
beberapa saat kemudian,...
karena Naomi dan juga Yudha tidak menemukan keberadaan dari dua manusia yang tengah mereka cari, pada akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke negara asal mereka. karena menurutnya, percuma juga mereka berada di sini jika tidak menemukan fakta yang menarik.
"ini kenapa mereka tidak ada di negara masing-masing?"tanya Naomi yang masih menatap dengan ekspresi wajah tidak percaya. Karena Wanita itu yakin jika adik kandungnya itu tengah berada di negara ini.
Mana mungkin ibunya berani untuk membohonginya. karena wanita paruh baya itu, terkenal dengan sifat jujurnya. apalagi terhadap kedua putrinya. hal itu tidak akan pernah terjadi.
"atau jangan-jangan, mereka memang sengaja bertemu dan menyembunyikan sesuatu dari kita?"tanya Yudha menebak. tak terasa, amarah di dalam dadanya meluap-luap saat membayangkan sesuatu yang bergerak liar berputar-putar di dalam otaknya.
"lebih baik, kita pulang dulu ke rumah. nanti setelah kondisinya aman, Kita akan menyusun rencana untuk mencari keberadaan dua manusia itu."ucap Naomi memberikan saran.
Dengan menganggukkan kepala, Yudha akhirnya menyetujui apa yang dimaksud oleh wanita cantik itu.
****
Di sinilah mereka sekarang. di sebuah bandara di kota itu."apakah kau ingin makan sesuatu?"tanya Yudha saat melihat Naomi tampak meringis entah karena apa. laki-laki itu mengira, wanita yang sempat berstatus sebagai istrinya itu tengah kelaparan. sehingga membuat wajahnya, memerah bak kepiting rebus.
"boleh!"sahut Naomi dengan berjalan tergesa-gesa mendahului Yudha. membuat laki-laki itu sejenak terdiam. sebelum akhirnya, mengikuti langkah Naomi Seraya menggelengkan kepala lemah.
Selesai makan, mereka segera kembali ke rumah masing-masing untuk mencari cara agar dapat menemukan Asmirandah dan juga Zidane yang entah berada di mana saat ini.
"ingat kalau ada sesuatu hal yang mencurigakan, jangan lupa untuk menghubungiku."pesan Yuda saat mereka telah sampai di sebuah persimpangan yang memisahkan antara kediamannya juga kediaman wanita itu.
"kau tenang saja."sahut wanita itu dengan nada sedikit malas. lelah juga setiap hari diingatkan oleh laki-laki itu.
__ADS_1
**
"Kau dari mana saja Yudha?"baru saja laki-laki itu membuka pintu rumah kedua orang tuanya, indra pendengarannya menangkap sebuah suara seseorang yang tengah bertanya kepadanya.
Membuat laki-laki itu seketika menghentikan langkahnya. mendapati kedua orang tuanya tengah menatapnya dengan tatapan yang begitu bengisnya.
Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Yudha. laki-laki itu tetap melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar pribadi. tanpa memperdulikan teriakan dan cacian yang terlontar dari kedua orang tuanya terutama sang Ayah.
"kenapa kita mendapatkan cobaan seberat ini?"tanya Celine Seraya terduduk lemas.
"Papa juga tidak tahu. kenapa bisa mendapatkan hukuman dari Tuhan seberat ini. perasaan Papa, dulu sewaktu muda Papa tidak pernah melakukan hal semacam ini, tapi kenapa semuanya bisa seperti ini?"tanya Indra yang merasa sudah sangat frustasi dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh anak laki-lakinya itu.
Mereka berdua terdiam seperti tengah menyelami sebuah lautan yang sangat dalam. "andai saja dulu laki-laki itu tidak melakukan suatu hal yang bodoh, pasti sekarang tidak akan ada kesedihan di antara keluarga kita."ucap Indra menatap ke arah istrinya itu.
tiba-tiba saja sebuah ide terbersit di pikiran Celine. hingga membuat wanita paruh baya itu, seketika bangkit dan menatap lurus ke depan.
