Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 160


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di rumah sakit yang berbeda, terlihat dua pasangan yang baru saja memeriksakan kandungannya. siapa lagi orangnya jika bukan Zidane dan juga Tiara. dan setelah memeriksakan kandungan itu, Zidane memutuskan untuk membawa wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu untuk kembali ke rumah.


"bagaimana keadaan Tiara?"setelah sampai di rumah, Zidan dan juga Tiara langsung disambut dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan dari mulut Oma Keisha.


"kandungan Tiara baik-baik saja Oma. dia hanya butuh istirahat karena masih mengalami syok."jelas Zidane mencoba untuk bersikap biasa saja.


"syukurlah kalau begitu. sebaiknya kau istirahat saja jangan terlalu lelah."perintah wanita tua itu pada Tiara. dan hanya dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.


Selepas kepergian dari Oma Keisha dan juga Tiara, Ajeng segera menghampiri putranya itu.


"ada apa Mi?"tanya Zidane dengan raut wajah bingungnya.


"kamu tidak ingin pergi menemui Haidar?"tanya Ajeng dengan ekspresi wajah penuh harap.


Tak langsung menjawab, Zidan tampak terdiam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk dibaca. namun beberapa saat kemudian, laki-laki itu menggelengkan kepalanya.


"kenapa?"tanya Ajeng dengan raut wajah penasaran.


"posisi Haidar sudah sedikit tidak aman."


"maksudmu?"


"kemarin aku nekat datang menghampiri dan menjenguk putraku itu. Mami tahu apa yang terjadi selanjutnya?"tanya laki-laki berwajah manis itu menatap ke arah sang ibu.


Ajeng seketika menggelengkan kepalanya."memangnya apa yang terjadi?"tanyanya dengan raut wajah penasaran.


"wanita tua itu, memerintahkan kepada para pengawal itu untuk mengikuti langkahku. untungnya aku bisa mengatasinya." ujar Zidane dengan mendengus kesal.


Ajeng yang mendengarnya, seketika membulatkan kedua mata. namun tak lama berselang, kebaya itu juga ikut menghela nafas.


"lalu apa rencanamu sekarang?"tanya Ajeng menatap ke arah sang Putra.

__ADS_1


"untuk saat ini yang dapat aku lakukan hanyalah memberikan pengamanan yang lebih ketat untuk Haidar. karena aku tidak ingin mengambil resiko lebih besar dari ini.


Ajeng mengangguk mengerti. dengan segera, wanita paruh baya itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya. karena memang niat awal wanita paruh baya itu keluar, ingin meminta Zidan mengantarkannya pada Haidar. namun setelah mendengar penjelasan dari putranya itu, membuat wanita paruh baya mengurungkan niatnya.


*****


"benarkah kandunganmu sudah tidak sakit lagi, Sayang?"tanya Oma Keisha Seraya mengusap perut dari cucu menantu kesayangannya itu yang mulai membuncit.


"tidak apa-apa Oma, kata dokternya aku hanya diperintahkan untuk beristirahat yang cukup dan tidak memikirkan sesuatu hal yang berat. karena kandunganku ini, masih terbilang sangat mudah masih berada di trimester awal."jelas Tiara dengan tersenyum simpul.


Oma Keisha yang mendengar itu pun hanya menganggukkan kepala. tangannya terulur mengusap perut dan juga mengusap kepala dari wanita yang berhasil menduduki tahta tertinggi setelah suami dan juga anaknya di hatinya. wanita tua itu, benar-benar memanjakan Tiara dengan begitu besarnya.


Andai saja, Tiara tidak menjadi wanita yang jahat, mungkin saja Wanita itu sudah merasa begitu beruntung mendapatkan kasih sayang yang begitu melimpah ruah dari keluarga Prakoso. Sayangnya, hati dari wanita itu masih tertutup oleh dendam dan juga benci. sehingga tidak bisa melihat ketulusan yang ditunjukkan oleh keluarga Zidane.


****


"bagaimana keadaanmu sayang?"tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu tepat di samping Asmirandah yang masih belum mau membuka mata.


