
Setelah melalui perdebatan dengan cukup lama, pada akhirnya ketiga orang itu mengalah. dan memutuskan untuk menuruti permintaan dari wanita yang tengah mengandung itu.
Walaupun sesekali, ketiga anak manusia itu akan menahan nafas dan juga menahan rasa mual yang sewaktu-waktu bergejolak di dalam tubuh mereka. saat dengan santainya, Asmirandah menyantap itu tanpa beban.
"kenapa dia bisa lahap itu saat memakan makanan aneh itu ?"tanya Tiara menatap ke arah dua laki-laki yang ada di sebelahnya saat ini.
Dan pertanyaan itu, hanya mampu dijawab gelengan kepala oleh Zidane. karena laki-laki itu, juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Tiara saat melihat istrinya menyantap makanan itu tanpa beban.
"akhirnya kenyang juga."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah segera kembali berbaring di atas tempat tidur. karena saat ini wanita cantik itu tengah menikmati makanannya di atas benda empuk itu.
Tak membutuhkan waktu lama, terdengar dengkuran halus dari mulut Asmirandah. membuat semua orang yang menyaksikan itu, seketika tercengang.
"kenapa dia jadi seperti ini?"tanya Tiara menatap sahabatnya itu dengan ekspresi wajah tak percaya. Sungguh, pemandangan yang tersaji saat ini adalah pemandangan pertama kali yang dilihat oleh Tiara selama mereka menjalin hubungan persahabatan.
"memangnya kenapa? tidak ada yang aneh dengan sikap Asmirandah. kalau perut seseorang kenyang, dia langsung akan tertidur pulas."Jordan menaikkan satu alisnya menatap ke arah sahabat istri sepupunya itu.
Tiara mendengus."masalahnya, Asmirandah itu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Bahkan sekenyang apapun wanita itu, dia tidak akan mudah mengantuk. akan tetap energik sepanjang harinya."sahutnya dengan wajah masih sedikit terkejut.
"atau mungkinkah nanti anakku akan mewarisi sifat malas?"tanya laki-laki berwajah manis itu entah pada siapa.
"kenapa Kak Zidan bisa berpikiran seperti itu?"tanya Tiara dengan raut wajah penasaran.
"kau lihat saja sendiri. dari masjid di dalam kandungan saja, dia sudah membuat istriku bermalas-malasan seperti ini. Apalagi, Jika dia nanti lahir ke dunia."sahutnya menghela nafas panjang.
Sementara Tiara yang mendengar itu, hanya terkekeh pelan. membayangkan akan seperti apa hidup sahabatnya itu nanti jika benar anak yang dikandung akan mewarisi sifat malas itu.
****
"sialan kenapa semuanya menjadi seperti ini?!"katanya seorang wanita dengan berteriak kencang di dalam rumahnya.
__ADS_1
Bahkan, kediaman kedua orang tuanya itu sudah seperti bukan sebuah hunian yang sangat nyaman. melainkan, sudah seperti bangunan yang baru saja dijarah oleh sekelompok orang. karena di mana-mana, terdapat pecahan beling yang berserakan. belum lagi, beberapa kapas dan juga kertas yang ikut andil di dalamnya.
"wow ada kerusuhan apa ini?"pertanyaan dari seseorang itu, sukses membuat Naomi menolehkan pandangannya. untuk beberapa saat, wanita itu terdiam menatap Lamat ke arah laki-laki yang berdiri tepat di ambang pintu.
"mau apa kau kemari?"tanya Naomi Seraya membuang muka ke arah lain.
"Tentu saja aku ingin membantumu untuk mendapatkan Zidane."ucap laki-laki itu Seraya tersenyum miring.
"cih Kau pikir aku percaya?"tanya wanita itu berdecih Seraya melayangkan tatapan sinis ke arah laki-laki yang saat ini malah berjalan menghampirinya.
"tentu saja kau harus mempercayaiku. karena aku memiliki kuncinya."ucapnya Seraya tersenyum miring ke arah Naomi.