"Mama harus menemui Asmirandah dan mengatakan semuanya. siapa tahu saja, dia dapat membantu Putra kita kembali ke jalan yang benar."sahut Celine dengan tatapan sedikit berbeda. ada sedikit cahaya dari bola mata wanita paruh baya itu.
"jangan bilang kalau mama ingin menyatukan Yuda dan juga Asmirandah kembali?"tanya laki-laki paruh baya itu mencoba untuk memastikan tebakannya.
"apa salahnya jika memang mereka berjodoh,"sahut Celine dengan senyuman.
"kau tidak usah berbuat gila!"Sentak Indra merasa sangat geram. bisa-bisanya wanita yang telah menemaninya selama puluhan tahun itu, memikirkan sebuah ide gila.
Mana mungkin keluarga Orlando itu mau menerima kehadiran dari keluarganya yang jelas-jelas telah tercoreng luar dan dalam.
__ADS_1
"mereka tidak akan pernah mau menerima kita. jangankan menerima, melihat kita saja mereka pasti akan langsung merasa jijik."sambung laki-laki paruh baya itu sedikit menohok.
"itu tidak akan ada artinya Jika mereka saling mencintai."sahut Celine mencoba untuk tegar. walaupun di dalam hatinya saat ini, wanita paruh baya itu membenarkan apa yang dikatakan oleh sang suami.
Namun perlu diingat, bahwa keluarga dari Indra dan juga Celine Peter itu, tidak memiliki tradisi yang aneh-aneh seperti yang ditunjukkan oleh keluarga Prakoso.
Yap hampir semua keluarga di negara itu sudah mengetahui kebiasaan anak yang ditunjukkan oleh keluarga Prakoso. termasuk mem blacklist sebuah keluarga yang track recordnya telah buruk. mereka tidak segan-segan mendepak keluarga itu dari jajaran keluarga yang harus dihindari.
"terserah Mama saja!"Indra merasa sangat lelah karena terus berusaha untuk menyadarkan istrinya itu. dan pada akhirnya, laki-laki paruh baya itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk mengistirahatkan fisik dan juga mentalnya.
Sementara Celine, wanita paruh baya itu seketika tersenyum cerah. dirinya berharap jika apa yang ia lakukan saat ini membuahkan hasil yang maksimal.
"semoga ini memang jalan keluarnya."batin wanita itu berjalan menyusul sang suami.
***
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita yang baru saja turun dari dalam taksi. siapa lagi wanita itu jika bukan Naomi.
Wanita itu masih memandang tempat tinggalnya dengan seksama. memastikan apakah ada sesuatu yang aneh atau tidak. setelah dirasa semua aman-aman saja, Naomi segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
"bagaimana apakah kamu sudah siap Asmirandah?" Sayup-sayup, Naomi mendengar suara seseorang yang memanggil nama sang adik. membuat langkah wanita itu seketika terhenti.
Naomi hendak memperjelas Indra pendengarannya dengan menempelkan telinga di daun pintu. Namun sepertinya Dewi Fortuna masih belum berpihak kepadanya. Karena tanpa sadar, wanita itu menyenggol sebuah vas bunga yang berada tepat di hadapannya.
pyaar
__ADS_1
"Astaga! sialan!"umpat wanita itu dengan sangat kesal. karena sudah merasa kepalang tanggung, pada akhirnya Naomi memutuskan untuk membuka pintu rumah itu. dan mendapati, kedua orang tuanya tengah duduk dengan sesekali berbincang-bincang.
Sejenak, Naomi terdiam. wanita itu mencoba untuk mengamati ekspresi ataupun gerak-gerik dari kedua manusia paruh baya yang ada di hadapannya saat ini. namun Lagi Dan Lagi, tidak ada sesuatu yang mencurigakan di antara mereka. hingga membuat Naomi kembali kesal.