
Sementara itu di tempat lain lebih tepatnya di rumah sakit di kota itu, Jordan baru saja membawa Asmirandah untuk menemui dokter untuk menjahit/mengobati luka yang tampak parah di wajah milik Asmirandah.
Tentunya Hal itu membuat laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu, merasa begitu khawatir. karena memang Asmirandah baru saja melakukan operasi bedah plastik dan itu memerlukan perawatan yang khusus. tapi sekarang ini, dia mendapatkan sebuah kenyataan bahwa luka itu menggores wajah mulus milik Asmirandah.
"apakah lukanya serius?"tanya Jordan Seraya menatap ke arah wanita yang memakai jas berwarna putih itu.
"hanya robekan kecil saja tuan. dan Mungkin dua atau tiga hari lagi semua sudah baik-baik saja anda tidak perlu khawatir."ucap wanita itu Seraya tersenyum ramah.
"Terima kasih Dok kalau begitu kami permisi dulu."setelah mengatakan hal itu, Jordan segera membawa Asmirandah untuk segera keluar dari rumah sakit itu dan membawanya untuk pulang ke rumah kediaman keluarga Prakoso.
"Setelah dari rumah keluarga itu, kita langsung pulang ke rumah kita sendiri. aku tidak ingin ada bantahan apapun!"ucap Jordan dengan tegas tanpa ingin dibantah oleh wanita yang ada di sampingnya saat ini.
"tapi Jordan, aku hanya ingin bertemu dengan sahabatku. aku ingin membuat dia kembali seperti dulu lagi aku mohon!"ucap wanita cantik itu dengan nada suara yang begitu mengiba.
Jordan yang mendengar itu seketika menatap sekilas ke arah Asmirandah dengan tatapan yang begitu membunuh. namun hal itu sama sekali tidak membuat Asmirandah goyah. wanita cantik itu tetap berusaha untuk membujuk Jordan agar menyetujui permintaannya itu. hingga pada akhirnya, laki-laki itu pun menghembuskan nafasnya perlahan.
"baiklah hanya kali ini saja. tapi kalau wanita itu kembali bermacam-macam denganmu, jangan salahkan aku untuk memberikan hukuman pada wanita itu." peringat laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu dengan begitu serius.
Asmirandah yang mendengar itu seketika menganggukkan kepala dan tersenyum kecil. kemudian segera kembali menatap keluar jendela dengan perasaan campur aduk.
"semoga saja aku bisa membuatmu kembali seperti dulu lagi Tiara. karena jujur saja, di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat mengharapkan hal itu bisa terjadi."gumamnya dengan nada suara yang begitu lirih. dan beruntungnya, Jordan sama sekali tidak mendengar. karena beberapa kali, Asmirandah menoleh ke belakang untuk memastikan semuanya. dan Jordan masih fokus pada posisinya semula.
****
"euuumm."Tiara tampak menggeliat di atas tempat tidur. perlahan tapi pasti, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu segera membuka matanya. dan tak lama berselang, beberapa bayangan-bayangan itu pun muncul dari dalam kepalanya.
Membuat mata dari wanita itu seketika membulat sempurna. dan tak lama berselang, terdapat kilatan amarah yang luar biasa dari dalam mata itu.
__ADS_1
"Ini semua karenamu Asmirandah! dan untuk itu, aku akan memberikan satu perhitungan padamu." desisnya dengan tatapan yang begitu membunuh.
Tok tok tok
Atensi dari wanita berambut panjang sampai pinggang itu seketika teralihkan. saat kedua Indra pendengarannya, mendengar suara ketukan pintu dari depan kamarnya.
"permisi Nyonya."perawat yang diperintahkan untuk memantau kondisi dari Tiara pun masuk. dan dengan segera memberikan obat itu padanya.
"apakah di luar masih ada orang?"tanya Tiara Seraya menatap ke arah perawat itu meminta untuk memeriksanya.
"masih Nyonya. bahkan Nyonya Sheila juga masih belum pulang dari perjalanan pengobatannya itu."sahut wanita yang memakai seragam khas perawat itu pada Tiara.
Membuat wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu seketika langsung mendengus kesal saat mendengar penuturan dari perawat itu.
"bisakah kau tidak usah membahas tentang hal itu?!"tanya wanita itu dengan tatapan yang begitu tajam. membuat perawat itu seketika menganggukkan kepala dan langsung memutuskan untuk pergi dari sana.
"Nanda, ada apa?"tanya wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu pada orang kepercayaannya.
"tidak ada apa-apa nyonya. saya hanya ingin melaporkan bahwa tadi hampir saja rahasia Nyonya terbongkar."lapor wanita itu Seraya membungkuk hormat.
Kedua bola mata dari Tiara seketika membulat sempurna saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut orang kepercayaannya.
"lalu bagaimana apakah semuanya sudah baik-baik saja?"tanya Tiara dengan raut wajah khawatir. jangan sampai mereka mengetahui apa yang dilakukan olehnya selama ini pada bayi malang itu. karena hal itu pasti akan membuat semuanya menjadi kacau.
"tenang saja. semua sudah kembali normal kok Nyonya anda tidak usah khawatir. selama masih ada saya, semua pekerjaan dan juga rahasia itu pasti akan aman terjamin."sahutnya tersenyum bangga.
Tiara seketika menghela nafas lega."baguslah kalau seperti itu."sahutnya kembali memejamkan mata.
__ADS_1
*****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Orlando, Naomi tampak termenung dengan pikiran yang melayang-layang entah ke mana.
"Bunda... Papa... Naomi merindukan kalian."ucap wanita itu dengan nada suara yang begitu lirih. dan tak lama berselang, cairan bening itu mengalir dengan begitu deras dari kelopak matanya.
Jika orang lain melihat sisi dari Naomi, mereka pasti tidak akan pernah menyangka jika wanita itu sangat rapuh karena kehilangan dua tiang dalam kehidupannya secara bersamaan. karena dibalik sikap yang galak dan juga sadis terhadap Asmirandah dan juga Tiara, Naomi tetap saja merasakan rapuh yang luar biasa. Apalagi tubuhnya saat ini sedikit tidak normal akibat kebakaran itu. membuat emosinya seringkali meledak-ledak.
"aku akan membalaskan rasa sakit hati yang aku alami saat ini."ucapnya Seraya menatap tajam pada dua lembar foto yang ada di tangannya.
("Nyonya saya ingin melapor!" )suara dari seberang sana, membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.
"bagaimana perkembangan dari target?"tanya Naomi tanpa basa-basi lagi.
("semua berjalan sesuai rencana nyonya.")
"bagus lakukan semua dengan baik jangan sampai aku merasa kecewa karena telah membayarmu dengan sangat mahal."
("baik nyonya")
Naomi seketika tersenyum miring. saat wanita itu baru saja mematikan sambungan teleponnya itu.
"permainan ini baru saja dimulai sayang sayangku. kalian harus mendapatkan pelajaran lebih berat dari apa yang aku alami."gumamnya tersenyum iblis.
Entah bagaimana ceritanya seorang Naomi yang awalnya adalah wanita yang penuh dengan kasih sayang sama seperti Asmirandah, kini berubah menjadi sosok yang begitu mengerikan yang siap melenyapkan orang-orang yang dianggap mengganggu.
"sebentar lagi kita akan bersatu. dan Saat itu tiba, aku tidak akan pernah membiarkan kamu lolos sayangku."ucapnya tersenyum aneh menatap ke arah foto milik Zidane.
__ADS_1