
"aku mau mencari keberadaan Asmirandah kembali."ucap Zidane. setelah mereka sama-sama tercium cukup lama.
Hal itu membuat Ajeng yang mendengarnya, seketika menoleh ke arah sang Putra dengan kening yang mengerut samar.
"kamu yakin mau mencari keberadaan wanita itu?"tanya Ajeng menatap ke arah putranya dengan tatapan tidak yakin.
"kenapa Mami bisa bertanya seperti itu? apakah mami tidak setuju jika aku kembali bersama dengan Asmirandah?"tanya Zidane menatap ke arah ibunya itu dengan tatapan yang tidak mengerti.
Ajeng seketika menggelengkan kepalanya."bukan seperti itu maksud Mami. Mami hanya takut, jika semua ini akan berimbas pada rahasiamu yang terbongkar dan juga membuat Haidar menjadi terancam."ucap wanita paruh baya itu Seraya Manggala nafas panjang.
Sontak saja, Zidane seketika terdiam. memang apa yang dikatakan oleh Maminya itu, adalah suatu kebenaran. namun begitu, sidang tidak bisa berlama-lama untuk pisah dari wanita yang ia cintai. karena jujur saja, laki-laki itu benar-benar merasakan rindu yang luar biasa pada mantan calon adik iparnya itu.
"tapi aku sangat merindukannya Mam."ucap laki-laki itu dengan nada suara yang sangat lirih dan juga kepala yang tertunduk ke bawah.
Ajeng merasakan perih yang luar biasa di dalam lubuk hatinya saat melihat bagaimana rapuhnya Sang putra saat ditinggal oleh wanita yang ia cintai.
"maafkan Mami. kami tidak ada kekuatan untuk bisa menolong kamu. Mami benar-benar merasa menjadi Ibu yang tidak berguna. tolong maafkan Mami."ujar wanita paruh baya itu dengan terisak.
Zidane segera merengkuh tubuh Sang Ibu yang masih bergetar karena menahan sesak di dalam dada itu.
"ini bukan salah Mami. ini salah aku karena dari awal tidak tegas memperkenalkan Asmirandah sebagai istriku."ucapnya menenangkan.
Mereka berdua larut dalam rasa sakit yang masih memenuhi rongga dada masing-masing hingga beberapa saat lamanya.
"apakah kamu membutuhkan bantuan Mami untuk mencari keberadaan Asmirandah?"tanya wanita itu dengan nada serak.
Zidane seketika menggelengkan kepalanya."tidak perlu Mi. aku sudah mendapatkan banyak pasukan. yang harus Mami lakukan adalah, rawat Haidar dengan baik saat aku bertugas untuk mencari ibunya. apakah Mami bisa?"tanya laki-laki itu dengan raut wajah penuh harapan.
Sontak Ajeng menganggukkan kepala dengan mantap."tentu saja sayang. Tanpa kamu minta sekalipun, Mami akan melakukan hal itu. karena Haidar, adalah makhluk yang memiliki gen darah dari keluarga kita."ucapnya Seraya tersenyum simpul.
tok tok tok
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. hingga membuat pasangan ibu dan anak itu, seketika saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
"apa itu Oma Keisha?"tanya Ajeng dengan raut wajah pias. takut jika perbincangan mereka, sampai didengar oleh orang lain apalagi jika didengar oleh wanita sepuh itu. maka semuanya, akan langsung menjadi berantakan.
"lebih baik kita buka pelan-pelan."ajak Jordan Seraya menarik tangan sang ibu untuk mendekat ke arah pintu kamar itu.
ceklek
Pintu segera dibuka dengan perlahan. dan tak lama berselang, Zidane memperlihatkan kepalanya untuk melihat siapa orang yang ada di depan pintu kamarnya.
"ada apa?"tanya Zidan dengan raut wajah datarnya. saat laki-laki itu melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Tuan Zidane dan juga nyonya besar, dipanggil oleh Nyonya sepuh untuk ke ruang tamu."setelah mengatakan hal itu, pelayan itu segera pergi dari sana dengan sedikit membungkuk hormat.
