
("bagaimana apakah mereka masih meragukanmu?")
"tidak Mi, kedua manusia renta itu sudah tidak mau mencurigai Zidane lagi. sepertinya Oma Keisha dan Opa Galang, sudah benar-benar mempercayai aku dan juga cerita yang telah aku bangun itu.
Terdengar suara helaan nafas panjang dan juga lega dari seberang sana. ("andai saja Mami bisa ikut, mungkin Mami tidak akan pernah merasa begitu rindu pada cucu Mami itu. tapi ya mau bagaimana lagi. yang terpenting, kamu sampaikan salam rindu Mami pada putramu itu.")
"iya Mami Tenang saja Zidane akan menyampaikan salam Mami itu pada Haidar."ucapnya Seraya terkekeh kecil saat melihat raut wajah cemberut dari wanita yang berhasil melahirkannya itu.
Setelah selesai berbincang-bincang cukup lama, panggilan pun terputus. dan bersamaan dengan itu, mobil yang ditumpangi oleh Zidane telah sampai di depan sebuah bandara internasional di kota itu.
Dengan langkah tergesa-gesa laki-laki yang memiliki wajah manis itu, segera masuk menaiki pesawat pribadi. karena memang, Zidane menggunakan pesawat pribadi untuk sampai ke negara tujuannya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 15 jam, pada akhirnya laki-laki yang memiliki wajah manis itu telah sampai di negara tujuannya dengan selamat. setelahnya Zidane segera dijemput oleh mobil pribadinya.
"Ayah!"teriak Haidar yang semakin lama semakin lancar untuk berbicara dan juga berjalan. Hal itu membuat laki-laki itu, tersenyum dengan begitu bangganya. karena anaknya ini adalah merupakan salah satu anak spesial. bagaimana tidak spesial, Haidar terlahir satu bulan lebih awal. tapi perkembangan dari bocah kecil itu, sudah sangat signifikan bahkan lebih cepat dari anak-anak normal seusianya.
Dan Hal itu membuat kebanggaan tersendiri untuk Zidan. karena pada awalnya, laki-laki itu merasa takut jika putranya akan tertinggal dengan teman-temannya. Namun ternyata ketakutannya itu benar-benar tidak terjadi dan hanya menjadi ketakutan semata.
"Yayah tok lama banet te tininya? Tan Haidal tadi tanen?"ucap laki-laki kecil itu dengan wajah cemberut. hingga membuat Zidan yang mendengar itu, seketika tertawa pelan karena merasa begitu gemas dengan tingkah laku yang dilakukan oleh putranya itu. apalagi saat bocah kecil itu, melakukan protesnya.
"maafkan ayah ya sayang, Ayah sedang sibuk mencari uang untuk Haidar. nanti kalau Ayah sudah memiliki uang banyak, kita akan jalan-jalan. Haidar mau kan?"tanya Zidane pada putranya itu.
"mau atu mau!"ucapnya penuh dengan rasa girang. kembali, Zidane tertawa dengan begitu lepasnya saat melihat raut wajah menggemaskan dari Putra kesayangannya itu
__ADS_1
'ayah janji, sebisa mungkin Ayah akan membuatmu bahagia. walaupun, itu tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran Mamamu di sisi kita.'batin Zidane teriris perih.
Memang laki-laki itu akan begitu rapuh saat mengingat putranya itu sudah kehilangan figur seorang ibu di usianya yang bahkan baru akan menginjak 2 tahun. Haidar memiliki Ibu. Tapi bocah kecil itu, seperti tidak memilikinya sama sekali. akibat kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak pandai untuk bersyukur.
"tok Yayah nanis ? Yayah atit ya,"tanya bocah kecil itu dengan nada suara yang begitu menggemaskan. hingga rasanya, Zidane ingin sekali mencium dan menggigitnya karena merasa begitu gemas dengan bocah kecil itu.
