Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 88


__ADS_3

Sudah hampir satu jam lamanya, kondisi Asmirandah masih tetap sama. wanita cantik itu masih terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. kabar duka yang begitu mendadak, membuat wanita itu seketika kehilangan dunianya. ada rasa penyesalan dan juga sedikit kebodohan yang tersimpan di dalam otaknya saat mengingat tentang penyebab kecelakaan kedua orang tuanya adalah sendiri.


"Ayah, Bunda, maafkan Mira."ucap wanita itu dengan mata terpejam dan tubuh yang masih menggigil dengan sangat kuat. hal itu tentu saja membuat Zidan dan yang lain yang melihat itu, seketika menatap dengan tatapan penuh dengan duka.


"Sayang aku mohon jangan pernah seperti ini."ucap laki-laki itu dengan raut wajah ketakutan yang luar biasa.


Sementara Jordan dan juga Tiara yang melihat itu, hanya dapat terdiam. hingga beberapa saat kemudian, mereka saling pandang satu sama lain.


'ternyata perasaan yang dimiliki oleh bang Zidane bukanlah perasaan main-main. sepertinya, aku memang harus mundur. & batin Jordan tertawa perih.


Karena sejujurnya laki-laki itu masih sangat mencintai dan mengharapkan wanita yang saat ini telah resmi menjadi milik dari kakak sepupunya itu.


Tadi, selepas dua kantong itu diangkat, Asmirandah seketika tak sadarkan diri dan langsung dibawa ke rumah sakit yang sama dengan tempat otopsi kedua orang tuanya. mengingat Asmirandah saat ini tengah berbadan dua. saat ini, kondisi dari psikologis wanita itu sedang terganggu. dan laki-laki berwajah manis itu sama sekali tidak ingin sesuatu hal yang lebih buruk terjadi kepada orang yang paling ia sayangi.


Karena dapat dipastikan, Zidan akan merasa sangat hancur saat menyaksikan kehancuran dari wanitanya.


"Abang?"panggil Asmirandah pada suaminya itu. hingga si empunya nama, seketika menoleh dan langsung merapatkan tubuhnya menghampiri sang istri.


"iya Sayang, ada apa?"tanya wanita itu dengan raut wajah lembut. bisa mungkin laki-laki itu berekspresi seperti biasa saja agar wanitanya itu tidak semakin misterius jika tahu tentang kebenarannya.


"di mana kedua orang tuaku? tadi aku bermimpi bahwa sesuatu hal yang buruk terjadi pada mereka. dan sekarang, aku merasa sangat lega karena itu hanyalah sebuah bunga tidur semata."ucap wanita itu Seraya menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya, menghembuskannya secara perlahan.

__ADS_1


Sementara Zidane, Jordan dan juga Tiara, ketika anak manusia itu hanya terdiam. tanpa berniat ataupun berminat untuk mengatakan sesuatu pada wanita cantik itu.


"Abang, kenapa?"tanya wanita itu menatap ke arah sang suami dan juga kedua orang yang ada di samping laki-laki itu secara bergantian.


"tidak ada apa-apa sayang. Sebaiknya, kau istirahat saja. karena kau harus menjaga kesehatanmu. ingat Sayang, kau ini sedang hamil."ucap laki-laki berwajah manis itu mencoba untuk memperingatkan sang istri tentang kondisinya.


Karena menurut penuturan dokter, kondisi psikis Asmirandah sangatlah trauma berat akibat kepergian mendadak itu. untuk itulah mereka diminta agar tidak memberikan kode-kode yang dapat membuat ingatan Asmirandah tentang kenyataan pahit keluarganya kembali.


Untuk saat ini, dokter meminta agar orang-orang yang ada di sekitar Asmirandah tidak ada yang membuka suara tentang kematian kedua orang tua wanita itu. karena jika sampai hal itu terjadi, maka dokter tidak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan.


"apa kamu ingin makan?"tanya laki-laki berwajah manis itu mencoba untuk mengalihkan pikiran dari sang istri.


"apakah aku memang benar-benar bermimpi atau benar sesuatu terjadi pada kedua orang tuaku?"bukannya menjawab pertanyaan dari sang suami, Asmirandah justru mempertanyakan suatu masalah yang jauh lebih penting dari hanya sekedar makanan.


Pada akhirnya Asmirandah pun menurut dan memutuskan untuk memejamkan mata. sementara Jordan dan juga Tiara, memutuskan untuk keluar dari kamar VVIP tersebut.


Mata wanita berambut panjang sampai pinggang itu, seketika memerah. dada wanita itu seketika bergemuruh dengan sangat hebat. dan tak lama berselang, ada rasa nyeri yang luar biasa di sana. seperti dadanya yang terhimpit oleh batu yang cukup besar. sesak.


Berkali-kali, wanita cantik itu sampai harus memukul-mukul dadanya sendiri karena rasa nyeri yang semakin lama semakin menjadi itu.


"maafkan aku Asmirandah. aku sama sekali tidak bermaksud untuk membohongimu. jika nanti kau mengetahui semuanya, tolong jangan pernah membenciku."ucap wanita itu terisak.

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Tiara, Jordan berdiri tepat di belakang wanita itu. dan saat ini, tengah menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan. namun tanpa sadar, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kanan dan kiri wajahnya itu, juga ikut meneteskan air mata.


Dengan gerakan cepat, laki-laki yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Zidane itu, langsung memeluk tubuh sahabat Asmirandah itu dengan sangat erat. tidak ada perlawanan dari wanita itu. yang ada, wanita itu justru menangis dengan sangat kencang untuk melampiaskan gemuruh dalam dadanya itu.


"kenapa semuanya bisa sampai seperti ini? kenapa kau menghukum sahabatku sampai seperti ini, Tuhan?"tanya wanita itu meraung-raung di dalam dekapan Jordan. sementara laki-laki itu, hanya terdiam Seraya sesekali mengusap punggung Tiara yang masih tampak bergetar itu.


setelah hampir lima belas menit menangis, pada akhirnya Tiara melepaskan pelukannya. dan langsung menundukkan kepala karena menyadari sesuatu hal. hingga membuat wajahnya, memerah seperti kepiting rebus.


"ma... maaf untuk semuanya."cicit Tiara. melangkahkan kakinya hendak pergi dari sana. namun langkahnya seketika terhenti saat menyadari tangan dari laki-laki itu mencekal pergelangan tangannya.


Tanpa banyak bicara, Jordan segera membawa Tiara ke sebuah bangku yang ada di sebuah taman kecil di dekat rumah sakit itu.


"apa kamu sudah makan?"tanya laki-laki itu dengan ekspresi wajah datar namun dengan sedikit nada lembutnya.


degh degh


Jantung dari Tiara seakan ingin lepas dari tempatnya. saat mendengar suara lembut dari laki-laki yang sudah mencuri hatinya sejak lama itu.


"su... sudah."ucapnya tergagap.


"kalau begitu temani aku makan. aku sama sekali belum memasukkan makanan apapun ke dalam tubuhku. aku takut jika hal ini terus terjadi, aku akan segera pingsan dan menyusul Asmirandah terbaring di rumah sakit."ucapnya dengan raut wajah seperti biasa.

__ADS_1


Namun hal itu sukses membuat Tiara yang mendengarnya, seketika tertawa pelan. wanita itu seakan sedikit melupakan keluh kesahnya tentang kehidupan sahabatnya itu. pada akhirnya, Tiara segera bangkit dan mengikuti langkah dari Jordan untuk menuju ke kantin rumah sakit untuk menyantap makanan.


__ADS_2