Membuat Ajeng dan juga Zidane yang mendengar itu, seketika saling memandang satu sama lain. dengan ragu-ragu, mereka semua saling menganggukkan kepala. melangkahkan kakinya dengan hati-hati menuju ke ruang tamu.
Sesampainya mereka berdua di tempat itu, jantung mereka semakin berdegup dengan begitu kencangnya. takut jika apa yang mereka bahas tadi, didengar oleh seseorang dan langsung dilaporkan kepada wanita sepuh itu.
"ada apa Oma memanggilku?"tanya laki-laki dengan raut wajah biasa saja. mencoba untuk menutupi kegugupannya.
Membuat Zidane yang mendengar itu, seketika menghembuskan nafasnya lega. dan tak lama berselang, laki-laki itu menganggukkan kepala tanpa memprotes sedikitpun. membuat Oma Keisha yang melihat itu, sedikit merasa heran.
"kenapa anak itu menurut saja?"tanya Oma Keisha Seraya menatap heran ke arah sang Cucu.
"kalau begitu aku permisi dulu Bu."pamit Ajeng pada wanita renta itu.
Setelah semua orang pergi, wanita renta itu kembali mendudukkan dirinya dan sesekali akan memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"ke mana mereka sebenarnya?"tanya wanita sepuh itu dengan rahang mengetat.
"orang-orang tidak berguna. percuma saja aku membayar mereka mahal-mahal jika tidak becus dalam bekerja seperti ini." Omelnya entah pada siapa. karena dalam ruangan itu tidak ada siapapun kecuali para pekerja yang masih setia di tempat masing-masing.
****
Zidane segera membawa tubuh Tiara menuju ke mobil yang memang telah disiapkan oleh para pengawal di rumah itu.
__ADS_1
"kenapa kau menyusahkan sekali, sih?"tanya laki-laki berwajah manis itu dengan nada suara yang sangat sinis.
Sementara Tiara sendiri, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu sama sekali tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Zidane.
Karena Wanita itu, masih sibuk untuk memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya.
"kau masih mengharapkan Jordan?"tanya Zidan dengan alis terangkat dan juga tersenyum miring.
"bukan urusanmu!"sahutnya dengan ketus.
Membuat Zidan yang mendengar itu, seketika memalingkan wajah dengan ekspresi sebal.
"apakah kau tidak ingin bekerja sama denganku?"tanya Zidane dengan tiba-tiba.
"maksudmu apa?"tanya Tiara dengan dahi mengerut.
"bukankah kau sangat mencintai Jordan. sementara aku, juga sangat mencintai Asmirandah. kenapa kita tidak melakukan kerjasama untuk memisahkan mereka berdua?"tanya laki-laki itu dengan senyuman.
Tiara seketika tersenyum miring."sayangnya aku tidak tertarik. karena aku, sudah mulai menyukaimu."ucapnya Seraya mengerlingkan matanya. membuat Zidan sendiri, seketika mengumpat wanita yang ada di sebelahnya saat ini.
"karena aku lebih suka menghancurkan wanita itu dengan merebut kebahagiaannya!"lanjut wanita itu dalam hati dengan senyuman iblisnya.
****
"kamu mau makan sesuatu?"tanya Jordan menghampiri wanita kesayangannya itu yang tengah memandang kagum ke arah pantai yang ada di hadapannya itu.
Asmirandah yang mendengarnya, seketika menoleh sejenak. tak lama berselang, wanita itu menggelengkan kepalanya.
"aku belum lapar."sahutnya dengan nada suara yang sangat pelan.
Jordan pun hanya menurut saja dan ikut duduk di samping wanita itu. kemudian tangannya, mulai mengusap perut yang sedikit membuncit milik Asmirandah itu.
"aku sudah tidak sabar ingin melihat anak kita."ujar laki-laki itu Seraya tersenyum lebar.
__ADS_1