Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 242


__ADS_3

Karena merasa kesal tidak mendapat jawaban, pada akhirnya orang-orang itu memutuskan untuk segera masuk ke dalam bangunan. tentunya membawa anak buah yang sudah melumpuhkan para penjaga di rumah itu.


"Zidane! Asmirandah! keluar kalian!"


Teriakan itu menggema di bangunan itu. sepertinya, wanita tua itu sudah tidak memperdulikan hubungan darah di antara mereka berdua. pernah terlihat saat ini mata dari wanita itu memancarkan kebencian yang begitu dalam


Sementara Rafael dan juga yang lain menatap ke sekeliling mencoba untuk mencari keberadaan orang-orang yang tengah mereka incar.


"apa wanita itu benar-benar mengatakan yang sesungguhnya?"tanya Sahara masih merasa curiga dengan penuturan Naomi.


"aku pun juga merasakan hal yang sama bukan karena wanita itu sangat licik? kenapa Ibu bisa langsung percaya dengannya?"tanya Garda ikut menimpali penuturan dari istrinya itu.


Karena laki-laki paruh baya yang berstatus sebagai Paman dari Zidane itu juga merasa sedikit tidak percaya dengan wanita yang pernah menjalin hubungan dengan keponakannya itu.


Sementara di depan mereka, terdengar Oma Keisha yang masih teriak dengan begitu lantangnya untuk mencari keberadaan Zidane dan juga yang lain.


"kalian mencari keberadaan wanita itu?"tiba-tiba saja orang yang mereka bicarakan sejak tadi muncul dari balik pintu.


Hal itu membuat Oma Keisha yang mendengarnya, seketika menolehkan kepalanya dan memfokuskan pandangannya menetap ke arah orang yang baru saja melangkahkan kakinya untuk mendekati mereka itu.


"untuk apa kau ada di sini?"tanya wanita tua itu dengan nada suara yang begitu ketus.


Sementara Naomi sendiri, wanita itu memutuskan untuk berjalan melangkahkan kakinya untuk mendekati sebuah ruangan tanpa pedulikan ucapan dari orang-orang itu.


Bruuuuaakk!!


"aaaaarrgghhh!!"


Dengan sekuat tenaga, wanita yang berstatus sebagai kakak kandung dari Asmirandah itu menendang pintu kamar itu dengan sangat kuat, hingga membuat orang-orang yang ada di dalamnya, seketika menjerit karena tubuh mereka juga terpental.


Sementara Naomi sendiri, wanita itu kini tersenyum menyeringai menatap ke arah Oma Keisha dan juga yang lain yang masih diam membisu di tempatnya.


"bagaimana dugaan ku benar, kan?"tanya wanita itu dengan menatap ke arah orang-orang itu secara bergantian.

__ADS_1


Hening...


Untuk beberapa saat kemudian suasana di sana terlihat begitu hening dan juga mencekam karena mereka masih mencerna tentang apa yang terjadi di hadapan mereka saat ini.


"tunggu apa lagi, tangkap mereka!"seru wanita tua itu Seraya mengarahkan kedua tangannya untuk segera maju menghampiri orang-orang itu.


"aaarrrgggh tolong lepaskan kami! kami mohon!"teriak Ajeng. Saat tubuh wanita paruh baya itu, ditangkap oleh para bodyguard itu. Begitupun juga dengan Asmirandah. wanita itu segera diringkus oleh orang-orang itu.


Sementara Haidar sendiri, langsung direbut dari gendongan Ibunya dan langsung dipanggul oleh yang disuruh oleh keluarga dari Prakoso itu.


"aku mohon tolong jangan sakiti anakku!"teriak Asmirandah dengan begitu menggelegar. apalagi saat melihat tubuh mungil dari putranya itu mulai disentuh dengan gerakan kasar oleh para bodyguard itu.


Hati ibu mana yang tega melihat pemandangan itu. Asmirandah merasa semua itu tidak akan pernah tega jika melihat pemandangan yang menyakitkan itu.


