Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 112


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,...


Kini, Zidane masih tinggal di kediaman Oma dan Opanya. laki-laki berwajah hitam manis itu, tidak diperbolehkan untuk keluar dari rumah itu. segala macam cara telah dilakukan oleh Zidane. namun laki-laki itu masih belum juga dapat meloloskan diri dari keluarga aneh bin freak itu.


Saat ini, Zidane masih mencoba untuk menghubungi orang rumah untuk menanyakan kabar Haidar. karena laki-laki berwajah hitam manis itu, kini sangat mengkhawatirkan putranya.


"halo, apakah Haidar baik-baik saja?"tanya Zidane saat sambungan telepon itu baru saja terhubung dari seberang sana.


("iya tuan, Tuan kecil Haidar dalam keadaan baik-baik saja.")


Zidane yang mendengar itu, seketika dapat bernafas dengan lega.


'syukurlah kalau begitu.' batinnya lega.


"Ya sudah. kalau begitu, tolong pantau terus anak saya. ini saya masih bekerja di luar kota. saya usahakan, saya akan segera pulang."


("baik Tuan.")


Setelah mengatakan hal itu, Zidane mulai termenung kembali di dalam kamarnya yang berada di kediaman sesepuh Prakoso itu. dirinya sama sekali tidak bisa keluar dari penjara keluarga besarnya itu.


Ingin sekali, rasanya Zidane mengamuk. namun hal itu akan berakhir percuma. karena mereka semua, pasti akan melakukan hal yang lebih gila dari ini. karena laki-laki berwajah hitam manis itu tahu apa yang ada di dalam pikiran keluarga besarnya itu.


"kau masih ingin mencoba untuk keluar?"pertanyaan dari seseorang sukses membuat lamunan Zidane seketika buyar. laki-laki manis itu seketika menoleh sekilas ke arah sumber suara. dan setelah itu, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Ajeng segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri putranya yang tampak tidak memiliki semangat hidup semenjak menikah dengan Tiara beberapa hari yang lalu. wanita itu juga merasa sangat sedih dengan perubahan putranya itu. namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. karena semua keluarga dari keturunan Prakoso, harus mengikuti perintah dari dua sesepuh itu.

__ADS_1


"Mami tahu apa yang kamu pikirkan sayang!"ucapnya mencoba untuk merangkul bahu dari Sang putra. namun dengan cepat, laki-laki berwajah manis itu segera menepis tangan Maminya.


"Mami tidak tahu apa yang aku rasakan. jadi lebih baik, Mami segera pergi dari sini."ucap laki-laki itu dengan raut wajah tenang namun dengan nada suara yang sangat ditekankan di setiap kalimatnya.


Membuat Ajeng yang mendengar itu, sedikit terperangah. karena selama mereka menjalani sebuah keluarga kecil, Ajeng tidak pernah mendengar putranya berkata seperti itu walaupun semarah apapun laki-laki itu terhadap kedua orang tuanya. namun sekarang, laki-laki itu berani mengatakan hal yang menurut Ajeng sangat lancang.


"kenapa kamu seperti ini?"tanya wanita paruh baya itu dengan nada suara yang sangat lirih. membuat Zidan yang mendengar itu, seketika menoleh ke arah wanita paruh baya yang berhasil menghidupinya sampai sekarang itu.


Sejenak kedua mata mereka saling bersinggungan satu sama lain. sebelum akhirnya, laki-laki itu yang memutus kontak mata terlebih dahulu.


"Mami mau tahu aku kenapa seperti ini?"tanya laki-laki berwajah manis itu pada akhirnya. setelah bungkam untuk beberapa lama.


"apa yang membuatmu seperti ini sayang?"dengan cepat, Ajeng mencoba untuk merangkul putranya agar memiliki sifat seperti sedia kala.


Karena jujur saja, akhir-akhir ini wanita paruh baya itu melihat reaksi yang berbeda yang ditunjukkan oleh sang Putra. entah karena apa Ajeng juga tidak mengerti.


