
Setelah berbincang-bincang cukup lama dengan wanita paruh baya itu, Zidane memutuskan untuk berbaring mengistirahatkan otaknya ya sudah beberapa hari ini bekerja untuk mencari keberadaan istrinya.
Tak lama berselang, seseorang tanpa masuk ke dalam kamarnya. siapa lagi orangnya jika bukan Tiara. wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, berdiri dengan senyuman yang sangat manis tepat di hadapan Zidane.
Hingga membuat laki-laki itu, seketika menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam dan juga semakin tidak mengenali siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"mau apa kau ke sini lagi?!"tanya laki-laki itu dengan nada sedikit membentak.
Namun hal itu sama sekali tidak indahkan oleh Tiara. wanita itu tetap melangkahkan kakinya untuk mendekati laki-laki yang telah resmi menjadi suaminya itu. membuat Zidan yang melihat itu, sejenak terdiam karena otak dan badannya terlalu merasa terkejut melihat tindakan dari wanita itu.
"bukankah semenjak kita menikah beberapa hari yang lalu kita belum pernah melakukan hal ini? apakah kau tidak ingin melakukannya denganku?"tanya wanita itu dengan ekspresi wajah menyeringai.
"jangan pernah kurang ajar!"ucap laki-laki itu Seraya mendorong tubuh Tiara untuk menjauh dari sana.
"kenapa? apakah kau masih menginginkan wanita itu?"tanya Tiara dengan garangnya. bahkan untuk menyebut namaNya saja, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu merasa sangat alergi. Padahal hubungan mereka, sempat sedekat nadi. namun sekarang, sejauh matahari. dan itu hanyalah satu alasannya. yaitu rasa sakit hati yang luar biasa.
"sadarlah Tiara! kita tidak bisa seperti ini. aku ini, adalah..."ucapan dari laki-laki itu seketika terhenti saat mendengar sahutan dari Tiara.
"adalah apa? Kakak mau bilang kalau kakak adalah suami dari Asmirandah? tapi nyatanya, Wanita itu telah menghianati kakak! dan bahkan, telah menghancurkan impianku!" bentak Tiara dengan tubuh bergetar hebat.
"seharusnya, jika memang dia tidak menginginkan hal itu, dia bisa lari dari Jordan atau apapun itu. atau jangan-jangan, memang selama ini dia tidak pernah memiliki rasa padamu. dan saat ucapan dia yang ingin membantuku itu, hanyalah kebohongan semata." lirihnya dengan cairan bening yang mengalir deras dari kedua bola mata indahnya itu.
Tubuh Zidane, seketika membeku. dan sesaat laki-laki itu terdiam mencerna apa yang dikatakan oleh wanita yang menjadi istrinya saat ini.
__ADS_1
"apa maksudmu?"tanya laki-laki itu dengan pandangan mata yang sudah tidak terarah dan terkesan sangat kosong.
"hehehe apa Kakak pikir aku tidak tahu jika Jordan pernah menyatakan perasaannya pada Asmirandah?"tanya wanita itu Seraya tersenyum miring.
"kapan?"
Bukannya menjawab, Tiara justru malah bangkit berdiri dan berjalan membuka pintu balkon rumah itu.
"aku tahu Jordan pernah mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai wanita itu. bahkan berniat ingin merebutnya darimu saat kalian masih menjadi sepasang kekasih. namun dengan sekuat tenaga aku mampu untuk meyakinkan bahwa mungkin Asmirandah bukanlah jodohnya. dan itu aku pikir, adalah suatu keberhasilan. karena semenjak saat itu, Jordan tidak lagi mengganggu Asmirandah. tapi sekarang, aku mulai yakin kalo mereka memiliki perasaan satu sama lain."paper wanita itu masih dengan deraian air mata yang mulai keluar dengan sangat deras membasahi wajahnya.
Limbung? tentu saja tubuh dari Zidane seketika limbung saat mendengar pemaparan dari wanita itu.
"itu pasti tidak mungkin. karena Asmirandah, masih sangat mencintaiku."ucapnya Seraya menggelengkan kepala.
Tiba-tiba saja laki-laki itu tersentak saat mendengarkan suara tawa yang begitu menggelegar dari Tiara.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, laki-laki berwajah manis itu segera keluar dari dalam kamar. meninggalkan Tiara yang masih mematung di tempatnya dengan wajah yang banjir air mata.
"kau sudah menghancurkan hatiku Asmirandah. Maka jangan salahkan aku, jika aku juga menghancurkan hatimu bahkan akan lebih dari itu!"setelahnya Tiara memutuskan untuk merebahkan dirinya di atas tempat tidur. meresapi rasa sakit yang menguar dari dalam hatinya.
***
"ini dia anaknya!" seru Ajeng Saat melihat Zidane baru saja keluar dari dalam kamarnya. membuat laki-laki itu, seketika menatap ke arah kedua orang tuanya dengan tatapan bertanya.
__ADS_1
"ayo antarkan Mami untuk ketemu dengan putramu."ucap wanita paruh baya itu Seraya menarik tangan putranya untuk menuju tempat tinggal laki-laki itu.
Sementara Zidane sendiri, tampak sekali Jika laki-laki itu sangat syok. Namun demikian, Zidane tetap mengikuti langkah dari wanita paruh baya itu.
Tak membutuhkan waktu lama, Zidane juga Ajeng Akhirnya sampai juga di sebuah rumah minimalis. dengan langkah cepat, laki-laki berwajah manis itu segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu.
"di mana Haidar?"tanya laki-laki manis itu Seraya menatap ke sekeliling rumah itu.
"Tuan kecil ada di dalam kamar."jawab salah satu pekerja itu Seraya membungkuk hormat.
Zidane dan juga Ajeng yang mendengar itu, segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan bayi yang berwarna biru dan juga putih itu.
Sebelum menyentuh bayi mungil itu, Zidane juga Ajeng terlebih dahulu mensterilkan tubuh mereka masing-masing. karena sampai saat ini, baby Haidar masih dipantau oleh ahlinya.
"ini cucu Mami?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menatap ke arah bayi mungil itu dengan tatapan mata berkaca-kaca.
Sementara Zidane yang mendengarnya, hanya mengangguk. kemudian dengan perlahan-lahan, mulai mengangkat tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam pelukan.
"halo jagoan Ayah, bagaimana kabarmu hari ini apakah kamu baik-baik saja?"tanya laki-laki berwajah manis itu Seraya memberikan beberapa kali kecupan di wajah mungil itu.
Tak terasa, cairan bening yang sedari tadi ditahan oleh laki-laki itu, seketika jatuh juga. dan tak lama berselang, tubuh dari Zidane pun bergetar hebat. menandakan bahwa laki-laki itu, saat ini benar-benar sangat pilu dan juga rapuh.
Dan pemandangan itu sempat membuat Ajeng yang melihatnya, merasa sedikit tersentuh. karena seumur hidupnya, wanita paruh baya itu tidak pernah melihat kehancuran putranya sampai seperti ini. itu menandakan, bahwa Zidane memang sangat sangat mencintai Asmirandah.
__ADS_1
"maafkan Mami sayang."ucap wanita paruh baya itu secara yang menghambur ke dalam pelukan sang putra. membuatnya sedikit merasa terkejut. Namun demikian, laki-laki itu tidak merespon ucapan dari wanita paruh baya itu.
Zidan terlalu meresapi rasa sakit yang menjalar dari dalam hatinya sampai menguar ke seluruh badan.