Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 81


__ADS_3

Selepas kepergian dari Zidane, Asmirandah diperlakukan oleh orang-orang suruhan dari laki-laki itu, bak seperti seorang putri raja.


"Nyonya muda, anda mau makan apa?"tanya seorang pelayan yang berdiri tepat di samping wanita cantik itu yang tengah duduk selonjoran.


Gelengan kepala lemah, seketika terlihat dari tubuh wanita cantik itu. membuat semua orang yang ada di sana, seketika menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelah itu menghembuskannya secara perlahan.


Sudah hampir 2 jam wanita yang tengah hamil muda itu tidak melakukan kegiatan apa-apa selain termenung di atas kursi. tadi, setelah kepergian suaminya itu, Asmirandah berniat akan mengunjungi kediaman kedua orang tuanya seperti biasa. namun semuanya gagal total karena laki-laki berwajah manis itu menyewa beberapa orang untuk menjaganya.


Yap selama satu bulan ini, Asmirandah seling sekali pulang secara diam-diam. dan hanya para pekerja rumah kedua orang tuanya yang tahu. Karena Wanita itu melarang keras siapapun untuk memberitahu pada Naomi bahwa dirinya pulang. itu semua dilakukan oleh Asmirandah Bukan Tanpa alasan.


Wanita itu tidak ingin bertemu dengan wanita yang berstatus sebagai kakak kandungnya itu. karena Asmirandah tahu, apa yang akan dilakukan oleh iblis berwujud manusia itu setelah dia berhadapan dengan Asmirandah.


Belum lagi, kedua orang tuanya sering kali menghubungi dirinya secara tiba-tiba. dan jika hal itu sampai terjadi, entah bagaimana caranya Asmirandah harus sampai di kamar pribadinya yang ada di dalam kediaman kedua orang tuanya. dan hal itu didukung penuh oleh Zidan sebagai suaminya. Namun sepertinya sekarang sudah tidak bisa lagi karena mengingat kondisi dirinya yang sedang berbadan dua.


"udahlah. lebih baik, aku istirahat saja."ucap wanita itu yang memutuskan untuk masuk ke dalam kamar pribadinya untuk mengistirahatkan tubuh dan juga pikiran.


drrrttt drrttt


Saat Asmirandah baru saja membaringkan tubuhnya di tempat tidur, terdengar suara ponsel berdering. senyuman Asmirandah seketika markah saat melihat siapa yang menghubunginya.


(halo sayang, bagaimana keadaan keponakanku?)


"bagaimana apanya? bukankah kau baru saja datang kemari? kenapa sudah bertanya seperti itu seakan-akan, kau tidak pernah bertemu denganku ada berapa tahun saja! dengus Asmirandah sedikit kesal.


Membuat Tiara yang mendengar itu seketika terkekeh geli dari seberang sana.


" kau bisa membantuku atau tidak?"tanya Asmirandah saat mereka berdua terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.


(membantu apa?)


"bantu aku keluar dari sini. karena aku, ingin pulang sebentar ke rumah kedua orang tuaku."


(loh, memangnya kenapa Zidane mengurung mu di rumah itu?)

__ADS_1


Asmirandah mendengus."semenjak Bang Zidane tahu aku hamil, dia memperketat penjagaan di rumah ini. padahal menurutku, itu sama sekali tidak penting. aku ini sedang hamil bukan sedang sakit keras, kenapa harus dijaga sampai seperti itu?!"tanyanya dengan suara mengomel khas emak-emak.


Membuat Tiara yang mendengar itu seketika terkikik geli dari seberang sana. yang semakin membuat Asmirandah merasa kesal.


"kenapa kau menertawakanku? bukankah aku benar ini tidak ada artinya? kenapa Bang Zidane mempekerjakan orang-orang di rumah ini. padahal, kita di sini itu hanya berlibur."


(sudahlah nanti kau juga akan tahu)


Asmirandah seketika menutup panggilan telepon itu. Menurutnya, sahabat satu-satunya itu sudah sangat-sangat menyebalkan dan tidak bisa diajak untuk berdiskusi lagi.


