
Sementara itu di perusahaan keluarga milik Prakoso, terlihat aura permusuhan yang begitu kental yang berasal dari dua penerus perusahaan yang saling menatap dengan tetapan yang begitu tajam.
Siapa lagi orangnya jika bukan Jordan dan juga Zidane. dua laki-laki yang pada awalnya saling menyayangi dan juga mengasihi itu, kini bahkan menjadi sosok orang-orang yang ambisius dan bersaing untuk mendapatkan sesuatu.
"aku berjanji akan merebut apa yang telah menjadi milikku."ucap Zidane memulai percakapan.
Sontak saja, Jordan langsung menatap tajam ke arah laki-laki yang berstatus sebagai kakak sepupunya itu.
"Dia sudah menjadi Milikku jika kau lupa! desisnya tak kalah sengitnya.
Zidane seketika tertawa sumbang mendengar penuturan dari adik sepupunya itu."apa yang perlu dibanggakan, dari barang yang telah kau curi?"ucapnya dengan nada suara yang begitu sinis.
Kemudian laki-laki berwajah manis itu segera melangkahkan kakinya untuk menjauh dari sana. karena memang, urusannya sudah selesai bersama dengan Jordan.
Akan tetapi sebelum benar-benar keluar, laki-laki berwajah manis itu sempat mengatakan sesuatu hingga membuat Jordan kembali naik pitam.
"dan ingat satu hal adik sepupuku sayang. yang namanya barang curian itu, tidak akan pernah membuatmu bahagia. dan juga, suatu saat akan kembali kepada pemilik aslinya camkan itu!"setelah mengatakan hal itu, Zidan benar-benar pergi dari sana.
Meninggalkan Jordan yang tengah murka seperti orang yang tidak waras.
Prang!!
Bruuuuaakk!
Suara barang-barang itu seketika memenuhi ruangan kerja milik Jordan. nafas dari laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya Itu, tampak memburu. menandakan, bawa laki-laki itu tengah menahan amarah yang luar biasa saat ini.
"kurang ajar!"
Brangg!!
"sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi."ucapnya Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sungguh Jordan merasa benar-benar murka saat ini. laki-laki itu tidak akan pernah membiarkan barang yang sudah menjadi miliknya, akan berpindah tangan segampang itu. tidak akan pernah terjadi!
****
__ADS_1
"a... apakah dia baik-baik saja sekarang?"tanya Asmirandah setelah terdiam cukup lama dengan pikiran yang memenuhi isi kepalanya.
Ajeng tampak menatap wanita itu sebentar. dan tak lama berselang, anggukan kepala terlihat jelas dari wanita paruh baya itu. tentunya Hal itu membuat Asmirandah seketika menghela nafas lega.
"kapan kamu akan menemui putramu itu?"pertanyaan dari Ajeng itu, sukses membuat Asmirandah kembali tersentak. bahkan tubuh dari wanita itu seperti gemetar karena mendengarkan pertanyaan yang keluar dari mulut mantan Ibu mertuanya itu.
"aku tidak tahu."ucapnya Seraya menundukkan kepala. karena memang, Asmirandah benar-benar tidak mengetahui kapan tepatnya dia akan terbebas dari belenggu Jordan.
Ajeng seketika langsung bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Asmirandah yang masih bergulat dengan pikirannya sendiri.
"Hiks hiks hiks maafkan Mama sayang. Mama tidak bermaksud untuk membuatmu sengsara seperti itu."ucapnya dengan linangan air mata yang membasahi pipi.
****
"Tiara.....!! Tiara....!!!"
Kedua bola mata dari wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu seketika membulat dengan sempurna saat mendengar suara itu kembali lagi. dan hal itu membuatnya, semakin merasakan ketakutan yang luar biasa.
"hihihi."
Tiara seketika beringsut mundur hingga tubuhnya menghantuk ke kepala ranjang.
"Tiara...! Tiara...!"
