Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 164


__ADS_3

Tiara yang baru tersadar dari apa yang baru saja ia ucapkan itu, segera meralat ucapannya sendiri.


"karena aku merasa, putraku akan mendapatkan perawatan terbaik di rumah sakit ini. maka dari itu, aku tidak merasa begitu khawatir."ucapnya dengan senyuman tipis.


Membuat raut wajah dari Oma Keisha, seketika kembali menjadi seperti semula. wanita itu segera menggandeng tangan dari Tiara untuk meninggalkan rumah sakit. karena memang, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu sudah diperbolehkan pulang oleh dokter Vanessa.


Dengan catatan, Tiara harus sering kali menjenguk putranya itu untuk memberikan air kehidupannya. karena memang, bayi prematur itu masih membutuhkannya.


Sementara itu di luar ruangan, terlihat Ajeng dan juga Zidane yang tengah menunggu di sana. dengan ekspresi wajah dari wanita paruh baya itu yang tampak sekali tidak suka dengan istri dari putranya itu.


"apa bagusnya sih wanita itu? kenapa ibu begitu menyayanginya?"tanya wanita paruh baya itu menggerutu kesal.


Sementara Zidane yang mendengar itu, hanya terdiam dengan sesekali tersenyum kecil saat melihat ibunya masih mengomel.


ceklek


Raut wajah dari Ajeng seketika berubah total. saat wanita paruh baya itu, mendengar suara pintu yang dibuka dari dalam.


"apa semuanya sudah siap?"tanya wanita itu dengan nada yang sangat lembut.


"sudah lebih baik kita pulang!"sahut Oma Keisha dengan menganggukkan kepalanya.


Mereka segera berjalan untuk menuju pintu keluar dari rumah sakit itu. namun di tengah-tengah jalan, Ajeng menghentikan langkah kakinya. hingga membuat semua orang yang ada di sana, juga ikut menghentikan langkah masing-masing.


"Ada apa ?kenapa kau berhenti di tengah jalan seperti ini?"tanya Oma Keisha bertubi-tubi.


Ajeng cuman segera langsung membalikkan tubuhnya menatap ke arah menantu kesayangan dari keluarga Prakoso itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


"apakah kau tidak ingin menemui putramu terlebih dahulu sebelum kita pulang?"pertanyaan dari Ajeng itu, sukses membuat Oma Keisha tersentak.

__ADS_1


Karena wanita sepuh itu, hampir saja melupakan hal sepenting ini. Untung saja Ajeng mengingatkannya. sehingga dengan cepat, wanita sepuh itu menarik tangan Tiara untuk menuju ke ruangan bayi khusus untuk bayi prematur.


Sementara Tiara sendiri, wanita itu hanya mengikuti langkah kaki dan juga tangan yang ditarik oleh wanita renta itu tanpa bisa melawan sedikitpun.


***


"eh Nyonya Tiara. silakan masuk."sapa dokter Vanessa saat melihat siapa yang datang menghampiri ruangan rawat khusus untuk bayi prematur itu.


Dengan sangat terpaksa, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu menuruti perkataan dari dokter Vanessa. dengan langkah hati-hati, wanita itu segera masuk ke dalam sana dan memberikan air kehidupannya itu melalui alat khusus.


Senyum dari Oma Keisha seketika merekah. dengan perlahan-lahan tapi pasti, beberapa kantong kecil yang ada di dalam sana, sudah terisi dengan air kehidupan yang dikeluarkan oleh Tiara.


"wah airnya deras sekali!"ucap dokter Vanessa dengan raut wajah yang sangat kagum.


Sementara Tiara yang mendengar itu, mati-matian tetap mempertahankan senyuman di wajahnya. walaupun di dalam hati, wanita itu tetap merutuki apa yang baru saja ia lakukan ini.


Setelah memastikan semua kantung itu terisi penuh, pada akhirnya wanita itu segera keluar dari dalam sana dengan tetap mempertahankan senyuman manisnya di hadapan Oma Keisha.


"kau benar-benar Ibu yang baik!"ucap wanita itu dengan penuh antusias dan juga penuh kasih sayang.


Sementara Ajeng yang melihat interaksi antara mertua dan juga menantu yang tidak diharapkan itu, memutar bola mata malas. dan dengan segera, mengajak mereka semua untuk pulang ke rumah.


"Nyonya Tiara?"panggil dokter Vanessa dari ambang pintu ruang perawatan bayi prematur.


"iya dok, ada apa?"tanya wanita itu dengan nada sedikit malas.


Membuat dokter Vanessa yang mendengar itu, sedikit merasa tertegun. Namun demikian, wanita itu segera menampik perasaan janggalnya itu.


"mungkin saja, Tiara sudah merasa kelelahan sehingga membuatnya, menjadi seperti ini."batin wanita itu masih mencoba untuk berpositif thinking.

__ADS_1


"tiga hari lagi, anda dan juga suami Anda datang ke sini lagi. ada sesuatu yang ingin saya sampaikan."ucap dokter Vanessa dengan senyuman.


"kenapa harus menunggu 3 hari lagi? kenapa tidak sekarang saja?"tanya Oma Geisha dengan raut wajah penasaran.


"tidak bisa nyonya besar. pemeriksaan itu baru akan selesai setelah 3 hari kemudian. jadi saya harap, Tuan Zidan dan juga Nyonya Tiara akan datang ke sini lagi 3 hari ke depan." sahutnya lagi.


"baiklah baiklah."setelah mengatakan hal itu, mereka semua segera pergi dari sana. mereka semua segera pulang ke kediaman inti Prakoso.


****


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman Peter, terlihat seorang wanita paruh baya yang masih setia untuk menunggu kesadaran dari seseorang yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur.


Siapa lagi orangnya jika Bukan Celine. entah setan apa yang merasuki tubuh wanita paruh baya itu. sehingga dirinya, menjadi begitu baik pada orang yang pada awalnya menghancurkan kebahagiaan keluarganya itu.


"kenapa kamu masih menunggu wanita ini? apakah kau tidak ingat, jika wanita ini adalah penyebab dari semua kehancuran yang kita alami?"tanya laki-laki itu mencoba untuk memperingatkan dan menyadarkan sang istri.


"aku tahu. tapi aku merasa, aku harus menolong wanita ini."sahut wanita itu dengan lemah.


"kenapa? kenapa tiba-tiba kau melakukan ini?"tanya laki-laki itu dengan alis terangkat sebelah.


"karena aku memiliki hati. kenapa lagi?"ujar wanita itu Seraya membuang muka ke arah lain agar tidak ketahuan oleh suaminya apa yang sebenarnya ia rencanakan.


Indra tampak mengerutkan keningnya. Namun demikian, laki-laki paruh baya itu tidak terlalu ambil pusing. tohNaomi sekarang sudah tidak memiliki keluarga inti. sehingga wanita itu, tidak akan pernah berbuat macam-macam lagi.


"Ya sudahlah terserahmu saja. kalau begitu, aku pergi kerja dulu."setelah mengatakan hal itu, Indra segera berlalu dari hadapan Celine. namun sebelum itu, laki-laki paruh baya itu mengecup kening sang istri.


Sepeninggal dari sang suami, Celine segera tertawa terbahak-bahak. Untungnya, kamar yang ditempati oleh mereka saat ini adalah kamar yang kedap dengan suara. sehingga tidak akan pernah membuat orang-orang itu curiga. karena jika tidak, mereka pasti akan mengira bahwa Celine sudah merasa gila.


"aku akan menghancurkan Asmirandah melalui kakak kandungnya sendiri!"ucapnya dengan seringai lebar.

__ADS_1


__ADS_2