
Setelah berusaha untuk meyakinkan Sang Bunda, Asmirandah memutuskan untuk masuk ke dalam kamar pribadinya.
"hufftt Akhirnya bisa lolos juga."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah memutuskan untuk segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Setelah hampir setengah jam, wanita cantik itu akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dengan keadaan tubuh yang lebih segar dari sebelumnya.
drrrttt drrttt
Bertepatan dengan wanita itu selesai mengganti pakaiannya, suara ponsel terdengar di atas nakas. dengan segera, wanita cantik itu mulai menghampiri dan meraih benda pipih kesayangannya itu.
Senyuman seketika mengembang. saat mendapati nama seseorang di layar ponselnya itu.
"halo selamat malam, Ada yang bisa saya bantu?"tanya Asmirandah berpura-pura mengatakan dengan kalimat formal kepada seseorang yang ada di seberang sana.
"halo bisa bicara dengan Nona Asmirandah?"terdengar suara seseorang yang ikut menimpali candaan dari wanita itu.
Tentu saja hal itu membuat Asmirandah yang mendengarnya, seketika mengulum senyum. merasa gemas dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu.
"udah Bang, aku geli mendengar ucapanmu seperti itu."sahut Asmirandah Seraya bergidik karena membayangkan percakapan mereka terlalu formal seperti itu.
Terdengar suara gelak tawa dari sebelum sana menanggapi ucapan dari wanita itu. membuat Asmirandah, juga ikut tersenyum tipis.
" kamu lagi apa sayang?"tanya Zidan saat mereka berdua sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing yang masih menghantui mereka berdua.
"a.. aku baru saja mandi. memangnya kenapa?"tanya Asmirandah dengan raut wajah sedikit gugup. karena terlalu lama melamun. hingga membuat wanita itu, sedikit tersentak dengan pertanyaan kekasihnya itu.
"pantas saja wanginya sampai ke sini."sahut Zidane mengeluarkan gombalan seperti biasanya.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika tersipu malu. cukup lama mereka berbincang-bincang. hingga tanpa sadar, ada seseorang yang sejak tadi berada tepat di depan pintu kamar Asmirandah. entahlah untuk apa orang itu ada di sana. karena yang jelas di dalam kamar Asmirandah itu, terdapat alat peredam suara yang memang telah diaktifkan oleh wanita itu.
__ADS_1
tok tok tok
Asmirandah seketika menoleh ke arah sumber suara. saat mendengar, suara ketukan pintu di depan kamarnya.
"Bang, sudah dulu ya sepertinya ada seseorang di depan pintu kamarku."ucap Asmirandah Seraya menutup panggilan telepon itu.
Dengan perlahan, wanita cantik itu mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ke ambang pintu dan membukanya.
"Bunda, ada apa? "tanya Asmirandah Seraya menatap ibunya itu dengan raut wajah kebingungan.
"kamu nggak makan malam?"tanya wanita paruh baya itu menatap ke arah Putri bungsunya dengan seksama.
"oh ya nanti Asmirandah turun."Chelsea menganggukkan kepala dan segera berlalu dari kamar putrinya.
sementara Asmirandah, wanita cantik itu kembali menutup pintu dan mulai mengatur nafasnya agar kembali normal.
"apa Bunda mendengar percakapanku dengan Bang Zidan?"tanya Asmirandah seorang diri. Sepertinya, wanita itu lupa jika dirinya telah mengaktifkan alat peredam suara itu di kamarnya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Asmirandah segera keluar dari dalam kamar untuk menuju ke meja makan untuk menemui kedua orang tuanya yang pastinya telah menunggu.
Langkah wanita itu seketika memelan. saat tidak sengaja, kedua mata Asmirandah menatap ke arah dua orang yang ada di meja makan itu bercengkrama dengan kedua orang tuanya.
"eh sayang, sini."panggil Chelsea Seraya mana di tangan putrinya untuk ikut bergabung bersama dengan mereka.
Sementara Asmirandah, wanita cantik itu masih mematung di tempatnya. dadanya sedikit bergemuruh saat menyaksikan salah satu dari orang itu menatapnya dengan tatapan sinis.
"Yudha, Naomi kenapa diam saja? kalian tidak ingin menikmati masakan Bunda?"pertanyaan dari Chelsea itu sukses membuat Naomi dan juga Yudha yang awalnya menetap ke arah Asmirandah, seketika mengalihkan pandangannya.
"iya Bunda, kami makan."sahut mereka secara bersamaan. dengan segera, mulai meletakkan berbagai macam makanan di atas piring kosong yang ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Hal yang sama juga dilakukan oleh Asmirandah. walaupun itu dilakukan oleh Asmirandah dengan sedikit rasa takut. takut jika kakaknya itu, berkata aneh seperti sore tadi saat bertemu dengan ibunya. jika Asmirandah berhasil mengelabui Chelsea, mungkin itu karena keberuntungan saja.
Karena jika Aaron yang menghadapi semua itu, maka akan lain lagi ceritanya. Asmirandah sempat melirik ke arah sang Papa yang masih asik menikmati makanan yang ada di hadapannya saat ini.
Hingga makan malam itu selesai, semua orang yang ada di meja makan itu tidak ada yang membuka suara untuk berbincang-bincang.
"kami mau pulang ke rumah."pamit Naomi Seraya menyalami punggung tangan kedua orang tuanya itu secara bergantian.
"Papa, tolong jaga adik aku ini dengan baik. jangan sampai, keburukan yang ada dalam keluarga kita, kembali bertambah dengan perbuatan seseorang yang dengan sengaja menjalin hubungan dengan seseorang yang jelas-jelas, merendahkan keluarga kita."ucap Naomi Seraya menatap sinis ke arah adik yang dulu sangat ia sayangi itu.
degh
Jantung Asmirandah seakan ingin lepas dari tempatnya. Buru-buru, wanita cantik itu memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak kuasa melihat tatapan mengejek dari kakak kandungnya itu.
"apa yang kamu maksud?"tanya Aron yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh putri sulungnya itu.
"ah, lupakan saja Pa. kalau begitu kami permisi dulu."setelah mengatakan hal itu mereka benar-benar pergi meninggalkan rumah mewah keluarga Orlando itu.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di dalam keluarga Prakoso tengah terjadi ketegangan. karena perdebatan Zidane dan juga kedua orang tuanya yang masih mementingkan ego sendiri-sendiri.
"pokoknya sampai kapanpun juga? Mami tidak akan pernah membiarkan kamu bersatu dengan Asmirandah."ucap Ajeng dengan tatapan tajam menatap ke arah Putra tunggalnya itu.
"memangnya kenapa? bukan kah tidak ada masalah? Asmirandah itu adalah wanita baik-baik."sanggah Zidane dengan raut wajah tidak suka.
"baik-baik katamu, jika memang dia wanita baik-baik, dia tidak akan pernah menemukan kekasihnya berselingkuh dengan kakak kandungnya sendiri."Ajeng mencibir.
Zidane yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya. bagaimana Maminya bisa mengatakan tentang hal itu? padahal, jelas-jelas itu bukan kesalahan dari Asmirandah melainkan kesalahan dari dan juga calon suaminya.
__ADS_1
"itu bukan kesalahan Asmirandah. itu kesalahan Kakak dan juga laki-laki tidak memiliki peri kemanusiaan itu. jadi jangan pernah menyalahkan Asmirandah akan hal ini."ucap laki-laki itu mencoba untuk menyadarkan pikiran ibunya itu.
"pokoknya sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah membiarkan kalian bersatu."setelah mengatakan hal itu, Ajeng segera pergi dari sana.