Wanita cantik itu mencoba untuk meronta-ronta melepaskan ciri dari orang-orang bengis seperti itu.


Plak!!


Plak!


"apa yang kau lakukan, hmm? kenapa kau melakukan ini Ajeng?"tanya wanita tua itu Seraya menatap tajam ke arah sang menantu.


"jawab!!"bentak Oma Keisha dengan suara yang begitu menggelegar.


"a...aku hanya tidak ingin, melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya dengan tidak mempertemukan Asmirandah dengan Putra kandungnya."ucap Ajeng dengan nada suara terbata-bata.


Karena wajah dari wanita paruh baya itu saat ini sudah dalam kondisi babak belur.


"heh, omong kosong macam apa itu?"tanya wanita tua itu Seraya menjambak rambut milik menantunya. cara membuat Ajeng seketika mendongakkan kepalanya.


Sementara orang-orang yang ada di sana, hanya menatap datar ke arah pemandangan itu. karena mereka semua, juga merasa dibohongi oleh tindakan dari wanita itu. termasuk juga dengan Rafael. suami dari Ajeng itu bahkan tidak merasa iba saat istrinya diperlakukan seperti itu.


"aku sudah melakukan kesalahan dengan tidak memberikan Restu pada Asmirandah dan juga Zidane. sehingga mereka berdua nekat melakukan pernikahan secara diam-diam. dan mendapatkan seorang keturunan."ucapnya Seraya menundukkan kepala.

__ADS_1


"tidak usah banyak bicara bawa mereka semua untuk menuju tempat eksekusi. terutama, wanita itu!"tunjuk wanita tua itu pada Asmirandah.


Orang-orang yang ada di sana seketika menganggukkan kepala dan langsung membawa Asmirandah dan juga yang lainnya, untuk masuk ke dalam mobil.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tertinggal. siapa lagi orangnya jika bukan Zidane. laki-laki berwajah manis itu dengan cepat langsung mempercepat proses pembuatan alat untuk membius orang-orang itu menggunakan jarum yang telah diberi racun Dan juga obat tidur.


"tunggu Aku Aku akan menyelamatkan kalian apapun Yang terjadi."gumam laki-laki itu Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat. karena Zidane benar-benar merasakan amarah yang luar biasa saat pemandangan yang begitu menyakitkan hadir di depan matanya itu.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kalian menyakiti ibu dan juga wanita yang aku cintai! tidak akan pernah!" desisnya dengan tatapan yang sangat tajam.


****


Setelahnya menempuh perjalanan hampir kurang lebih satu setengah jam, mereka semua telah sampai di tempat terpencil yang biasanya digunakan oleh keluarga dari Prakoso untuk menyiksa seseorang yang dianggap berkhianat dan juga bersekutu.


Setelah sampai, mereka semua langsung menggiring tubuh dari dua wanita itu untuk keluar dari dalam mobil untuk menuju ke dalam bangunan kecil.


"huuuaaa!! Mama!!"


Haidar seketika menjerit ketakutan saat tubuh kecilnya dimasukkan oleh orang-orang itu dalam ruangan yang begitu gelap. karena memang, bocah kecil itu tidak bisa dan sangat takut dengan ruangan yang sangat gelap seperti itu.


Ajeng dan juga Asmirandah menangis satu sama lain saat melihat pemandangan yang begitu menyakitkan di hadapan mereka saat ini.


"tolong Nyonya jangan seperti ini jangan pernah libatkan anakku untuk kasus seperti ini tuan, nyonya."Asmirandah meraung-raung Seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Sungguh wanita itu tidak akan pernah sanggup jika mendapatkan cobaan seperti itu.


Ctasss


Ctasss


Ctasss


"huaaa Mama atit!"

__ADS_1


Asmirandah dan juga Ajeng seketika menangis dengan tersedu-sedu saat tubuh mungil dari bocah kecil itu benar-benar dihantam oleh sebuah cambuk yang langsung mengenai tubuh mungil milik Haidar.


__ADS_2