
Setelah selesai dengan acara itu, Asmirandah dan juga Jordan diminta untuk menginap di tempat itu. dan hal itu sebenarnya menjadi perdebatan di antara mereka.
Karena Asmirandah sangat khawatir dengan Ara yang ditinggal sendiri di sana. namun begitu dirinya tidak bisa untuk menolak. jika tidak ingin rahasianya terbongkar begitu saja. karena itu, akan membuat posisi dari anak-anaknya terancam.
"maafkan kami Oma. tapi sungguh kamu Harus pulang."tolak Jordan dengan nada seharus mungkin.
Membuat wanita renta itu, seketika hanya bisa pasrah. dan dengan segera, mengantarkan pasangan suami istri itu untuk menuju bandara.
Namun sebelum itu, Oma Keisha Asmirandah ke dalam Mansion untuk memberikan wanita itu hadiah. dan hal itu hanya dituruti oleh dengan hati yang teriris perih. andai saja jika dirinya tidak melakukan penyamaran, apakah sambutan hangat ini masih akan ia dapatkan? Asmirandah rasa, itu pasti tidak akan pernah mungkin.
Karena keluarga dari Prakoso memang akan welcome dengan siapa saja. bahkan dengan seorang yang sebatang kara sekalipun. karena itu menurut mereka, lebih baik daripada sebuah keluarga yang utuh dan memiliki skandal seperti keluarga dari Orlando.
Memikirkan hal itu saja, tak terasa membuat dada dari Asmirandah kembali berdetak kencang karena menahan amarah yang luar biasa.
Setelah sampai di depan kamar milik Oma Keisha, wanita itu segera diperintahkan untuk menunggu sebentar. karena wanita renta itu, ingin mengambil sesuatu di dalam sana. dan hal itu sama sekali tidak ada yang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan itu kecuali si pemilik kamar.
Dan pada akhirnya, Asmirandah hanya menganggukkan kepala dan menunggu di tempat yang telah disediakan.
Di saat wanita itu tengah terdiam menunggu kedatangan dari Oma Keisha, tiba-tiba saja seseorang menarik tangannya dan membawanya ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari kamar milik Oma Keisha.
'Tiara mau apa dia?'batin Asmirandah bertanya-tanya. Namun demikian, wanita itu masih tetap setia dalam kebungkamannya. Karena Wanita itu mengira, jika wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu belum menyadari tentang keberadaannya. tapi ternyata, semua itu salah besar. karena Tiara, memang telah mengetahui bahwa itu adalah dirinya.
"apakah kau bahagia bersama dengan Jordan?"tanya wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu dengan nada suara yang begitu jenis.
Namun, Asmirandah sama sekali tidak menggubris ucapan dari mantan sahabatnya itu. wanita itu mencoba untuk bersikap biasa saja.
"sudahlah bukankah aku sudah pernah bilang bahwa itu semua bukan kesalahanku? jika kau ingin marah, kenapa kau tidak marah dengan Jordan saja. karena laki-laki itu, yang memiliki kuasa Bukan aku."sindirnya dengan tersenyum sinis. karena jujur saja, Asmirandah merasa begitu jengah karena selalu disalahkan dengan mantan sahabatnya itu akibat masalah yang terjadi saat ini.
mendengar penuturan dari wanita yang ada di hadapannya saat ini, Tiara seketika naik pitam. dengan langkah secepat kilat, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu segera menghantam tubuh dari Asmirandah hingga membentur dinding. dan tak lama berselang, wanita itu mencekik leher dari Asmirandah. hingga membuatnya, merasa kehabisan nafas.
__ADS_1
"le... lepaskan aku!"ucapnya terbata-bata dengan sesekali akan memukul-mukul tangan dari Tiara agar dapat melepaskan diri dari cengkraman wanita itu.
