
Setelah puas menangis, pada akhirnya Asmirandah kembali menyunggingkan senyum yang begitu tulus. hingga membuat Jordan yang melihat itu, juga ikut menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"tolong jangan kasari aku lagi. aku mohon aku sangat takut sekali dengan kemarahanmu tadi."ucap wanita itu dengan tubuh bergetar hebat. hal itu sontak membuat Jordan semakin merasakan bersalah yang luar biasa.
Jordan pun dengan segera menganggukkan kepala. dan dengan segera membawa tubuh mungil wanita yang sangat ia cintai itu ke dalam pelukannya.
"sudah nggak usah nangis lagi. sekarang lebih baik, kita melewatkan hal-hal yang menyenangkan. aku nggak mau, kalau sampai kamu kembali menitikan air mata kesedihan seperti ini."ujarnya Seraya mengusap kedua pipi wanita itu yang telah basah dengan air mata.
Asmirandah yang mendengar itu pun, hanya menganggukkan kepala. dan dengan segera mengikuti langkah dari laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu untuk menuju ke kolam renang yang berada di belakang rumah itu.
"mau berenang atau tidak?"tanya laki-laki berjambang tipis itu saat mereka telah duduk secara bersisian di tepi kolam renang itu dengan baby Ara yang sudah diletakkan di dalam kereta bayi.
Asmirandah yang mendengar itu seketika menoleh ke arah sumber suara. dan tak lama berselang, wanita itu pun menggelengkan kepalanya.
"nggak usah. soalnya aku lagi nggak mood untuk berenang. kalau kamu mau berenang, aku akan siapkan semua keperluannya."ucap wanita itu Seraya menoleh ke arah sang suami.
Jordan lantas saja menggelengkan kepala. karena memang laki-laki itu hanya sekedar menawari sang istri untuk berenang. jika tidak mau, juga tidak membuat laki-laki itu mempermasalahkannya.
Dan pada akhirnya mereka berdua hanya berdiam diri Seraya menatap ke arah pemandangan yang disuguhkan di sekitaran area kolam renang itu.
"kenapa tiba-tiba aku ingin sekali makan sesuatu yang berbau buah?" celetuk wanita itu membuat Jordan yang awalnya asyik memandangi putrinya dengan sesekali bercanda, seketika menoleh ke arah wanita itu dengan alis terangkat.
"kamu mau makan sekarang?"tanya laki-laki itu Seraya meraih tubuh mungil dari putrinya untuk dibawa ke dalam dekapannya.
Asmirandah yang mendengar itu pun, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil. membuat Jordan yang melihat itu, segera menarik kedua pipi dari istrinya karena merasa begitu gemes dengan tingkah dari wanita itu.
__ADS_1
Setelah itu, Jordan segera memerintahkan pada seluruh pelayannya untuk membuatkan makanan yang memang telah dipesan oleh Asmirandah. sungguh sebenarnya, wanita itu diperlakukan benar-benar seperti seorang ratu. dan seharusnya, Asmirandah begitu merasa beruntung karena dicintai dengan begitu baiknya oleh laki-laki berjambang tipis itu.
Namun entah mengapa, arti dari wanita itu masih belum bisa untuk mencintai Jordan. karena mungkin, wanita itu didapatkan oleh Jordan dengan cara yang salah. hingga dirinya sekarang terkurung dan memiliki satu orang anak dari perbuatan laki-laki itu. ya walaupun dapat dibilang, pada saat dirinya dimiliki oleh Zidane, cara dan juga siasatnya tidak jauh beda. yang membedakan hanyalah pada waktu itu dirinya tidak sadar jika dimiliki oleh laki-laki berwajah manis itu. sementara oleh Jordan, wanita itu sedikit dipaksa dan diancam sehingga berada di bawah tekanan.
Tak membutuhkan waktu lama makanan yang dibutuhkan oleh Asmirandah, seketika telah tersedia di hadapan mata wanita itu. tentunya Hal itu membuat Asmirandah, seketika berbinar dengan sangat senang.