Suara itu semakin terlihat begitu jelas di indra pendengaran milik wanita berambut panjang sampai pinggang itu. hingga membuatnya, merasa semakin ketakutan luar biasa.
"aku mohon pergi dari sini aku mohon pergi dari sini!"teriak wanita itu semakin histeris.
Tanpa diketahui olehnya, bahwa ada seseorang yang menatap kejadian itu dengan tatapan penuh dengan kepuasan. siapa lagi orangnya jika bukan Naomi. Karena Wanita itu saat ini, tengah berada di belakang kediaman keluarga Prakoso dan menyamar sebagai salah satu pelayan di rumah itu.
"aku puas dengan pekerjaanmu ini!"ucap wanita itu Seraya menyerahkan sebuah amplop coklat pada mata-mata yang ia suruh untuk mengerjakan tugas-tugas itu.
"Terima kasih nyonya."setelah mengatakan hal itu, wanita yang berpura-pura sebagai perawat itu segera pergi dari sana meninggalkan Naomi yang masih tertawa terbahak-bahak karena melihat bagaimana reaksi dari musuhnya itu.
__ADS_1
Tawa dari Naomi seketika merda. saat kedua matanya tidak sengaja menangkap keberadaan dari sosok yang menurutnya tidak familiar.
"Asmirandah? untuk apa dia ada di sini?"tanya wanita itu pada dirinya sendiri.
"cih, apakah dia ingin kembali merebut posisi sebagai istri dari Zidane? tidak tahu malu!" lanjut wanita itu Seraya berdecih.
Untuk saat ini, Naomi memang tidak bisa berbuat apa-apa. Karena Wanita itu masih sangat takut akibat kemarahan yang ditunjukkan oleh Jordan beberapa waktu yang lalu itu.
*****
"wajahmu ini kenapa?"tanya Oma Keisha saat melihat dua cucu laki-lakinya itu terlihat begitu masang saat pulang dari perusahaan keluarganya.
"tidak apa-apa!"jawab mereka berdua serempak dan langsung memutuskan untuk pergi dari sana. tentunya Hal itu membuat Oma Keisha merasa begitu bingung. Namun demikian, wanita tua itu sama sekali tidak memperdulikan hal itu dia tetap melangkahkan kakinya dan melanjutkan aktivitasnya sampai selesai.
Melihat kedatangan dari Jordan, Asmirandah seketika tersenyum. wanita itu langsung menyerahkan Arabella pada suaminya itu.
"aku mau ke kamar Tiara sebentar. tolong cek ke Ara."pinta wanita itu Seraya mencium kening mungil milik putrinya itu.
Jordan yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala. kemudian, laki-laki itu membalas dengan memberikan satu kali kecupan di kening milik Asmirandah. dan hal itu tak lepas dari pandangan mata milik Ajeng dan juga Zidane. hingga membuat keduanya, seketika saling pandang satu sama lain.
Sebenarnya di sana, tidak hanya Ajeng dan juga Zidane yang melihat hal itu. melainkan kedua orang tua Jordan, dan juga Rafael. mereka bertiga juga melihat pemandangan itu. namun mereka tidak memiliki prasangka aneh. karena memang ketiga orang itu tidak mengetahui apapun.
Karena sudah merasa tidak tahan, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk pergi dari sana. karena tubuhnya benar-benar merasakan panas luar biasa akibat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
Tentunya hal itu disadari oleh Ajeng. lantas wanita setengah baya itu juga ikut membuntuti putranya.
"apakah kau cemburu?"tanya Ajeng dengan nada yang menggoda.
Membuat Zidane sendiri, seketika memutar bola mata malas. sudah tahu anaknya itu sedang cemburu kenapa masih bertanya juga? dumelnya dalam hati.
Sementara Ajeng yang melihat raut wajah yang tidak mengenakan dari putranya itu hanya dapat diam.
"Asmirandah mau bertemu dengan Haidar. apakah kamu mengizinkannya?"pertanyaan yang terlontar dari mulut Ajeng itu, sukses membuat Zidane melangkah mundur.
__ADS_1