Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 155


__ADS_3

Saat ini seorang wanita tengah berbaring di sebuah ranjang rumah sakit di sebuah kota terpencil di negara itu.


Sudah hampir satu harian penuh, wanita itu belum membuka matanya. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa sangat cemas.


"apakah kalian keluarga dari pasien?"Tanya Dokter wanita Seraya menghampiri sekumpulan para warga yang tadi mengantar wanita itu.


Mereka serempak menggelengkan kepalanya. "kami bukan keluarganya. kami menemukan dia di sekitaran hutan."jelas salah satu dari mereka.


Wanita yang mengenakan pakaian berwarna putih itu, seketika menghela nafas panjang."bagaimana ini? kita tidak bisa mengambil tindakan apapun jika tidak ada persetujuan dari keluarganya."ucapnya dengan nada lirih.


"memangnya keadaannya sangat parah ya, Dok?"tanya seorang wanita paruh baya yang mengenakan tusuk konde kecil disanggulnya.


Dokter itu pun menganggukkan kepala."luka bakarnya mengenai kaki pasien hingga mengakibatkan sedikit pembusukan di sana. dan kami harus melakukan tindakan cepat agar nyawa pasien itu dapat terselamatkan. tapi masalahnya, jika tidak ada persetujuan dari keluarga, kami tidak akan berani melakukan hal itu."papar dokter itu yang bernama Rista.


Semua orang yang mendengar penuturan dari wanita itu pun ikut terdiam. karena mereka juga tidak memiliki kuasa apapun tentang wanita itu.


"coba saja periksa tasnya. siapa tahu kita menemukan identitas ataupun orang yang bisa dihubungi untuk dimintai persetujuan."celetuk salah satu dari mereka memberikan usul.


Dan pada akhirnya, mereka pun sepakat untuk membongkar tas yang ada pada wanita itu. mereka menemukan kartu identitas beserta ponsel yang masih tertata rapi di tempatnya.


"ini dia kartu namanya."ucap salah satu dari mereka Seraya menyodorkan kartu nama dan juga ponsel itu pada dokter Rista.


Membuat wanita itu mau tidak mau, meraih dan mencoba menghubungi orang terakhir dihubungi oleh wanita malang itu.


"semoga saja diangkat."gumamnya pada dirinya sendiri kemudian mulai menekan tombol berbentuk telepon di ponsel itu.


Tut Tut Tut Tut


Lama dokter Rista menunggu, tapi tidak ada tanggapan dari seberang sana. hingga membuat wanita itu, sejenak menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya, menghembuskannya secara perlahan.


"kalau belum diangkat, coba hubungi yang lain dok."


Dokter Rista pun menganggukkan kepala. kali ini wanita itu memencet nama seorang laki-laki yang bernama Jordan.

__ADS_1


Tut Tut Tut Tut


Lama wanita itu menunggu, namun masih belum ada jawaban sama sekali dari seberang sana. hingga pada akhirnya, wanita itu memutuskan untuk menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan hendak memutus sambungan secara sepihak.


Namun, semua itu segera urung dilakukan. saat panggilan itu tersambung dengan sendirinya.


"halo Tuan apakah anda keluarga dari pasien yang bernama Naomi Yovanka Adelia? Jika benar, apakah anda bisa datang ke sini?"tanya wanita itu dengan nafas memburu .karena memang, dikejar oleh waktu yang mengharuskan dirinya segera bertindak dengan cepat.


("iya ada apa? emangnya, apa yang terjadi pada Naomi?") terdengar dari seberang sana, dan tampak sangat kebingungan.


"saya juga kurang tahu tuan. tapi yang jelas, para warga menemukan wanita itu tergeletak di dekat kebun dan juga dalam kondisi luka bakar yang cukup serius." papar dokter Rista dengan tenang.


hening...


Untuk beberapa saat kemudian, suasana mendadak hening. karena tidak ada jawaban dan juga sahutan dari laki-laki itu dari sebelah sana.


