
Beberapa hari kemudian,...
Kondisi dari Asmirandah benar-benar sudah membaik. dan Hal itu membuat Zidan sedikit merasa tenang. jika laki-laki berwajah manis itu, harus meninggalkan istrinya seorang diri karena pekerjaan ataupun panggilan dari keluarga besarnya.
"Abang mau ke mana?"tanya Asmirandah Seraya membawakan laki-laki itu secangkir teh hangat beserta dengan dua lembar roti di dalam nampan.
Membuat si pemilik tubuh, seketika menoleh ke arah sumber suara dan mengulas senyuman tipis.
"kenapa kamu yang membawakan makanan ini, hmm? bukankah ada banyak pelayan di rumah ini? aku tidak ingin kau capek sayang."ucap laki-laki itu penuh dengan kelembutan dan membawa tubuh mungil istrinya ketepian ranjang.
"memangnya aku tidak boleh untuk membuatkan sarapan pada suamiku sendiri, hmm?"bukannya menjawab, wanita yang tengah berbadan dua itu malah balik bertanya Seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Membuat Zidane yang mendengar itu, seketika mengulas senyum. saat melihat tingkah laku istri kecilnya itu yang sungguh sangat menggemaskan.
"kalau begitu aku tidak mau pergi."tiba-tiba saja, laki-laki berwajah manis itu berkata seperti itu. tentunya hal itu sukses membuat Asmirandah mengerutkan keningnya.
"kenapa?"tanya wanita itu penuh dengan raut wajah penasaran.
"aku ingin memakanmu karena kau sungguh menggemaskan."fisik laki-laki itu tempat di telinga sang istri. hingga beberapa saat kemudian...
plak
Satu pukulan, seketika mendarat di dada bidang laki-laki itu. membuat si empunya, hanya dapat tertawa pelan. sementara Asmirandah sendiri, seketika memasang wajah yang sedikit ditekuk. dan jangan lupakan, wajah wanita itu yang memerah dan juga salah tinggal akibat digoda suami sendiri.
"Ya sudah ayo kita makan."ucap laki-laki itu setelah sekian lama terdiam.
"tapi aku hanya membawa satu buah makanan beserta satu buah minuman."ucap wanita itu Seraya menunjuk ke arah meja kecil yang terletak di sudut kamar itu.
klik
Tanpa pikir panjang lagi Zidane segera menekan tombol kecil di samping ranjang. tak lama berselang, terdengar suara seseorang dari seberang sana.
__ADS_1
"kau mau makan apa sayang?"tanya laki-laki itu sebelum memerintahkan seseorang di sebelah sana untuk membuatkan makanan pada istrinya.
"nasi goreng seafood Sepertinya enak. sama es krimnya satu."ucap wanita itu dengan antusias dan sampai mengangkat kedua tangannya ke udara. hal itu sukses membuat Zidane yang memang tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat lekat.
Zidane segera menganggukkan kepalanya. dan dengan segera memerintahkan seseorang di seberang sana untuk segera menyiapkan apa yang diinginkan oleh sang istri.
Tak berselang lama, makanan yang diinginkan oleh wanita itu Akhirnya telah tersaji di atas meja itu bersamaan dengan sarapan milik Zidane yang telah dipersiapkan oleh Asmirandah sebelumnya.
"makan yang banyak."ucap laki-laki itu Seraya mengusap kepala istrinya itu dengan lembut.
"ih nanti aku gendut."protesnya Seraya mengerucutkan bibir.
"semakin gendut semakin kamu gemoy sayang,"ucapnya Seraya mencubit pipi wanita itu dengan gemasnya. membuat si pemiliknya semakin memberengut kesal.
"nanti kalau aku gendut, Abang malah ninggalin aku."ucap wanita itu dengan lirih.
Seketika itu pula, gerakan tangan dari laki-laki berwajah manis yang tengah mengusap perut istrinya itu terhenti. dan Tak lama kemudian, pandangan laki-laki itu menatap dalam dan juga intens pada mata wanita itu.
