
Tak berselang lama dari itu, salah satu anak buah yang diperintahkan oleh Oma Keisha seketika kembali dengan membawa sebuah gawai yang ada di tangannya.
"bagaimana apakah kamu sudah mendapatkan informasi itu?"tanya wanita tua itu menatap ke arah orang-orang yang ada di sana. mereka semua menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"bagus! sekarang kita temui mereka kita berikan kejutan yang tidak akan pernah mereka sangka-sangka sebelumnya!"setelah mengatakan hal itu, wanita renta itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat di mana Asmirandah dan bergasi dan berada.
Sementara Tiara dan juga Jordan, mereka dibawa dan diseret seperti layaknya tawanan untuk masuk ke dalam mobil.
Di sepanjang perjalanan itu tidak ada orang yang berani untuk membuka suaranya. karena masing-masing dari mereka, menatap lurus ke depan dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.
"bagaimana ini bagaimana kalau mereka akan melakukan hukuman itu pada Asmirandah? aku benar-benar tidak rela jika hal itu sampai terjadi!"ucap Jordan dengan nada suara yang begitu lirih dan berusaha untuk membuka ikatan itu menggunakan gerakan tubuhnya.
Sementara Tiara sendiri, wanita itu semakin merasa terluka saat melihat bagaimana kesungguhan dan kegigihan yang ditunjukkan oleh laki-laki yang sebenarnya telah berada dalam lubuk hatinya yang paling dalam itu.
'secinta itu kamu sama Asmirandah' ucapnya Seraya menundukkan kepala dan ada rasa sesak di dalam dada wanita itu.
"kenapa harus dia yang mendapatkan Cinta dari orang-orang? kenapa tidak aku?"tanya Tiara dengan nada suara yang begitu lirih. sepertinya, wanita itu mulai menyalahkan takdir yang mulai tidak adil pada dia dan hidupnya itu.
****
Sementara itu, di dalam bangunan yang ditempati oleh Asmirandah, Ajeng, dan juga Zidane, tengah terjadi ketegangan karena mereka bertiga merasa sangat kebingungan apa yang harus mereka lakukan untuk saat ini.
Karena ketiga orang itu, sama sekali tidak ingin pasrah menerima hukuman yang akan diberikan pada mereka.
"kita tidak boleh pasrah terus-menerus seperti ini. Kita harus melakukan sesuatu hal untuk mencegah sesuatu itu terjadi."ucap Ajeng memecah keheningan di antara mereka bertiga.
"lalu apakah Mami memiliki rencana untuk semua ini?"tanya laki-laki berwajah manis itu pada sang ibu. membuat Ajeng sendiri yang mendengarnya, sejenak terdiam. kemudian tangan lentik dari wanita itu mencoba untuk mengambil benda pipih yang berada dalam saku celananya
__ADS_1
"tidak ada cara lain kita harus membeli obat tidur dan membuat tembakan air untuk membuat mereka semua terkapar nantinya."ucapnya setelah beberapa saat terdiam mempertimbangkan semuanya.
Zidane yang mengerti penuturan dari sang ibu, seketika menganggukkan kepala kemudian memerintahkan orang-orang yang ada di sana, untuk segera membelikan apa yang diperlukan untuk membuat obat bius dan juga tembakau itu.
Lima menit kemudian, mereka yang ditugaskan oleh Zidan telah sampai di depan rumah dan langsung masuk ke dalam bangunan itu. Namun sebelumnya, salah satu dari mereka sempat menoleh ke arah jalan raya. dan tak lama berselang, dua bola mata dari orang-orang itu membuat dengan sempurna saat melihat ada sebuah rombongan mobil yang mendekat ke arah rumah yang mereka tempati.
Secepat kilat, orang-orang itu segera segera berlari kencang untuk menghampiri Zidane yang masih menunggu di halaman belakang rumah itu.
"Tuan, gawat tuan!"teriak salah satu dari penjaga itu dengan sangat kencang. dan Hal itu membuat Haidar yang masih terlelap dalam gendongan sang ibu, seketika terbangun dan menangis dengan sangat kencang karena mendengar suara yang begitu menggelegar dari orang itu.
"apa yang kau lakukan? apakah kau tahu suaramu itu membuat anakku terbangun?!"tanya Zidane dengan tatapan yang begitu tajam ke arah penjaga yang ada di hadapannya saat ini.
Orang-orang itu seketika menundukkan kepala."ma.. maafkan kami tuan. kami merasa panik karena di depan sana Ada rombongan yang menuju kemari."ucap laki-laki itu dengan nada suara terbata-bata.
Degh
"a..apa kau bilang? mereka sudah sampai?"tanya Zidan dengan nada suara terbata-bata dan juga ekspresi wajah yang begitu panik.
Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki berwajah manis itu segera menyambar kantong plastik yang berada di tangan pengawal itu kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat untuk meracik bahan-bahan yang akan digunakan sebagai alat tempur mereka.
Sementara Ajeng dan juga Asmirandah, mereka berdua sama-sama panik dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan menguncinya di sana.
"ba... bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?"tanya wanita cantik itu Seraya mendekap putranya dengan begitu erat.
Sungguh saat ini, Asmirandah benar-benar merasa sangat takut. wanita itu tak henti-hentinya memeluk tubuh dari Haidar dengan begitu eratnya. sementara Ajeng sendiri, wanita paruh baya itu juga merasa sangat kebingungan saat ini apa yang harus ia lakukan.
Karena memang, wanita paruh baya itu tidak memiliki persiapan sama sekali untuk melawan orang-orang itu. dan tidak akan pernah menyangka jika rahasia ini akan terbongkar dengan begitu cepatnya.
__ADS_1
Bruuuuaakk!!
"aaaaarrgghhh!"
Kedua wanita itu seketika berteriak istri saat mendengar suara pintu yang ditubrak dengan sangat kencang dari luar.
Dan hal itu, membuat Asmirandah semakin merasa ketakutan. wanita cantik itu memutuskan untuk segera melangkahkan kakinya untuk mendekati ranjang dan bersembunyi di sana.
"apa yang harus kita lakukan sekarang?!"teriak Ajeng dengan nada suara yang begitu panik. dan hal itu sukses membuat Haidar kembali menangis dengan sangat kencang karena merasa terkejut dengan teriakan itu.
****
"apakah ini adalah benar rumahnya?"tanya Oma Keisha yang memang telah berada di halaman depan rumah itu.
"jika menelisik tentang informasi yang ditunjukkan oleh Naomi, memang benar ini adalah rumahnya."jawab Sahara dengan lantang.
"bawa mereka kemari!"titah oma Keisha pada anak buahnya yang sudah siap sedia.
Mereka semua seketika menganggukkan kepala. dengan segera menurunkan Jordan dan juga Tiara yang masih terikat dengan tali tambang.
"apakah benar ini rumahnya?"tanya wanita tua itu dengan tatapan yang begitu tajam.
Jordan yang mendengarkan aturan dari neneknya itu, seketika hanya menggelengkan kepalanya karena memang laki-laki itu tidak mengetahui apa benar jika Asmirandah berada di sini.
"jawab aku bodoh!"hardik wanita tua itu Seraya menendang tulang kering milik cucunya. sungguh Wanita itu benar-benar sangat mengerikan untuk saat ini. dia seperti bukan Oma Keisha yang biasanya.
"awwww."ringis laki-laki itu dengan sesekali mengibaskan kakinya karena merasakan sakit.
__ADS_1