Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 62


__ADS_3

Setelah puas bercengkrama dengan sahabatnya, Asmirandah memutuskan untuk segera pulang ke rumah. karena dapat dipastikan, wanita paruh baya kesayangannya pasti akan mengome l saat melihat putri bungsunya belum pulang dari rumah temannya.


"Tiara, aku pulang dulu ya?" pamit Asmirandah pada sahabatnya itu.


"tidak mau diantar?"tanya Tiara menawarkan diri. dan langsung dijawab gelengan kepala oleh wanita cantik itu.


"Ya sudah, kalau begitu hati-hati saja."pesan Tiara sebelum menutup pintu rumahnya. Asmirandah hanya menganggukkan kepala kemudian berjalan untuk menuju ke jalan utama di mana kendaraan biasa berlalu lalang di sana.


Senyum wanita itu seketika mengembang, saat dari kejauhan, kedua mata indahnya menatap kendaraan yang memang ia tunggu-tunggu untuk mengantarkannya pulang.


"ke jalan ini pak."ucap Asmirandah saat wanita itu masuk ke dalam taksi dan menyerahkan sebuah lembar kertas pada sopir taksi itu.


Tidak ada jawaban dari si pengemudi. namun demikian, kendaraan itu tetap dilajukan oleh orang itu. dan hal itu, sama sekali tidak dihiraukan oleh Asmirandah. tanpa disadari oleh wanita itu, orang yang tengah mengemudi taksi tersebut, tersenyum dengan penuh arti.


"huh kenapa rasanya panas sekali?"teluh Asmirandah Seraya mengibaskan tangan ke udara.


"ini Nona saya punya air mineral masih baru jika berkenan."ucap sopir taksi itu Seraya menyodorkan sebotol air minum pada Asmirandah.


Tanpa rasa curiga dan berpikiran macam-macam, Asmirandah mengambil minuman itu dan mulai meneguknya perlahan demi perlahan. hingga tak terasa, air mineral itu pun habis.


"duh, kenapa kepalaku terasa sangat pusing?"keluh wanita itu. sebelum akhirnya, kesadarannya menghilang. membuat seseorang yang ada di kursi kemudian saat ini, tersenyum dengan bahagia. karena rencananya, telah berhasil seratus persen.


"hari ini, kau akan menjadi milikku."gumam laki-laki itu seraya membuka topeng yang menyerupai kulit wajah manusia.


Setelah mengatakan hal itu, laki-laki yang tak lain adalah Zidane itu, membawanya melesat jauh entah ke mana. yang jelas saat ini, yang ingin dilakukan oleh Zidane adalah menghabiskan waktu bersama dengan kekasihnya itu.

__ADS_1


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat Naomi tengah berjalan ke sana kemari dengan raut wajah kusutnya. entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu. yang jelas saat ini, wajahnya seperti menahan amarah yang luar biasa.


"kamu kenapa masih ada di sini?"tiba-tiba saja seseorang bertanya dari arah belakang tubuh wanita itu. membuat Naomi yang mendengarnya, seketika membalikkan badan. dan mendapati, Aaron berdiri tepat di belakangnya.


"memangnya kenapa sih Pah kalau aku masih ada di sini? ini kan juga rumahku."Naomi mendengus kesal.


"memang ini rumahmu. tapi apakah kau tidak ingat dengan peraturan rumah ini jika seseorang yang telah menikah, maka akan menjadi milik keluarga suaminya."ucap Aaron mencoba untuk mengingatkan Putri sulungnya itu.


"persetan dengan itu. yang jelas saat ini, aku ingin kembali bersama dengan Zidane apapun Yang terjadi."ucap wanita itu Seraya menghentak-hentakkan kakinya di atas lantai.


Seketika itu pula, raut wajah dari Aaron sangat terkejut."apa maksudmu?"bukan. bukan Aaron yang bertanya seperti itu. melainkan Chelsea.