"memang kau memiliki kunci seperti apa?"tanya wanita itu mulai penasaran.
Dengan ekspresi wajah yang masih tersenyum, laki-laki itu mulai melangkahkan kakinya dan mulai membisikkan sesuatu tepat di telinga kakak kandung Asmirandah itu.
"apakah kau serius?"tanya wanita itu dengan raut wajah tak percaya. dengan apa, yang baru saja didengar oleh wanita itu.
"kurang ajar!"
pyarr
Sekali hantaman, lemari kaca yang ada di sebelahnya saat ini seketika berhamburan tak berbentuk. dada dari wanita itu seketika memburu. matanya seketika memerah dengan raut wajah yang begitu murka.
"ternyata kau memang benar-benar tidak tahu diri!"maki wanita itu entah pada siapa.
"tenanglah. aku akan membantumu."ucap laki-laki itu Seraya tersenyum tipis.
"apa rencanamu?"tanya wanita itu menatap ke arah lawan bicaranya.
__ADS_1
Dengan perlahan tapi pasti, laki-laki itu melangkahkan kakinya dan mendekatkan bibirnya tepat di telinga Naomi.
Tak lama berselang, sebuah senyuman tipis seketika terbit dari bibir wanita itu."bagus juga idemu."tersenyum tipis. wanita itu menatap dingin ke depan sana."tunggu saja tanggal mainnya sayang. aku akan membuat hidupmu benar-benar menderita."setelah mengatakan hal itu, Naomi segera pergi dari sana meninggalkan laki-laki itu yang menatap kepergian Naomi dengan tatapan datarnya.
****
Sementara itu di lain tempat, terlihat seorang laki-laki yang sedari tadi mengumpat kesal. karena seseorang yang berusaha ingin ia hubungi, tidak merespon sama sekali.
"shiitt ini Naomi ke mana sih?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah kesal.
"Yudha, kau ingin ikut kami melayat ke rumah keluarga Orlando?"tiba-tiba saja, suara seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
Tanpa pikir panjang lagi, mantan kekasih dari Asmirandah itu menganggukkan kepala."aku ikut."setelah mengatakannya, Yudha segera masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
Tak membutuhkan waktu lama. Karena sekarang, keluarga dari Peter itu telah sampai di depan rumah kediaman keluarga Orlando.
Saat mereka bertiga turun dari dalam mobil, pandangan yang tersaji pertama kali. adalah pemandangan seorang wanita yang tengah menyilangkan kedua tangannya di depan perut. siapa lagi orangnya jika bukan Naomi.
Setelah puas mengamuk, wanita itu segera membereskan kekacauan yang baru saja ia buat itu. Karena Wanita itu, harus memerankan karakter yang sangat menyedihkan di depan keluarga mantan suaminya itu demi sebuah tujuan yang akan ia raih nantinya.
"kalian mau masuk?"tanya Naomi dengan senyuman yang sedikit dipaksakan. namun hal itu, sama sekali tidak kentara.
Celine dan juga Indra seketika menggelengkan kepala saat mendengar pertanyaan dari mantan menantunya itu.
"tidak usah kami hanya ingin mengucapkan rasa duka cita kami yang sedalam-dalamnya. semoga, kau bisa kuat ke depannya."ucap Celine Seraya memeluk tubuh mantan menantunya itu dengan lembut.
"apakah aku bisa berbicara dengan Naomi terlebih dahulu?"tanya Yudha menatap ke arah kedua orang tuanya saat mereka telah cukup lama terdiam.
Celine dan juga Indra kompak menganggukkan kepala. membuat sepasang mantan suami istri itu berjalan meninggalkan halaman rumah menuju taman belakang.
__ADS_1
"ada apa?"tanya Naomi menatap malas ke arah mantan suaminya itu.
"kau pasti tahu apa yang aku maksud saat ini."jawab laki-laki itu dengan ekspresi wajah datar.