Dan tanpa pikir panjang lagi, wanita itu segera menikmati makanan itu dengan begitu lahap. membuat Jordan yang melihat itu, sesekali akan tersenyum kecil Seraya menggelengkan kepalanya karena menyaksikan tingkah lucu dari wanita kesayangannya itu.
"pelan-pelan. nggak ada yang ingin meminta makananmu itu."tegur Jordan Seraya merapikan rambut dari Asmirandah yang mulai berhamburan hingga menutupi mata wanita itu.
Sementara Asmirandah sendiri, hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepala. dan di momen selanjutnya, wanita itu kembali melahap rujak itu dengan begitu semangatnya.
****
Sementara itu di kediaman Prakoso, terlihat Tiara yang baru saja selesai berenang. wanita itu bisa sesuka hatinya melakukan semua yang dia inginkan. karena lagi dan lagi, kediaman dari Prakoso ini sudah kembali senyap. karena orang-orang itu, berada di tempat masing-masing dengan urusan yang mereka punya.
"nyonya!"tiba-tiba, Tiara tersentak kaget saat wanita itu mendengar suara seseorang yang memanggilnya dari dalam rumah.
"apa? kenapa?!"tanya wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu dengan menatap tajam ke arah beberapa pekerja di rumah itu.
"i..itu nyonya, tuan kecil menangis dengan kencang. Sepertinya, Tuan kecil sangat haus."lapor salah seorang pekerja dengan tubuh bergetar hebat karena menahan takut yang luar biasa akibat bentakan dari wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"terus kenapa nggak ditolong?!"tanya Wanita itu sengak.
"bukankah peraturan di rumah ini tidak memperbolehkan seorang wanita yang memiliki bayi untuk meminta bantuan pada orang lain?"tanya wanita itu mencoba untuk memberanikan diri melawan Tiara.
__ADS_1
plak
Namun tanpa sadar, Tiara melayangkan tamparan yang begitu keras dan juga tatapan yang begitu menusuk.
"jaga mulutmu itu!"Santak wanita itu dengan tatapan yang begitu menakutkan hingga membuat mereka semua seketika memundurkan langkah secara bersamaan.
"dengarkan aku baik-baik! jika tidak ada mereka, kalian harus mengurus bayi itu. dan jangan pernah, membiarkan rahasiaku terbongkar. jika kalian berani membongkarnya, maka kalian akan tahu sendiri apa yang akan aku lakukan pada keluarga kalian." desisnya penuh ancaman.
Setelah itu, Tiara kembali melanjutkan aktivitasnya untuk memanjakan tubuhnya itu.
Sementara beberapa pelayan memutuskan untuk langsung menolong Elvio. karena bocah berusia 2 bulan itu, semakin kencang dalam menangis.
"astaga!"pekik mereka secara tertahan saat baru saja membuka pintu kamar itu. bagaimana tidak terkejut, saat mereka baru saja membuka pintu kamar itu, mereka sudah mendapati Elvio yang tergeletak di atas karpet berbulu di kamar itu.
Hingga membuat mereka semua yang ada di sana ketika saling pandang satu sama lain."apakah Tuan kecil baru saja terjatuh?"tanya mereka hampir bersamaan.
"Ya kau benar sekali."sahutan dari Tiara itu sukses membuat mereka semua menoleh ke arah sumber suara.
"karena memang, aku sengaja meletakkannya di sofa itu."jawab Tiara dengan ekspresi wajah yang begitu tenang. membuat mereka semua seketika tercengang.
"ck, kenapa masih bengong di sini? Sana gendong dia! dan berikan minuman yang sudah aku racik!" suruh Tiara dengan galak.
Membuat mereka semua menganggukkan kepala. namun tak lama berselang, salah satu dari mereka mencoba untuk memberanikan diri memberikan usul.
"ma..maaf nyonya, apakah sebaiknya tidak diberikan susu formula saja? kenapa harus diberikan minuman racikan itu?"tanya wanita paruh baya itu dengan tubuh bergetar hebat.
__ADS_1
"tidak usah itu terlalu mahal! aku ingin, uang itu aku gunakan untuk merawat diriku."sahut wanita itu dengan cepat dan langsung menutup pintu kamar setelah mendorong pelayan-pelayan itu keluar dari dalam sana.