"aku sudah berpisah dengan Yudha. karena memang, aku sama sekali tidak mencintainya."ucapnya dengan santai.


plak


Satu kali tamparan, seketika mendarat mulus di wajah cantik milik Naomi. dan hal itu dilakukan oleh Aaron. laki-laki paruh baya yang terkenal sangat sayang terhadap anaknya itu, untuk pertama kalinya mampu melakukan hal sekasar itu pada anak-anaknya.


Bukan hanya Naomi. Chelsea pun, juga merasa sangat terkejut. wanita paruh baya itu sampai tidak bisa berbuat apa-apa karena perasaan terkejut yang menguasai dirinya saat ini.


"ke.. kenapa Papa menamparku seperti ini?"tanya Naomi dengan nada suara terbata-bata dan juga tubuh yang bergetar hebat.


"karena kamu sudah keterlaluan Naomi. tidak cukupkah kamu saat melemparkan kotoran di wajah kami dengan perbuatan tidak bermoralmu dengan kekasih adikmu? lalu sekarang, dengan entengnya kamu berkata bahwa kalian sudah tidak memiliki hubungan lagi? bunuh saja aku. karena aku, merasa gagal mendidik anak-anakku. bagaimana kamu bisa menjadi seseorang yang memiliki sifat licik seperti ini?!"tanya Aaron dengan nada histeris.

__ADS_1


Tak lama berselang, laki-laki paruh baya itu luruh ke lantai. dengan tangisan yang masih menggema dan juga Terdengar sangat memilukan. Chelsea dengan segera, menghampiri suaminya itu dan membantunya untuk menopang tubuh.


"Papa tidak boleh seperti ini. Papa harus ingat tentang kesehatan Papa. jangan sampai, kembali masuk ke rumah sakit."ucap wanita paruh baya itu mencoba untuk memberikan semangat pada suaminya.


Sementara Naomi yang mendengar itu, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. bahkan wanita itu, bersikap acuh Tak acuh dan langsung berlalu masuk ke dalam kamar.


"kenapa Bun, kenapa harga diri keluarga kita justru dihancurkan oleh Putri kita sendiri?"tanya Aaron dengan nada lirih dan juga air mata yang mengalir dari wajah yang mulai menua itu.


Chelsea yang mendengar itu, sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. yang dapat dilakukan oleh wanita itu, hanyalah berdiam diri. seraya membantu suaminya untuk kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat sepasang suami istri paruh baya tengah menatap ke arah kamar anak mereka dengan wajah yang sangat gelisah.


"kenapa anak kita belum juga keluar dari kamarnya?"tanya sang wanita yang tak lain adalah Ajeng.


"mungkin saja, dia masih merasa kesel dengan keputusan kita itu. wajar saja, namanya juga anak muda."sahut Rafael menatap ke arah istrinya.


Membuat Ajeng yang mendengar itu, ketika menghirup udara sebanyak mungkin. setelah itu, menghembuskannya secara perlahan.


"Mami benar-benar tidak menyangka. bahwa kita, akan kembali menghadapi masalah yang sangat rumit seperti kemarin. atau bahkan, ini lebih rumit dari yang kemarin."ucap Ajeng yang mulai menyandarkan kepalanya di sandaran kepala kursi.


"tapi juga merasa seperti itu Mam. apa sebaiknya, kita merestui hubungan mereka?"tanya Rafael menatap ke arah sang istri yang juga menatapnya.


Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu."sebenarnya, sudah sejak lama mami ingin berusaha untuk keluar dari peraturan keluarga kita dengan menerima hubungan antara Zidane dan juga Asmirandah. tapi, bukankah Papi tahu jika peraturan keluarga kita tidak bisa dibantah begitu saja? aku takut, jika aku nekat merestui mereka dan membiarkan mereka menikah, maka sesepuh keluarga besar kita, akan murka. dan Mami tidak ingin hal itu sampai terjadi.

__ADS_1


__ADS_2