
Beberapa saat kemudian,....
Kini, Zidane dan juga yang lain telah sampai di depan ruang perawatan milik Asmirandah mereka semua menunggu titah dari sang dokter untuk masuk ke dalam ruangan itu. karena memang, kondisi dari Asmirandah baru saja membaik.tentu mereka tidak ingin mengganggu aktivitas dari wanita itu.
"Bagaimana kondisi istri saya?"tanya Zidan menatap ke arah dokter itu yang baru saja keluar dan menghampiri mereka.
Saking merasa paniknya laki-laki berwajah manis itu sampai tidak sadar jika mengatakan bahwa Asmirandah adalah istrinya.Padahal semua orang yang ada di sana tahu bahwa Asmirandah dan juga Ajeng adalah mantan suami istri.namun untuk saat ini masalah itu tidaklah penting. yang terpenting bagi mereka, adalah melihat perkembangan dari ketika orang itu yang baik-baik saja.
Sehingga para pelayan yang ikut bersama dengan Zidane memutuskan untuk terdiam.tanpa berniat ingin mengoreksi perkataan dari laki-laki itu.
"Nyonya sudah sadar dari beberapa jam yang lalu. namun kondisi dari mentalnya belumlah stabil akibat melihat pemandangan di balik gorden."sahut sang dokter Seraya menunjuk ke arah ruangan yang memang dihuni oleh Haidar dan juga Ajeng.
__ADS_1
Zidane yang mengetahui tentang kondisi dari Asmirandah seketika hanya terdiam kemudian mendudukan diri di kursi tunggu yang ada di depan ruangan ketiga orang itu.
"aku mohon kalian Cepatlah sadar supaya kita bisa menjalani hari-hari dan juga hidup yang tidak mudah ini bersama-sama."pinta cara yang mengusap wajahnya dengan kasar.
****
"apa kau bilang semua orang yang ada di sana mati tak tersisa?"tanya seorang wanita paruh baya dengan nada suara yang begitu tinggi karena merasa begitu terkejut dengan ucapan dari seseorang di seberang sana.
"sialan! apa semua ini bisa terjadi semua rencanaku gagal total!"teriak wanita paruh baya itu dengan amarah yang luar biasa.
Puk
__ADS_1
Celine ketika menoleh ke arah belakang. saatmerasakan punggungnya di tepuk oleh seseorang.
"hentikan semua ini !" ucap Indra penuh dengan penekanan.
Celine yang mendengarnya, seketika terkekeh pelan. "apa Papa bilang Papa ingin Mama menghentikan semua ini setelah mereka menghancurkan hidup kita? hah itu tidak akan pernah terjadi dan sampai kapanpun juga aku akan tetap membuat perhitungan pada Asmirandah sampai wanita itu benar-benar hilang ditelan bumi seperti keluarga Prakoso."ucapnya penuh dendam kesumat.
Indra yang mendengar itu seketika menggelengkan kepalanya."Ini semua bukan salah Asmirandah. Tapi ini semua, adalah kesalahan Putra kita sendiri. Andai saja dia tidak berselingkuh dengan wanita seperti itu namun pasti semua ini tidak akan pernah terjadi dan kita pasti masih bisa bersama-sama dengan Asmirandah."ucapnya mencoba untuk menahan emosi dari istrinya itu.
Celine yang mendengar itu, seketika jatuh terduduk dengan tangis yang begitu memilukan. entah mengapa kali ini wanita paruh baya itu benar-benar merasa sangat terpukul dengan penuturan yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Papa benar. Ini semua adalah salah dari Yuda sendiri. andai saja laki-laki itu tidak melakukan hal bodoh dengan perselingkuh bersama Naomi, mungkin, kita masih bisa melihat mereka bahagia dan bisa mendapatkan menantu lemah lembut seperti Asmirandah."ucapnya meraung-raung penuh dengan penyesalan.
__ADS_1