Perlahan tapi pasti, laki-laki berwajah manis itu pun menggelengkan kepalanya."enggak ayah enggak sakit kok. ayah baik-baik saja."setelah mengatakan hal itu, Zidane segera membawa tubuh mungil putranya itu untuk menuju ke ruang bermain yang memang telah dipersiapkan laki-laki itu jauh-jauh hari.
Di dalam sana Haidar dan juga Zidane bermain dan tertawa dengan begitu lepas. karena memang, laki-laki berwajah manis itu akan menghabiskan waktunya bersama dengan Putra kesayangannya itu. karena dalam satu bulan ini, Zidane hanya bisa kunjungi putranya itu satu bulan dua hari saja. itu dilakukan oleh Zidane, agar tidak mendapatkan kecurigaan pada orang-orang yang berada dalam keluarga Prakoso.
Karena pada awalnya, laki-laki yang berwajah manis itu menginginkan satu minggu dua hari. Namun ternyata hal itu sama sekali tidak bisa dia lakukan. mengingat resikonya terlalu tinggi.
****
"i...ini benar-benar aku?"tanya wanita itu dengan nada suara yang begitu lirih dan juga ada suara terbata-bata.
Seakan-akan dirinya merasa tidak percaya jika wajahnya telah benar-benar berubah 180 derajat.
tes
Satu bulir bening seketika luruh keluar dari dalam kedua bola matanya karena mendapat kenyataan pahit seperti itu.
Ceklek.
__ADS_1
Atensi dari wanita itu seketika teralihkan saat mendengar suara pintu yang dibuka dari luar. dan dengan langkah tergesa-gesa, wanita itu segera mengusap air mata yang sudah membenci wajah cantiknya mungkin ini telah berbeda dari sebelumnya.
"bagaimana apakah kamu suka dengan wajah barumu itu?"tanya Jordan dengan senyuman yang begitu mkerekah.
Asmirandah dengan segera pun mengatakan kepala. dan tak lupa, wanita cantik yang telah merubah semua wajahnya itu tersenyum kecil. sungguh saat ini, wajah dari wanita itu benar-benar tidak bisa dikenal oleh siapapun. bahkan mungkin pada Asmirandah sendiri.
"a...aku suka dengan hasilnya. terima kasih"setelah mengatakan hal itu, wanita cantik itu kembali mengusap air matanya yang hendak jatuh.
Tak lama berselang terdengar suara bayi yang tengah berceloteh riang. Hal itu membuat Asmirandah yang mendengarnya, seketika menoleh ke arah sumber suara. senyumnya benar-benar merekah dan tidak dapat disembunyikan lagi saat melihat bagaimana putrinya itu ternyata tumbuh dengan baik.
"apakah boleh aku menggendongnya?"tanya Asmirandah meminta izin.
"Tentu saja boleh dia kan juga anakmu."sahut Jordan Seraya memeluk pinggang dari istrinya itu dengan erat.
Asmirandah seketika tersenyum lebar. wanita yang kini memiliki tahi lalat di pipi itu, langsung menggendong tubuh mungil putrinya dan sesekali akan bercanda dengan gadis kecil itu.
"oh ya beberapa minggu lagi, kita akan melakukan proses pernikahan ulang yang akan disaksikan oleh keluargaku. apakah kamu sudah siap?"tanya laki-laki yang memiliki Jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu pada Asmirandah.
Dengan sangat terpaksa, wanita cantik itu pun menganggukkan kepala. kemudian kembali menatap ke arah putrinya itu dengan perasaan campur aduk. tak lama berselang, Asmirandah teringat akan sesuatu.
"lalu bagaimana tentang anak ini? Bukankah mereka tahunya kita akan menikah? lalu anak ini?"tanya Asmirandah dengan raut wajah penasaran.
"itu masalah gampang."dengan santainya, Jordan berkata seperti itu. membuat Asmirandah sedikit menyipitkan matanya.
__ADS_1
"jangan bilang kau akan---"ucapan Asmirandah terhenti saat mendapatkan sentilan kecil di dahinya.