Kontan saja, hal itu membuat wanita paruh baya yang berada tepat di sebelah Zidane itu, segera tertawa renyah. karena mengira, putranya kali ini sangat lucu karena berbohong tentang masalah yang menurutnya sangat sakral itu.


"kau jangan berbohong seperti ini. siapa yang mengajarimu berbohong? perasaan, Mami tidak pernah mengajari hal itu."ucapnya masih dengan terkekeh pelan.


"terserah kalau Mami tidak percaya." sahut laki-laki itu dengan nada datar.


Seketika itu pula, Ajeng menghentikan aksi tertawanya dan segera menatap ke arah putranya dengan tatapan yang sangat serius.


"kenapa bisa seperti itu?"tanya wanita itu dengan dada yang teramat sangat sesak. bayangkan saja, laki-laki itu menikah tanpa restu dari kedua orang tua dan juga keluarga besar dari Prakoso. dan hal itu dianggap lancang oleh keluarga itu.

__ADS_1


"Mami kira, kalau aku mengatakan sesuatu hal yang jujur apakah mereka akan menyetujuinya?"bukannya menjawab, Zidane justru malah balik bertanya dengan nada suara sinisnya.


"ta... tapi kenapa bisa seperti itu, sayang? kau tidak menghargai Mami sebagai orang yang telah melahirkanmu?"tanya wanita paruh baya itu mulai mengeluarkan tangisnya.


"karena aku sudah merasa frustasi tidak mendapatkan celah untuk bersatu dengan Asmirandah. dan pada akhirnya, aku melakukan hal gila itu."ucap laki-laki itu Seraya tersenyum kecut.


"sekarang ceritakan sama Mami. apa saja yang kamu lakukan pada Asmirandah? dan kalian selama ini tinggal di mana?"tanya wanita itu dengan emosi yang meluap-luap.


Zidane membuang nafasnya perlahan. dan dengan segera, laki-laki itu mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali pada sang Mami. karena laki-laki manis itu percaya jika sang Mami tidak akan pernah menjerumuskan dirinya.


Sementara Ajeng sendiri, wanita itu beberapa kali akan menutup mulutnya saat mendengar penuturan yang menurutnya tidak masuk akal itu.


"ja.. jadi, kau dan juga Asmirandah sudah memiliki anak?"tanya wanita itu dengan nada suara terbata-bata. karena masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar itu.


Zidane lantas menganggukkan kepala. dan dengan segera laki-laki itu mengeluarkan ponsel miliknya dan menunjukkan sebuah video pada wanita paruh baya itu.


Tubuh Ajeng kini semakin menegang saat baru saja menyelesaikan melihat video itu."kenapa kamu melakukan hal ini sayang?"tanya Ajeng dengan suara yang sangat lembut nyaris saja berbisik.


"karena aku benar-benar sangat mencintai Asmirandah Mam. aku tidak bisa kehilangan dia. dan untuk itulah, aku mendatangi seorang ilmuwan untuk memberikan sebuah ramuan untuk menghilangkan dan melunakkan otak seseorang. dan jadilah momen-momen itu." jawabnya dengan mata yang memerah.


"lalu di mana sekarang istrimu?"tanya wanita itu setelah sukses untuk menguasai dirinya sendiri.


Zidane yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala."aku tidak tahu dia sekarang ada di mana."jawabnya Seraya menghembuskan nafasnya kasar.


Ajeng yang mendengar itu tampak mengerutkan kening. "apakah dia marah besar dan pergi darimu?"tanya wanita paruh baya itu menebak.

__ADS_1


"tidak sepenuhnya benar. karena saat putraku masih berada dalam ruangan NICU, Asmirandah beberapa kali datang menyambangi dan memberikan air kehidupannya pada Putra kami. mungkin dirinya memang marah karena perbuatanku. tapi sepertinya, Asmirandah masih memiliki hati nurani sehingga mau memberikan air itu pada Haidar."jelas Zidane Seraya menyeka sudut matanya yang tiba-tiba saja berair.


__ADS_2