
"kalian harus ingat satu hal. saya tidak akan pernah main-main dengan ucapan saya. jika saya mengetahui kalian membantu atau melakukan apapun yang berpotensi untuk Asmirandah melarikan diri, kalian harus siap bernasib sama seperti wanita ini."ucap Jordan setelah semua orang dikumpulkan di halaman belakang rumah itu.
Laki-laki itu menunjukkan ke arah sebuah video di mana orang itu dieksekusi dengan sadisnya. tentunya Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika tubuhnya bergetar hebat. dan pada awalnya mereka yang ingin membantu Asmirandah, seketika urung. karena mereka semua masih sayang dengan nyawa masing-masing.
Walaupun membantu itu mendapatkan pahala ataupun semacamnya, namun mereka masih memikirkan akal sehat dan juga nasib mereka sendiri.
"bagaimana apakah kalian paham?"tanya laki-laki itu menyapukan pandangan ke segala arah yang ada di sana.
"paham tuan!"setelah mengatakan hal itu, semua orang yang ada di sana diperintahkan untuk membubarkan diri.
Sementara Jordan dan yang lain, memutuskan untuk mencari keberadaan wanita itu. Jordan tidak ingin jika Asmirandah benar-benar kabur meninggalkannya. karena dapat dipastikan laki-laki itu pasti akan melakukan segala hal yang akan merugikan orang banyak jika hal itu sampai terjadi.
drrrttt drrttt
Tiba-tiba saja, ponselnya terdengar berdering. membuat laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu, segera menghentikan langkah untuk mengambil benda pipih itu.
"halo ada apa Naomi?"tanya laki-laki itu saat melihat siapa orang yang menelponnya.
("apakah kau sudah mendapatkan Di mana keberadaan wanita itu?")
"belum. memangnya, kenapa?"tanya Jordan dengan kening sedikit berkerut.
("kalau begitu, aku akan segera datang ke sana.")
Setelah mengatakan hal itu, sambungan telepon itu segera terputus. dan dengan segera, Jordan mulai melangkahkan kakinya kembali untuk mencari keberadaan wanita kesayangannya.
"akan kupastikan, kau tidak akan pernah bisa lolos dariku."ucap laki-laki itu dengan tatapan yang sangat tajam lurus ke depan.
__ADS_1
****
"Nona Asmirandah mau tinggal di mana?"tanya salah seorang dari mereka Seraya berjalan beriringan.
Saat ini Asmirandah bersama dengan dua orang laki-laki paruh baya yang mengaku sebagai anak buah dari Aaron, berjalan menyusuri sebuah gang kecil. mereka bertiga berniat akan mengantarkan Asmirandah ke sebuah tempat yang lumayan tidak bisa dijangkau oleh orang-orang besar seperti Jordan dan juga anak buahnya.
"di mana saja tuan. asalkan saya bisa terbebas dari laki-laki sinting itu."sahut Asmirandah cepat.
Wanita itu kembali menolehkan kepalanya ke arah belakang. takut jika sewaktu-waktu Jordan telah berada di belakangnya. tapi semua sepertinya berjalan dengan lancar dan juga aman.
"aaaakkhh!"
Pekikan keras, seketika menggema di jalan sempit itu. saat melihat pemandangan yang mengerikan di hadapannya saat ini.
Wanita cantik itu bahkan dengan refleks memundurkan tubuhnya beberapa langkah. hingga pada akhirnya, wanita itu terhenti saat merasakan tubuhnya bertabrakan dengan sesuatu. dengan tubuh gemetaran dan juga isakan tangis, wanita itu mulai menolehkan kepalanya ke belakang.
Namun semuanya sia-sia belaka. karena Jordan yang berada tepat di belakang wanita itu segera membekap mulutnya dan menggendongnya untuk segera keluar dari sana.
"sudah aku katakan bukan jika kau tidak akan pernah bisa lari dariku."ucap Jordan Seraya berbisik di telinga Asmirandah.