"aku akan membuatmu hancur sehancur-hancurnya karena kau telah berani mengusik kebahagiaanku."ucapnya penuh dengan kilatan amarah. dan setelahnya,...
bugh
Asmirandah seketika terpental dengan cukup jauh saat Tiara dengan beringas menghantam tubuh wanita itu dengan sebuah balok kayu yang ada tidak jauh dari sana.
"rasakan itu!"setelahnya, Tiara segera pergi dari sana dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.
Sementara Asmirandah sendiri, wanita itu masih mencoba untuk mengatur anggota tubuhnya yang lainnya yang terasa begitu menyakitkan akibat dan teman yang dilakukan oleh mantan sahabatnya itu.
perlahan tapi pasti, wanita itu segera bangkit dari lantai dan mencoba untuk berdiri dengan tegap.
"Sheila, kau ada di mana?"suara dari Oma Keisha membuat kesadaran dari Asmirandah seketika pulih kembali. dan sekuat tenaga wanita itu akan mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Kau dari mana saja?"tanya wanita itu dengan raut wajah terkejut karena mendapati Asmirandah muncul dari sebuah ruangan yang ada di tempat itu.
"bertemu dengan Tiara."jawabnya dengan mengulas senyum tipis.
Oma Keisha yang mendengar itu, hanya membulatkan mulutnya membentuk kata oh saja. dan wanita renta itu, segera memberikan hadiahnya kepada Asmirandah.
"bagaimana apakah kau suka?"tanya Oma Keisha menatap ke arah cincin berlian yang sekarang bertengger dicemari manis milik Asmirandah.
Dengan perlahan tapi pasti, wanita itu menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil.
*****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya yang telah berbincang-bincang dengan seorang wanita muda.
__ADS_1
"Jadi bagaimana? apa rencanamu sekarang?"tanya Celine pada Naomi.
"aku akan membalaskan rasa sakit hatiku pada mereka semua. terutama, pada Asmirandah dan juga Jordan. namun sebelum itu, aku akan menyingkirkan Tiara. Nadia adalah awal mula dari kehancuran ini."jelas Naomi Seraya menatap datar dan tugas tajam ke depan.
Celine yang mendengar itu seketika tersenyum cerah. karena memang tujuan dari wanita paruh baya itu menyelamatkan Naomi, adalah agar bisa memiliki sekutu yang kuat untuk menghancurkan mereka. terutama Asmirandah.
Karena Wanita itu, adalah awal dari rasa kesakitan yang ia alami saat ini.
"bagus kapan kamu akan memulai rencanamu itu?"tanya Celine dengan wajah cerah dan juga nada antusias.
"kita tunggu saja tanggal mainnya. sepertinya mereka masih belum melemah. jika nanti waktunya sudah tepat, maka aku akan langsung bergerak untuk menyerang mereka."sahut Tiara dengan tersenyum lebar.
****
sementara itu di depan sana, dua laki-laki yang sebenarnya masih memiliki saudara itu, saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang begitu tajam.
Siapa lagi orangnya jika bukan Jordan dan juga Zidane. Jika saja mereka tidak memiliki alasan yang kuat untuk berdiam diri, maka dapat dipastikan akan terjadi peperangan diantara kedua laki-laki itu.
Hanya saja, kedua laki-laki itu masih memikirkan dampak yang akan mereka alami nantinya setelah peperangan itu.
"kapan kau akan menikah?"pertanyaan dari Rafael itu, sukses membuat Jordan seketika menoleh ke arah laki-laki paruh baya itu.
"secepatnya Om."ucapnya Seraya tersenyum simpul.
Tak lama berselang dari itu, Oma Keisha dan juga Asmirandah sedang menghampiri mereka dengan senyuman yang terpatri dari wajah masing-masing.
"kenapa terlihat senang sekali?"tanya Jordan menggoda pada wanita yang sebenarnya telah menjadi istrinya itu.
"nggak papa."balas Asmirandah Seraya tersenyum tipis. "apa kita bisa pulang sekarang?"tanya wanita itu Seraya sesekali akan melirik ke arah jam tangan yang telah ia kenakan itu.
__ADS_1