
Di Lorong hotel menuju parkiran, baik Zidane maupun Asmirandah tak henti-hentinya bercanda tawa. mereka selayaknya pengantin baru sedang menikmati waktu senggang.
"aku benar-benar merasa sangat bahagia sayang." ucap laki-laki berwajah manis itu seraya merangkul pinggang ramping milik istrinya itu.
Membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika tersenyum tipis. kemudian memeluk tubuh kekar sang suami dengan erat. dan sesekali, akan menyembunyikan wajah cantiknya itu dalam dekapan laki-laki itu.
"mau langsung pulang atau makan dulu?"tanya Zidane mencoba untuk bernegosiasi. karena sebenarnya, laki-laki itu tengah mencari alasan untuk mengulur waktu agar bisa lebih lama bersama dengan istrinya itu.
Seketika itu pula, wanita cantik itu menggelengkan kepala."maafkan aku Bang. aku tahu apa maksud Abang."jawab wanita itu seraya tersenyum simpul.
Hembusan nafas panjang seketika terdengar di bibir laki-laki berwajah manis membuat Asmirandah sebenarnya merasa tidak tega. namun mau bagaimana lagi memang mereka harus berpisah untuk saat ini.
"aku akan mencari cara agar kita bisa menemukan solusi yang tepat untuk masalah kita ini."ucap laki-laki itu penuh dengan keyakinan. membuat Asmirandah yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala.
Tak lama berselang, mereka berdua telah sampai di parkiran. dengan langkah pelan tapi pasti, mereka berpisah karena akan memasuki kendaraan yang berbeda.
"Abang hati-hati ya, nanti setelah ini, tolong jangan lupa untuk kabari aku! " seru wanita cantik itu sebelum masuk ke dalam mobilnya.
Dengan cepat, Zidane segera menganggukkan kepala. dan dengan segera menaiki kuda besinya untuk membelah padatnya jalan raya.
Selama di perjalanan itu, baik Zidane maupun Asmirandah sama-sama tidak bisa untuk menyembunyikan wajah gembira. karena menurut keduanya, hari ini benar-benar sangat membahagiakan.
Hingga mereka berdua sampai di kediaman masing-masing, senyum keduanya masih tetap terpatri.
"Dari mana kamu?"lamunan dari Zidane seketika buyar saat mendengar suara seseorang dari ambang pintu kediaman kedua orang tuanya itu.
Tak berselang lama, laki-laki berwajah hitam manis itu seketika mend*sah pelan. saat mendapati kedua orang tuanya, tengah berada di ambang pintu menatapnya dengan tatapan tajam dan juga tangan keduanya yang bersedekap di atas dada.
__ADS_1
"maaf Mi, Pi, aku keluar sebentar. karena memang, aku benar-benar merasa sangat jenuh. untuk itulah, aku memutuskan untuk keluar sebentar. lagi pula, Mami sama papi kenapa mengikuti saran dari kedua orang tua itu sih? udah tahu sekarang ini adalah zaman modern. kenapa masih percaya dengan hal seperti itu."ucap Zidane mendengus kesal.
"tidak usah banyak bicara! lebih baik, sekarang kamu kembali ke dalam kamar!"seru Rafael Seraya menatap tajam ke arah Putra semata wayang itu.
Membuat Zidane yang mendengar itu, seketika mencebikkan bibirnya. Namun demikian, laki-laki berwajah hitam manis itu tetap melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar pribadinya.
"sebenarnya, kau itu dari mana?"tanya Jordan yang telah berada di hadapannya saat ini. membuat Zidane yang baru saja membuka pintu, seketika sedikit tersentak.
"astaga!" pekiknya keras dan langsung melayangkan satu kali pukulan tepat di hadapan sepupunya itu.
"aaakkkhhhh! kenapa kau memukulku seperti ini?"tanya Jordan dengan raut wajah memerah karena menahan kesakitan dan juga mulut yang sedikit meringis pernah menahan kesakitan
"karena kau mengagetkanku!"jawab laki-laki yang memiliki senyuman sedikit manis dengan ketus. kemudian dengan segera, berjalan melangkahkan kakinya untuk mendekati ranjang.
"kau sebenarnya dari mana Bang?"tanya Jordan yang ternyata ikut berbaring di samping laki-laki.
" apa kau melakukan sesuatu di luar kendali dengan Asmirandah?" tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis itu.
Mata dari Zidane yang awalnya terpejam, seketika terbuka lebar. dan tak lama berselang, pandangan mata setajam burung elang itu menatap ke arah sang adik sepupu yang masih berada di sampingnya.
"apa maksudmu?"tanya Zidane dengan nada suara yang sudah tidak enak didengar di telinga laki-laki berdarah campuran itu.
"a...aku hanya ingin memastikan semuanya. apakah yang aku temukan ini, adalah suatu kebenaran atau tidak."dengan perlahan tapi pasti, laki-laki itu segera mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya.
Kedua mata Zidane seketika membulat sempurna. saat foto-foto di mana Dirinya tengah bermesraan dengan sang istri terpampang nyata di depannya saat ini.
"Dari mana kamu mendapatkan semua ini?"tanya Zidane menatap ke arah Adik sepupunya itu dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"ada yang memberikan foto itu padaku. Dan setelah aku telusuri, orang itu merupakan detektif yang disewa oleh keluarga besar kita untuk mengawasi gerak-gerik para anggota keluarga. terutama Abang. karena Bang Zidane, adalah satu-satunya keluarga yang aksinya, sedikit mencurigakan."jawab Jordan panjang lebar.
membuat Zidan yang mendengar itu sejenak terdiam. sebelum akhirnya, laki-laki berwajah manis itu, segera menarik kedua tangan dari adik sepupunya itu.
"kita mau ke mana?"tanya Jordan dengan raut wajah kebingungan. namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh Zidane.
Hingga pada akhirnya, mereka berdua telah berada di taman belakang kediaman Prakoso.
"duduk!"titah Zidane pada adik sepupunya itu. dan hal itu langsung dituruti oleh si pemilik tubuh.
Dengan menghirup udara sebanyak mungkin, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Jordan. dengan harapan, laki-laki yang memiliki jambang tipis itu dapat membantu problematikanya saat ini.
"jadi, apakah kamu bisa membantu?"tanya Zidan sesaat setelah laki-laki itu menyelesaikan ceritanya.
Sejenak, Jordan terdiam. ada perasaan tidak rela yang tiba-tiba saja menyembul di sudut hati laki-laki itu. namun dengan segera, laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
'tidak usah seperti itu Jordan. mungkin saja, kau memang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagian hidup dari wanita itu. dan lagi pula, dia telah menjadi istri dari kakak sepupumu.' batin laki-laki itu mencoba untuk menghibur.
"Jordan!"seru Zidane dengan raut wajah sedikit kesal. karena pertanyaannya sejak tadi, tidak digubris oleh adik sepupunya itu.
Membuat lawan bicara dari laki-laki itu, sedikit gelagapan dibuatnya."a..apa yang harus aku lakukan?"tanya laki-laki itu sedikit gugup.
Zidane dengan segera mendekatkan bibirnya di telinga sang adik sepupu. beberapa kalimat, mulai dilontarkan oleh laki-laki berwajah hitam manis itu pada Jordan.
"bagaimana apakah kamu bisa?"tanya laki-laki itu sedikit menuntut. karena menurutnya, dirinya sudah tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk menyusun rencana lebih matang lagi.
"maaf Bang tapi sepertinya, aku benar-benar tidak bisa."ucap Jordan pada akhirnya.
__ADS_1