"aku mohon jangan seperti ini."ucap laki-laki itu dengan tubuh bergetar hebat menahan rasa sesak di dalam dada.


"sampai kapan kamu akan menutup mata seperti ini sayang? apakah kamu tidak merasa lelah, hmm?"tanya laki-laki itu suaranya mengecup wajah Asmirandah beberapa kali.


"kamu tidak perlu takut sayang, karena orang yang telah membuatmu celaka seperti ini, sudah mendapatkan balasan yang setimpal."ucapnya menatap tajam lurus ke depan.


****


Sementara itu di tempat lain, terlihat Celine yang baru saja kembali dari berjalan-jalan. sesekali wanita itu akan tersenyum lebar membuat Indra yang melihatnya, sejenak mengerutkan kening karena merasa heran dengan tingkah laku dari wanita paruh baya itu.


"kamu dari mana? dan kenapa tersenyum-senyum seorang diri seperti itu? apakah kamu menemukan sesuatu hal yang lucu?"tanya Indra dengan pertanyaan bertubi-tubi dan juga raut wajah yang begitu penasaran.


Seketika itu pula, Celine menggelengkan kepalanya dan merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa saja.

__ADS_1


"kenapa tiba-tiba aku menjadi lapar? apakah kamu mau membuatkan aku ikan bakar?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah memelas.


Indra yang mendengarnya, seketika tersenyum simpul."apa yang tidak jika istriku tercinta Ini yang memintanya?"tanya Indra dengan gaya menggoda. Hal itu membuat Celine yang mendengarnya, seketika tertawa renyah.


"semoga kebahagiaan seperti ini? selalu menghampiri kita. walaupun sudah tidak bisa seperti dulu."gumam laki-laki itu dengan begitu pelan. agar istrinya, tidak kembali bersedih.


Beberapa saat kemudian,...


Indra telah mengangkat ikan bakar yang sudah matang dan dengan segera diletakkan di sebuah daun yang mereka temukan tidak jauh dari tempat mereka saat ini.


"ikan bakarnya sudah jadi."seru laki-laki itu dengan raut wajah penuh dengan semangat.


Membuat Celine yang mendengarnya, seketika kembali tertawa. dan mereka berdua, memutuskan untuk menikmati makanan itu Dengan begitu lahapnya.


Setelah selesai menghabiskan semua menu itu, Indra mengajak sang istri untuk pulang. di sepanjang jalan, wanita itu tak henti-hentinya tersenyum riang. hingga membuat Indra, sedikit merasa heran. Celine menatap ke sekeliling jalanan itu, matanya menyipit saat menangkap sesuatu yang janggal di jurang sana.


"berhenti sebentar Pa,"perintah wanita paruh baya itu pada suaminya.


"ada apa?"tanya laki-laki paruh baya itu dengan raut wajah heran.


"itu Sepertinya di sana ada orang."ucap Celine Seraya menunjuk ke arah tengah-tengah jurang itu.


Indra tampak memicingkan matanya dan seketika itu pula, laki-laki paruh baya itu segera turun dan disusul oleh Celine.


Sesampainya di bawah sana, mereka sama-sama terkejut. dan tak lama berselang, mereka berdua saling tatap satu sama lain.


"kita pergi sekarang!"ucap Indra Seraya menarik tangan sang istri untuk segera pergi dari sana. saat laki-laki itu melihat, siapa yang berada di hadapannya saat ini.


"jangan seperti ini Pah. kita selamatkan saja dia."ucap Celine menolak permintaan dari suaminya itu. membuat Indra yang mendengarnya, seketika memicingkan matanya.


"kenapa Mama bisa mendadak baik dengan orang yang jelas-jelas menjadi penyebab awal kehancuran keluarga kita?"tanya laki-laki itu penuh dengan rasa selidik.

__ADS_1


"karena aku memiliki rencana pembalasan dendam yang jauh lebih menyakitkan."ucap Celine dalam hati.


tidak memperdulikan penolakan dari sang suami. Celine tetap membawa Naomi ke mobil. dan Hal itu membuat Indra tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2