Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 246


__ADS_3

Sementara itu di gedung yang terdapat di tengah hutan itu, satu persatu dari orang-orang jahat itu mulai membuka matanya secara perlahan.


"aaaaarrgghhh!"Oma Keisha seketika mengerang kesakitan saat merasakan kepalanya yang begitu sangat pusing. wanita tua itu seketika langsung terduduk setelah bayang-bayang yang menghampiri ingatannya itu, muncul ke permukaan.


"di mana mereka?!"teriakan dari wanita sepuh itu sukses membuat orang-orang yang ada di sana juga ikut terbangun. dan seperti keadaan pada awalnya, mereka semua juga memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


"kenapa pusing sekali?"tanya mereka semua hampir bersamaan. "apa yang terjadi sebenarnya?"tanya Garda Seraya menyentuh kepalanya yang terasa pusing.


"aku juga tidak tahu kenapa kita bisa seperti ini!"sahut Sahara Seraya ikut menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut.


"mereka semua ada di mana?!"tanpa memperdulikan keluhan dari anak menantunya, Uma Keisha bertanya sekali lagi. wanita itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan mencari keberadaan para tawanannya.


"aaaaarrgghhh! sialan berani-beraninya mereka kabur!"teriak wanita tua itu dengan nada yang sangat murka.


Kedua bola mata dari wanita tua itu seketika berubah memancarkan sinar yang begitu mengerikan. membuat siapapun yang melihatnya, pasti akan merasakan takut luar biasa. dan itu yang dialami oleh Rafael, Garda, dan juga Sahara. secara serempak manusia-manusia paruh baya itu memutuskan untuk melangkah mundur karena mereka tidak ingin menjadi sasaran dari manusia mengerikan seperti wanita tua yang ada di hadapannya saat ini.


"segera cari keberadaan mereka! dan bawa mereka hadapanku. terserah kalian mau membawa mereka menggunakan apa. asal, jangan buat mereka mati! yang terpenting, mereka harus ada di hadapanku dan mencium kakiku!"perintah wanita itu penuh dengan penekanan pada orang-orang yang ada di sana.


Membuat mereka serempak langsung bergegas untuk menuju yang dimaksud oleh wanita tua itu. walaupun mereka semua tidak mengetahui di mana pasti keberadaan ketiga tawanan itu. yang terpenting saat ini, mereka dapat terlepas dari manusia seperti itu.


"kita pulang sekarang!"perintah wanita tua itu pada ketiga anggota keluarganya. serempak ketiganya seketika melakukan kepala dan langsung mengikuti langkah dari wanita tua yang memimpin jalan.


"benar-benar sangat mengerikan sekali."gumam Sahara yang ternyata didengar oleh Garda.

__ADS_1


Membuat laki-laki itu, seketika langsung menoleh ke arah sang istri. kemudian, ikut menganggukkan kepala. karena memang, apa yang dikatakan oleh istrinya itu adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dipungkiri.


Seketika perasaan sesal langsung menyeruak di dalam hati milik Garda. karena laki-laki itu yang memaksa Sahara untuk masuk ke dalam keluarganya. andai saja dulu dia tidak melakukan segala hal itu, mungkin putranya tidak akan merasakan kesakitan seperti ini.


****


Bugh


plak


Duaaarr!!


pyaar!!!


Darah segar ketika langsung mengalir dari kepala laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu. sementara Sahara, wanita paruh baya itu sudah histeris meronta-ronta ingin dilepaskan untuk menghampiri dan menyelamatkan Putra tunggalnya itu.


Walaupun merasakan kesal yang luar biasa karena sudah berani untuk membohongi dirinya, akan tetapi Sahara tidak akan pernah tega untuk membiarkan putranya itu kesakitan.


"lepaskan aku aku ingin menemui dan menyelamatkan Putraku!"ucap Sahara meronta-ronta dalam pelukan Garda.


Sementara laki-laki itu masih mencoba untuk menenangkan perempuan yang telah Ia nikahi selama puluhan tahun itu. karena Garda tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya jika istrinya itu nekat menghampiri dan menolong putranya sekarang. sebenarnya laki-laki itu juga merasa sangat miris saat melihat bagaimana penampakan dari putranya setelah diajar habis-habisan oleh sang ibu.


Namun Garda yakin jurusan adalah laki-laki yang sangat kuat. laki-laki itu tidak akan mudah tumbang hanya karena mendapatkan siksaan seperti itu. Karena laki-laki paruh baya itu diam-diam sudah melatih putranya agar lebih kuat dari orang-orang sekitar. dan tentunya itu tidak diketahui oleh keluarga dari Prakoso. karena jika hal itu sampai terjadi, akan terjadi kerusuhan yang lebih besar.

__ADS_1


"kau tenang saja Sahara! Putra kita itu adalah laki-laki yang sangat kuat. Jadi, Kau tidak perlu mengkhawatirkannya."ucapnya penuh dengan penekanan menatap ke arah sang istri yang masih tidak ingin diam.


"tapi dia Putraku aku yang melahirkannya Aku tidak ingin siapapun mencoba untuk menyakiti Putraku itu termasuk juga dengan ibumu!"ucapnya tak kalah tajam menatap ke arah sang suami dan mencoba untuk menepis tangan kekar dari laki-laki itu.


Namun hal itu tentu saja tidak berhasil. justru cengkraman dari Garda, semakin lama semakin kuat.


"aku mohon lepaskan aku."ucapnya Seraya menangis sesungguhkan.


Garda seketika menggelengkan kepalanya. "kamu jangan bersikap bodoh seperti ini. Jika kamu ingin mendekati dia, maka nyawamu yang akan terancam dan aku tidak ingin akan hal itu terjadi."ucapnya masih mencoba untuk menenangkan wanita itu.


Sahara seketika menatap tajam ke arah sang suami."lalu maksudmu, Kau membiarkan Putra kita yang akan menjadi tumbal dari kekejaman wanita itu?"tanya Sahara dengan tatapan semakin menghunus dan tepat mengenai jantungnya.


Garda seketika menggilingkan kepalanya."bukan seperti itu maksudku. hanya saja, Jordan adalah seorang laki-laki dan dia pasti lebih kuat darimu."ucapnya Seraya membawa sang istri pergi menjauh.


Di depan sana, rumah Keisha masih mengamuk seperti orang yang tidak waras beberapa kali menghantamkan benda yang terbuat dari kaca ke kepala dan juga tubuh milik Jordan. hingga membuat laki-laki itu berlumuran darah dengan luka-luka yang begitu mengerikan.


Namun sepertinya, hal itu tidak dirasa oleh Jordan. karena laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu masih saja terdiam saat mendapatkan pamukan yang begitu fatal dari Oma Keisha.


"sekarang katakan padaku Di mana keberadaan wanita itu?"tanya wanita tua itu Seraya mencengkeram kerah baju milik cucu laki-lakinya itu.


Jordan masih saja terdiam. namun diam-diam, kedua tangan dari laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu mulai terkepal dengan sangat erat. di dalam bola matanya, seperti menyiratkan sebuah amarah yang luar biasa.


Laki-laki itu menunggu waktu yang sangat tepat untuk melakukan sesuatu yang akan membuat wanita tua itu terdiam.

__ADS_1


__ADS_2