Wanita itu memutuskan untuk kembali berbaring di atas tempat tidur. hingga beberapa saat kemudian, wanita itu merasakan sesuatu. rasa ingin yang luar biasa. dan Asmirandah mengakui, baru pertama kali ini menginginkan sesuatu yang begitu menggebu-gebu di dalam dadanya.


"kenapa aku tiba-tiba ingin sekali memakan rujak buah?"tanya wanita itu pada dirinya sendiri.


Dengan langkah cepat, wanita muda itu keluar dari kamar pribadinya dan menghampiri para pekerja yang telah sibuk dengan tugas masing-masing.


"Nyonya muda, ada apa?"tanya salah seorang pekerja yang melihat gelagat aneh dari wanita itu.


"tentu saja nyonya. memang itulah tujuan kami dikirim ke mari oleh Tuan Zidane."jawab salah seorang dari mereka.


Asmirandah mengangguk. wanita itu segera memerintahkan beberapa orang untuk menuruti keinginannya.


Tak lama berselang, beberapa orang yang ditugaskan itu, akhirnya datang dengan membawa beberapa pouch yang berisi rujak buah di tangan mereka.


dengan senang hati Asmirandah mencicipi semua rujak buah yang ada di tangan para pelayan itu.


"kenapa rasanya tidak enak seperti ini?"tanya wanita itu menatap ke arah orang-orang yang ada di sana.


"aku tidak mau."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.


Tentu saja hal itu membuat semua orang, seketika saling memandang satu sama lain. tak lama berselang, dengar suara wanita itu yang kembali menginginkan sesuatu.


****

__ADS_1


Sementara itu di kediaman orang tua Zidane, terlihat laki-laki itu tengah duduk bersama dengan anggota keluarga yang lain.


"kenapa akhir-akhir ini kau jarang ada di rumah?"tanya wanita sepuh yang tak lain adalah nenek dari Zidane.


"Tentu saja aku tengah membangun bisnisku yang ada di luar kota. memangnya kenapa?"tanya Zidane menetap semua anggota keluarga.


"apa kau mengatakannya dengan jujur? kau tidak membohongiku, kan?"tanya sang kakek menatap cucu tertuanya itu.


"tidak!"balasnya dengan singkat.


"apakah kau masih berhubungan dengan gadis itu?"tanya laki-laki tua itu.


Zidane hanya menatap datar ke arah kakek dan juga neneknya yang seperti mengintimidasi.


"sudahlah aku lelah!"sahut laki-laki itu dengan cepat. saat nenek dan kakeknya, akan melayangkan beberapa pertanyaan pada laki-laki itu.


tring


Langkah dari laki-laki itu seketika terhenti saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. dengan secepat kilat, presiden mulai melihat apa yang dikirimkan oleh orang-orang suruhannya itu.


Kedua bola matanya ketika membulat sempurna. saat membaca pesan yang dikirimkan oleh salah satu pelayan rumah itu.


"kenapa ngidamnya aneh sekali seperti ini?"gumam laki-laki itu Seraya menggelengkan kepalanya.


"Kau mau ke mana?!"tanya Ajeng dengan wajah merah padam karena menahan amarah dengan tingkah laku putranya yang menurutnya tidak sopan. apalagi di rumah ini, sedang ada ayah dan ibu mertuanya.


"kenapa anakmu menjadi tidak bermoral seperti itu?!"tanya laki-laki tua menatap tajam ke arah anak menantunya.


"maafkan kami. ke depannya, kami akan lebih memperhatikan tutur kata dan tingkah laku dari Zidane."jawab Rafael Seraya menundukkan kepala begitu juga yang dilakukan oleh Ajeng.


Sungguh, putranya itu benar-benar membuat kesabarannya teruji dengan kuat.


"apa dia masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Rendi --- Ayah dari Rafael.

__ADS_1


__ADS_2