"Tuan, apakah Anda masih di sana?"Tanya Dokter Rista hati-hati.


Panggilan pun seketika terputus. dan Hal itu membuat semua orang yang ada di sana, seketika bernafas dengan lega. karena pada akhirnya, ada pihak keluarga dari wanita malang itu yang akan bertanggung jawab. sehingga mereka tidak akan pernah repot-repot untuk membiayai pengobatan wanita itu.


Bukan apa-apa. hanya saja, mereka semua adalah warga yang memiliki ekonomi pas-pasan. sehingga mereka tidak akan pernah sanggup jika harus menolong wanita itu lebih lanjut lagi.


" Dok, apakah kami boleh pulang sekarang?"tanya salah satu dari mereka Seraya menatap dokter Rista.


"oh kalian semua boleh pulang sekarang Terima kasih telah menolong wanita ini."setelah mengatakan hal itu, Dokter wanita itu segera menuju kembali ke ruangannya.


****


Sementara itu di dalam kamarnya, Jordan baru saja mengumpat kesal. karena panggilan telepon itu, sudah menghancurkan niat hati untuk bersenang-senang dengan wanita yang sangat ia cintai itu. namun semuanya berantakan akibat telepon dari entah berantah itu.


Di tambah lagi, di samping laki-laki itu ada Asmirandah yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung.


"siapa yang menelpon?"tanya Asmirandah Seraya merapikan posisi tidurnya.

__ADS_1


"kalau kamu memang mau pergi, pergi saja aku tidak apa-apa di sini sendirian. Lagi pula, aku juga ditemani dengan para pekerja rumah ini, kan? jadi kamu tidak usah khawatir."ucapnya mencoba sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja.


'Karena aku benar-benar muak melihat wajahmu itu.'lanjut wanita itu memakai Jordan. dan hal itu tentu saja dilakukan oleh Asmirandah hanya di dalam hati. Karena Wanita itu, tidak memiliki keberanian untuk melawan secara terang-terangan.


Sekarang ini wanita itu harus bersabar terlebih dahulu. jika nanti waktunya sudah tepat, maka dia akan langsung menghancurkan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. dan itu adalah tekad yang sangat bulat dari seorang Asmirandah.


"tapi kamu nggak papa kan aku tinggal sendirian?"tanya Jordan dengan raut wajah khawatir.


Asmirandah hanya tersenyum Seraya menganggukkan kepala. membuat Jordan yang melihat itu, seketika langsung bangkit dari tempat tidurnya.


"oke! kalau begitu, aku pergi dulu kamu hati-hati di sini."ujarnya Seraya mengecup kening milik wanita itu. dan setelahnya segera berlalu pergi dari sana.


Asmirandah dengan secepat kilat, masuk ke dalam kamar mandi setelah memastikan, laki-laki itu benar-benar pergi dari hadapannya.


"aku tidak akan pernah sudi disentuh oleh laki-laki brengsek sepertimu."ucapnya mengeram kesal.


***


"kenapa lagi sih wanita itu? kenapa selalu meresahkan dan mengganggu kehidupanku?"tanya Jordan Seraya memukul setir mobil itu dengan kencang. dan beberapa saat kemudian, kendaraan roda empat itu segera melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.


***


"sssstttt. awwww ! "terdengar suara pekikan keras dari dalam kamar rawat. itu membuat dokter Rista yang kebetulan lewat, seketika menghentikan langkahnya. kemudian, mulai menajamkan kembali pendengarannya.


"apa dia sudah sadar?"tanya wanita itu pada dirinya sendiri. dan tanpa pikir panjang, dokter Rista segera masuk ke dalam kamar rawat itu.


"syukurlah anda sudah sadar nona."ujar dokter Rista itu dengan menghela nafas lega.


Membuat Naomi yang awalnya fokus pada rasa sakit di tubuhnya, seketika menoleh dan sedikit terlunjak.


bisakah kalian mampir ke sini?


__ADS_1


__ADS_2