihat begitu lenggang. sehingga Zidane dengan leluasa, dapat menempuh perjalanan lebih cepat dari yang biasanya.
"ayo cepat kau masih bareng-bareng kalian!"seru Jordan sesampainya laki-laki itu di depan gerbang. Dengan tubuh yang sedikit gemetar, Zidane segera mengemasi barang-barangnya dan langsung menggendong tubuh mungil dari putranya itu untuk membawanya pergi dari sana.
"maaf tuan kita mau ke mana?"tanya salah seorang pelayan dengan raut wajah takut bingung dan juga campur aduk.
"sudah tidak usah banyak bicara. lebih baik, sekarang kita langsung menuju ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh manusia lainnya."malam itu juga, Zidane segera memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan jet pribadi untuk dirinya dan juga Haidar.
Sementara untuk orang-orang yang bekerja di kediaman laki-laki itu, diperintahkan untuk menaiki pesawat umum saja. karena Zidane tahu, yang diincar saat ini adalah dirinya dan juga Haidar. sehingga, presiden harus menyelamatkan mereka berdua terlebih dahulu.
Setelah semua persiapan dilaksanakan, Zidane segera terbang ke sebuah negara yang entah di belahan bumi mana.
"kau tenang saja sayang kita akan aman."gumam laki-laki itu Seraya mencium pipi gembul milik Haidar.
Saat ini, tujuan dari Zidane adalah sebuah negara terpencil di belahan bumi utara. karena laki-laki berwajah manis itu tahu, bahwa negara itu termasuk negara yang aman karena tidak pernah ada turis yang masuk ke sana.
Setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam, pada akhirnya mereka telah sampai dan mendarat dengan sempurna di suatu negara yang terlihat begitu terpencil dan juga jauh dari keramaian pusat dunia.
"halo apakah kamu sudah mempersiapkan hunian yang nyaman untuk Putraku?"tanya Zidane pada seseorang di balik telepon.
("sudah tuan, tuan tenang saja. sekarang ini, Anda tinggal menempati bangunan itu saja karena semuanya telah saya persiapkan.")sahut orang dari seberang sana.
Kedua sudut bibir dari Zidane seperti kamu membentuk sebuah senyuman penuh dengan kepuasan. karena mengetahui kinerja dari orang suruh hanya itu.
__ADS_1
"kita ke alamat ini."suruh Zidane pada para pengawal yang membawa mobil itu.
"baik Tuan!"sahut mereka semua dengan kompak.
****
Sementara itu di dalam kediaman keluarga Prakoso, terlihat semua orang tengah sibuk untuk mencari keberadaan Zidane. karena laki-laki berwajah manis itu, belum menampakkan batang hidungnya sampai siang ini.
"apakah dia pergi lagi?"tanya Oma Keisha menatap ke arah orang-orang yang ada di sana.
Tiba-tiba saja Tiara datang menghampirinya dengan menggendong Elvio."Maaf Oma, sepertinya Kak Zidane belum pulang dari semalam."tuturnya melaporkan.
Kedua bola mata dari wanita tua itu, seketika membulat dengan sempurna saat mendengar penuturan dari cucu menantu kesayangannya itu.
"kau yakin dia belum pulang dari semalam?"tanya Oma Keisha mencoba untuk memastikan. dan hal itu langsung dijawab anggukan kepala oleh wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu.
Oma Keisha seketika membelalak kaget."apa yang kau katakan ? kenapa mereka berantem?"tanya wanita tua itu dengan raut wajah yang tidak mengerti.
"karena dulu, mereka berdua sempat berebut untuk mendapatkan Asmirandah."dengan nada yang begitu polos, Tiara malah membeberkan semua itu secara terang-terangan.
Tentu saja hal itu membuat Ajeng yang ada di sana, membulatkan kedua matanya. karena wanita paruh baya itu tidak menyangka, bahwa Tiara akan langsung membocorkan hal itu pada Oma Keisha.
"apa yang kau katakan kau tidak usah mengarang seperti itu?"sentak Sahara dengan raut wajah tidak suka.
"terserah tante Sahara mau bicara apa. yang terpenting saat ini, aku mengatakan sesuatu hal. dan hal itu adalah sebuah fakta.
Sahara seketika menggelengkan kepalanya kuat-kuat. karena wanita paruh baya itu masih tidak mempercayai jika Jordan akan bersikap seperti itu. dan apa tadi, Jordan sempat bersaing dengan Zidane untuk mendapatkan Asmirandah? hah itu sangat sangat tidak mungkin!
"sudahlah lebih baik kau fokus saja mengurus Elvio."setelah mengatakan hal itu, dengan segera wanita itu pergi dari sana. dan tak lama berselang, susu oleh Ajeng yang juga ikut pergi dari sana.
__ADS_1
Sementara Oma Keisha, wanita renta itu langsung menghampiri Tiara dan langsung memeluknya dengan erat.
"jangan pikirkan akan hal itu. lebih baik kau istirahat saja."ucap wanita itu dengan pelan. tentu saja hal itu membuat Tiara, seketika mendengus kesal.
"terserah kalau tidak ingin percaya!" wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu kembali masuk ke dalam kamar. dan langsung meletakkan baby Elvio di atas tempat tidur dengan gerakan kasar. hingga membuat bayi mungil itu seketika menangis dengan kencang.
****
"bagaimana apakah kau ingin menjalankan rencanamu sekarang?"tanya Celine pada Naomi.
"sepertinya aku harus memberikan pelajaran pada Tiara terlebih dahulu."gumamnya dengan nada suara yang begitu lirih.
"baiklah."Celine hanya dapat menganggukkan kepala. dan mengikuti permainan dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.
****
Zidane segera turun dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam bangunan yang jauh lebih megah dari tempat tinggal tersembunyi yang dulu.
"sekarang kalian segera siap-siap. dan pastikan, Putraku aman bersama dengan kalian."perintah laki-laki berwajah manis itu pada semua pekerja yang memang dia ikutkan untuk menuju ke tempat baru.
"baik Tuan!"ucap mereka Seraya menundukkan kepala serempak.
Setelah memberikan satu kali kecupan di kepala putranya, Zidan memutuskan untuk kembali menaiki pesawat pribadinya dan menuju ke kediaman Prakoso. karena laki-laki itu takut, semua akan menjadi berantakan jika dirinya masih berada di tempat ini.
"maafkan Ayah Haidar, semoga kamu Tidak membenci ayah akan hal ini."ucap laki-laki itu Seraya menundukkan kepala. dan tak lama berselang, air mata dari laki-laki itu seketika jatuh membasahi pipinya.
Zidane kembali melangkahkan kakinya untuk segera pulang ke kediaman Prakoso. karena saat ini, hari sudah menunjukkan pukul 01.00 siang.
"apakah tidak sebaiknya Tuan beristirahat terlebih dahulu?"tanya salah seorang pelayan yang merasa kasihan pada majikannya itu karena harus langsung bertolak pulang.
__ADS_1