
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan kedua orang tuanya, Asmirandah memutuskan untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya di kamar pribadi wanita itu.
"istirahat yang nyenyak sayang. tidak usah memikirkan sesuatu yang belum pasti. karena Bunda dan Ayah, akan selalu berada di belakangmu untuk merangkul. Jadi, jangan kamu terlalu bersedih dengan memikirkan masalah itu. toh jika nantinya kamu memang berjodoh dengan Zidane, kalian pasti akan kembali bagaimanapun caranya."ucap wanita paruh baya itu mencoba untuk menasehati Putri bungsunya.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika menyunggingkan senyuman termanisnya. dan tak lama berselang, wanita cantik itu menganggukkan kepala.
"Ya sudah. kalau begitu, Bunda keluar dulu. nanti kalau kamu butuh apa-apa, jangan lupa langsung pencet tombol yang ada di atas nakas kamu itu."tunjuk Chelsea pada putrinya. dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Asmirandah.
Setelah memastikan sang Ibu keluar dari dalam kamar, Asmirandah dengan segera menghirup udara sebanyak mungkin. sebelum akhirnya, wanita itu menghembuskannya secara perlahan.
"semoga kalian akan terima dengan kesalahan yang aku perbuat saat ini. aku benar-benar tidak bisa berpisah dari Bang Zidane."ucapnya dengan lirih.
Setelah puas meratapi nasib, Asmirandah memutuskan untuk membersihkan tubuhnya. karena memang, sinar matahari yang sangat terik itu, membuat tubuhnya sedikit lengket. dan pada akhirnya, Asmirandah memutuskan untuk berendam untuk merelaksasikan tubuhnya.
drrrttt drrttt
Tepat saat wanita itu keluar dari dalam kamar mandi, benda pipihnya seketika berdering. dan dengan langkah hati-hati dan juga menahan nafas, wanita itu mulai melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang menelpon saat ini.
Hembusan nafas lega, ketika langsung ia lepaskan. saat melihat siapa yang menelponnya saat ini.
"halo Abang!" sapa wanita cantik itu dengan ceria. tak lupa, Asmirandah memasang alat peredam suara yang ada di dalam kamar pribadinya itu.
"halo sayang, kamu sedang apa ?"tanya Zidane dari seberang sana.
"Ini aku baru selesai mandi Bang. memangnya kenapa?"tanya Asmirandah dengan raut wajah gugup.
"nggak ada apa-apa. cuman kangen aja pengen lihat wajah istriku."jawab Zidane menggoda.
__ADS_1
bluusshh
Seketika itu pula, wajah cantik dari Asmirandah seketika memerah karena menahan rasa grogi akibat dari bualan laki-laki yang ada di seberang sana.
"nanti malam kita ketemu ya?"pinta Zidane dari seberang sana. dan hal itu langsung disetujui oleh Asmirandah.
Karena entah mengapa, wanita itu juga merasakan hal yang sama yaitu sangat merindukan laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu.
"jangan lupa dandan yang cantik."
bluusshh
Sekali lagi, Asmirandah dibuat salah tingkah oleh sikap dan ucapan dari Zidane itu. hingga membuatnya, mendadak sedikit merasa kaku.
"I...iya."sahut Asmirandah dengan raut wajah gugupnya. tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu dari depan kamarnya. tentu saja hal itu membuat Asmirandah yang mendengarnya, segera memberitahukan pada sang suami.
"hari ini masak apa?"tanya Asmirandah menatap ke arah wanita yang telah melahirkannya itu.
"ati ampela balado kesukaan kamu."jawab Chelsea dengan senyuman. membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika berbinar.
'yummy,'batin Asmirandah girang. dengan langkah cepat, wanita itu segera berlari untuk menuju ke meja makan. dimana di sana, sudah ada Aaron yang hendak mencomot makanan kesukaan Asmirandah itu.