"kalau aku gendut bagaimana? bukankah biasanya laki-laki menyukai wanita yang semampai?"tanya wanita itu menatap dalam mata sang suami.
"aku akan tambah gendut lagi. kita akan menggendut sama-sama."ucapnya membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika terkikik geli.
"aku tahu apa yang kamu pikirkan. jangan pernah membayangkan Seperti apa bentukku nanti."tegur Zidane Yang sepertinya mengetahui apa yang akan dibayangkan oleh wanitanya itu.
Sesaat, Asmirandah terdiam. hingga beberapa saat kemudian, mereka berdua meledakkan tawanya masing-masing karena sama-sama membayangkan bentuk fisik mereka jika benar-benar menggendut akibat makanan.
"sayang!"panggil Zidan saat mereka sama-sama terdiam cukup lama.
"iya, kenapa Bang?"tanya wanita itu menoleh sekilas ke arah sang suami.
Tiba-tiba saja, laki-laki berwajah manis itu menggenggam tangan Asmirandah dengan sangat erat dan menatapnya dengan sangat dalam. hingga membuat tubuh Asmirandah sedikit menegang.
__ADS_1
"jika suatu saat nanti, ada sesuatu yang kamu ketahui dan membuatmu kecewa, tolong jangan pernah tinggalkan aku. karena aku, sungguh-sungguh tidak bisa hidup tanpamu."ucapnya dengan nada memohon namun juga Dengan aura yang sangat tegas.
"memangnya kenapa?"tanya Asmirandah dengan raut wajah penasaran. Zidan menggelengkan kepalanya.
"sudah lebih baik kita makan saja. karena sebentar lagi, aku akan berangkat kerja."ucap laki-laki itu Seraya mengambilkan makanan untuk sang istri dan juga untuk dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya mereka berdua makan dengan diselingi canda tawa yang memenuhi ruang kamar itu.
***
"kamu hati-hati di sini. mungkin, aku akan lama di luar kota."ucap laki-laki itu dengan nada yang sedikit bergetar karena merasa sedih meninggalkan istrinya seorang diri di sini.
Andai saja, dirinya itu memiliki pilihan lain dan juga memiliki keberanian untuk melawan sesepuh keluarganya, mungkin sudah sejak lama Zidane mengenalkan Asmirandah sebagai istrinya. namun hal itu terpaksa harus dikubur dalam-dalam akibat tradisi aneh keluarganya itu. dan imbasnya sekarang, dirinya harus melakukan ldr-an guna membuat rahasianya tetap aman. dan juga agar tidak terjadi peperangan di antara keluarganya dan juga keluarga sang istri.
"jangan lama-lama ya."ucap wanita itu penuh dengan kesedihan. tentunya Hal itu membuat presiden semakin merasa tidak tega untuk meninggalkan wanitanya itu. tapi apa mau dikata, semua telah direncanakan dan tidak bisa mundur lagi.
"janji hanya satu bulan."ucapnya penuh dengan keseriusan.
Meskipun berat, wanita yang tengah mengandung itu menganggukkan kepala. dan pada akhirnya benar-benar mengantarkan Zidane untuk berangkat ke luar kota.
***
"apa kamu yakin ini akan berhasil?"tanya seorang wanita pada seorang laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya saat ini.
"tentu saja berhasil. Karena sekarang, dia dalam keadaan seorang diri."sahut laki-laki itu dengan senyuman miring.
"oke kalau gitu. nanti kalau sudah ada kesempatan, aku akan segera ke sana dan melancarkan aksi pada wanita itu."ucap Naomi penuh dengan ambisi yang luar biasa.
"jangan lupakan beberapa video yang sudah aku kirim ke ponselmu."ucap laki-laki itu mencoba untuk memperingatkan Naomi.
"kau tenang saja. semua akan sesuai dengan rencana kita."ucap wanita itu dengan senyuman menyeringai.
__ADS_1