Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 227


__ADS_3

langkah dari Asmirandah seketika terhenti saat di hadapannya kini, berdiri sosok mungil yang begitu sangat dia rindukan. tenggorokannya seketika tercekat saat kedua matanya melihat bagaimana rupa dari Putra yang telah Ia tinggalkan bertahun-tahun itu.


"Sa.. sayang,"panggil Asmirandah dengan air mata berderai. dan tubuhnya bergetar dengan sangat hebat. hampir saja wanita itu kehilangan keseimbangan tubuhnya dan jatuh menghantam kerasnya lantai.


Namun sebelum hal itu terjadi, Zidane dengan sigap langsung melangkahkan kakinya dan langsung memeluk tubuh milik wanita yang sebenarnya masih menjadi berlian di hatinya itu dengan sangat erat.


Kemudian tanpa perlawanan, Zidane membawa Asmirandah untuk mendekati Haidar. yang kini menatapnya dengan tatapan penuh dengan kebingungan.


Mungkin saja di hati laki-laki kecil itu bertanya-tanya ada apa dengan sang Ibu kenapa dia berjalannya seperti itu? Haidar masih menatap ke arah Asmirandah dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


Ada rasa bingung, bertanya-tanya yang begitu tampak jelas diraut menggemaskan milik Haidar.


Bruuuuaakk...


Asmirandah segera menjatuhkan dirinya tepat di hadapan Haidar. kedua tangannya menyentuh dada yang terasa berdenyut nyeri. namun dengan lelehan air mata yang semakin lama semakin deras.


Sementara Ajeng dan juga Zidan yang melihat itu, hanya mampu saling pandang satu sama lain dengan tatapan yang begitu sendu menatap ke arah Asmirandah yang tampak kacau seperti itu.


Mereka memutuskan untuk menyingkir dari sana agar bisa menciptakan ruang dan waktu untuk pasangan ibu dan anak itu. karena dapat dipastikan, kedua manusia itu pasti sangat merindukan satu sama lain.


****


"aku pikir Mami sama Asmirandah tidak akan datang."Zidan memulai pembicaraan saat mereka, sudah berada di belakang bangunan itu.

__ADS_1


Ajeng yang mendengar itu seketika menoleh ke arah putranya."mana mungkin Mami tidak membawa mantan istrimu itu. bahkan Dia meneteskan ramuan itu sebanyak 5 kali agar bisa menghabiskan waktu bersama dengan Haidar lebih lama. dan tak hanya itu, Asmirandah juga melakukan hal yang sama pada Tiara. karena dia takut istrimu itu akan melakukan sesuatu hal yang merugikan Asmirandah nantinya."ucap wanita paruh baya itu penuh dengan semangat secara panjang lebar.


Zidane yang mendengar itu hanya terdiam. jika berbicara mengenai Tiara, entah sampai kapan laki-laki itu bisa bertahan berumah tangga bersama dengan sahabat Asmirandah itu.


Karena kini, sifat dari wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, benar-benar sudah berubah. tidak seperti Tiara yang dulu yang begitu lemah lembut dan juga penuh dengan kasih sayang.


****


"sayang, kamu sangat merindukan Mama?"tanya Asmirandah dengan tubuh dan ada suara yang begitu bergetar. sepertinya wanita itu, benar-benar sangat merindukan dan sangat begitu bahagia saat mendapati bisa berkesempatan untuk bertemu dengan Putra semata wayangnya itu.


Haidar yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala dengan antusias."aku merindukan Mama. dan kalau aku tanya sama Ayah pasti akan ayah bilang kalau mama berada di tempat yang jauh dan tidak bisa pulang untuk menemui Haidar." ucap bocah kecil itu Seraya menunjukkan kepala.


Tes... tes... tes...


Air mata dari Asmirandah semakin lama semakin banyak saat mendengar penuturan yang begitu memilukan dan menyayat hati dari mulut mungil memiliki Haidar. perasaan bersalah seketika semakin menguasai hatinya.