"no Papa!"ucap Asmirandah sedikit galak dengan menarik mangkok yang berisi balado di ampela itu dari hadapan laki-laki paruh baya itu.
Membuat Aaron yang mendengar itu, ketika membulatkan kedua mata. dan tak lama berselang, laki-laki paruh baya itu mencebik.
"dikit aja Sayang masa nggak boleh sih?!"tanya laki-laki itu dengan raut wajah memelas. berharap, Putri bungsunya itu bersedia untuk memberikan sedikit menulis zat yang ada di dekapannya saat ini.
__ADS_1
Namun semua itu sia-sia. karena Asmirandah dengan garang, menggelengkan kepalanya. membuat Aron yang melihat itu seketika memalingkan wajah karena menahan kesal akibat ulah dari Putri bungsunya itu.
Sementara Asmirandah, wanita cantik itu seperti selayaknya anak kecil yang mendapatkan makanan. bagaimana tidak seperti anak kecil, racikan hati ampela itu sudah berada di dalam dekapannya. Sesekali, wanita cantik itu akan menikmatinya dengan menatap ke arah sang Papa dengan raut wajah angkuh.
Sementara Chelsea yang melihat itu, seketika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya."sudahlah Pah. lebih baik, Papa menikmati makanan ini saja. lagi pula makanan yang berlemak itu tidak baik untuk orang seusia Papa."ucap Chelsea mencoba untuk menengahi.
Aaron yang mendengarnya, seketika mendelik tidak suka. enak saja dia yang masih perkasa seperti itu disamakan dengan lansia. batin laki-laki itu menggerutu kesal.
Namun demikian, laki-laki itu tetap menikmati makanan yang ada di hadapannya saat ini. sementara Asmirandah, wanita itu sesekali akan menatap ke arah sang Papa. dan tak lama berselang, terbersit rasa iba yang tiba-tiba saja menyeruak masuk ke dalam hatinya.
Dengan perlahan tapi pasti, wanita itu segera mengambil beberapa potong hati ampela bersama dengan kuah balado yang memang sengaja dibuat menggenang oleh Chelsea.
"ini buat Papa. kasihan juga lihat laki-laki kesayangan aku ini cemberut seperti itu."goda Asmirandah Seraya terkekeh pelan. sementara Aaron mendengus kesal.
Namun demikian, laki-laki paruh baya itu tetap menikmati makanan yang sebenarnya juga merupakan makanan kesukaannya itu. hanya saja, setiap istrinya itu membuatkan menu itu, akan langsung ke duluan dengan Asmirandah dan juga Naomi. memikirkan hal itu, mendadak Aaron merindukan suasana rumah yang seperti dulu.
Andai saja, pengkhianatan itu tidak terjadi, andai saja tidak ada rasa iri di hati salah satu dari putrinya, mungkin suasana seperti itu masih ia jumpai sampai saat ini. namun kenyataannya, semua telah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan seperti semula.
Selepas selesai makan, Asmirandah memutuskan untuk kembali ke kamarnya. karena entah mengapa, wanita itu saat ini merasa begitu lelah dan juga mengantuk yang luar biasa.
Beberapa saat kemudian,...
Asmirandah mulai membuka matanya. dan setelah itu, wanita itu segera mengambil ponsel yang ada di atas nakas untuk melihat pukul berapa sekarang.
"ternyata masih lama."gumam wanita itu Seraya mulai merebahkan tubuhnya kembali. tak lama berselang, sebuah ingatan mendadak muncul di dalam kepalanya.
Membuat wanita cantik itu, kembali terduduk di atas tempat tidur."sebaiknya aku merawat kulitku dulu. agar nantinya, Bang Zidane tidak merasa kecewa dengan penampilanku."ucap wanita itu Seraya tersenyum lebar. entah mengapa, wanita itu sedikit merasa berbunga-bunga lantaran akan bertemu dengan laki-laki pujaan hatinya itu.
__ADS_1