Sementara Asmirandah, wanita cantik itu hanya terdiam dengan tubuh gemetaran dan juga otak yang sedikit membeku akibat kejadian yang begitu cepat. bagaimana tidak, saat wanita itu menoleh untuk mengajak kedua laki-laki itu untuk kembali berjalan, tiba-tiba saja keduanya telah terkapar dengan leher yang terkoyak dan mengeluarkan banyak darah di sana. siapa lagi pelakunya jika bukan Jordan dan juga anak buahnya.
Tentu saja, hal itu semakin membuat Asmirandah yakin jika saat ini yang ada di hadapannya bukanlah Jordan yang ia kenal. atau mungkin, memang aslinya Jordan adalah laki-laki bengis seperti itu? dan laki-laki itu hanya memerankan perannya? Entahlah. tuk berpikir sampai sana, Asmirandah masih belum mampu. dirinya masih terlalu sok untuk mencerna semuanya.
"perketat semua penjagaan. jangan sampai, dia kembali kabur. atau nyawa kalian yang akan menjadi korban!"ucap Jordan penuh dengan penekanan saat mereka telah sampai di rumah neraka itu.
bruuakk
__ADS_1
Asmirandah dengan segera dilempar oleh Jordan di atas tempat tidur. hingga membuat wanita itu, seketika merasa sangat ketakutan.
"jangan aku mohon lepaskan aku aku ingin pulang!"ucap wanita cantik itu dengan posisi berlutut di atas tempat tidur dan juga mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Namun hal itu sama sekali tidak diindahkan oleh Jordan. karena laki-laki itu justru tersenyum lembut ke arah wanita itu. tak lama berselang, seseorang masuk ke dalam kamar itu dan menyerahkan sebuah kertas pada Jordan.
"segeralah tanda tangan di sini."tunjuk Jordan pada sudut kertas itu.
Asmirandah dengan tubuh gemetaran mulai mengambil kertas itu dan mulai membaca kalimat demi kalimat yang ada di sana. Setelahnya, wanita itu menatap Jordan dengan tatapan tidak percaya.
"kenapa kamu melakukan ini, Jordan?"tanya wanita itu dengan suara yang sangat lirih.
"karena aku sangat mencintaimu!"jawab laki-laki itu dengan nada santainya.
"tapi aku sudah menjadi istri dari kakak sepupumu."ucapnya mencoba untuk mengingatkan.
Namun, hal tak terduga justru terjadi. karena laki-laki itu justru tertawa dengan sangat kerasnya."hahaha apa kau bilang tadi? istri dari kakak sepupu? bukankah kau sangat membenci Bang Zidane? lalu kenapa kau berkata seperti itu? Seolah-olah, Kau sangat mencintai laki-laki itu!."tanya laki-laki itu dengan nada penekanan di akhir kalimatnya.
Sesaat, Asmirandah menundukkan kepala. Karena Wanita itu juga sempat berpikir dirinya sangat membenci Zidane. Namun ternyata, Itu adalah sebuah kesalahan. karena pada kenyataannya, wanita itu benar-benar mencintai laki-laki yang memiliki senyum manis itu.
Hanya saja semuanya tertutup akibat rasa kesal dan juga ikut karena mendadak menjadi istri laki-laki itu dan melahirkan anak.
"tidak aku benar-benar mencintai Bang Zidane. jadi aku mohon, tolong lepaskan aku!"wanita itu kembali memohon.
Sementara Jordan, laki-laki itu justru tersenyum dengan sangat lebar. kemudian dengan perlahan, mulai mengusap air mata yang membasahi wajah wanita itu.
"sampai kapanpun juga, aku tidak akan pernah membiarkanmu kembali bersama dengan laki-laki itu. karena sebentar lagi, kita akan menikah."setelah mengatakan hal itu, Jordan segera mendaratkan benda kenyal miliknya beradu dengan bibir mungil memiliki Asmirandah.
__ADS_1
Terjadi pemberontakan di sana. namun, tenaga Jordan yang lebih kuat dari Asmirandah, tentu saja membuat wanita itu kalah dan akhirnya pasrah. dalam hati, Wanita itu sudah tidak bisa mendeskripsikan dirinya sendiri. entah apa yang pantas untuk penyebutan tubuhnya saat ini. hidupnya benar-benar sudah hancur.