Perlahan tapi pasti, Asmirandah merasakan ada ucapan di wajahnya itu. dan di saat wanita itu mendongakkan kepalanya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu manis saat mendapati Haidar tengah mengusap air matanya dengan tangan mungilnya itu.


Sontak saja tanpa basa-basi lagi, Asmirandah langsung membuat tubuh mungil milik putranya itu untuk berada dalam dekapan.


"Mama mohon jangan pernah membenci Mama. karena Mama melakukan hal ini, juga demi keselamatan kamu sayang."Asmirandah membisikkan kalimat itu berulang kali.


Dan wanita itu tidak peduli jika Haidar merasa kebingungan nantinya. yang jelas saat ini, wanita itu hanya ingin menanamkan di dalam otak dan alam bawah sadar Haidar, bahwa dia tidak benar-benar meninggalkan bocah kecil itu.

__ADS_1


Suatu saat nanti, Jika dia sudah bisa melawan para orang-orang jahat itu, maka Asmirandah berjanji akan langsung menjemput dia dan berkumpul bersama dengan Arabella. Karena bagaimanapun juga, dua anak itu terlahir dari rahimnya. walaupun dengan bibit yang berbeda. tapi sebisa mungkin Asmirandah akan mencoba untuk membuat mereka berdua itu akur.


"Mama jangan nangis."suara yang begitu lembut dan juga menggemaskan itu membuat Asmirandah tersadar dari lamunan panjangnya. dan tak lama berselang, wanita cantik itu pun menganggukkan kepala Seraya tersenyum simpul.


"kamu mau makan apa? biar Mama buatkan."ucap Asmirandah dengan nada suara yang begitu lembut.


Mulai saat ini Asmirandah berjanji akan melakukan banyak hal untuk bisa mendapatkan momen yang berharga dengan Haidar. karena sesuai dengan kesepakatan dia bersama dengan Zidane, Asmirandah akan bersama dengan Haidar untuk satu minggu ke depan.


Dan disaat itu pula, wanita cantik itu akan melakukan berbagai cara agar bisa bersama dengan Putra sulungnya itu. dia tidak ingin terlalu lemah untuk saat ini. dan sedikit mementingkan egonya sendiri. agar hatinya terasa lebih tenang dan juga nyaman.


Pasangan ibu dan anak itu seketika langsung menuju ke dapur. dan mereka mulai membuat beberapa kue yang memang sangat disukai oleh Haidar. Asmirandah membuatkan kue itu dengan takaran yang sangat pas. tambah lagi, dengan hati yang berbunga-bunga dan juga penuh cinta.


Asmirandah yakin, pasti rasanya akan jauh lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. sesekali Asmirandah akan menatap ke arah Haider yang tampak antusias saat melihat proses pembuatan kue itu.


Putra sulungnya Itu tampak begitu menggemaskan saat sesekali melompat-lompat kecil karena merasa begitu senang.


Setelah hampir 1 jam, Asmirandah dan juga Haidar telah sampai di tahap terakhir yaitu menghias kue-kue yang baru matang itu.


"Yeay akhirnya jadi juga!"seru mereka berdua Seraya melompat-lompat kecil dan sesekali akan ber-tos ria seperti layaknya teman.


"kita bawa ke depan biar nenek sama Ayah bisa merasakannya. oke ganteng?" tanya wanita itu Seraya menoel hidung kecil milik putranya itu. dan Hal itu membuat Haidar, seketika tertawa karena merasa begitu geli dengan tingkah laku yang ditunjukkan oleh sang Mama.


****

__ADS_1


"Ayah!"teriak bocah kecil itu saat sudah berada di ruang tamu dan mendapati Zidane dan juga Ajeng yang tengah berbincang-bincang dengan serius di depan sana.


Karena mendengar teriakan dari bocah kecil itu, sontak saja membuat keduanya seketika menoleh dan tersenyum kecil kemudian menghampiri dan langsung menggendong bocah menggemaskan itu.


__ADS_2