
Asmirandah menarik tangan sahabatnya itu untuk duduk di sofa yang memang ada di kamar itu. kedua matanya, tak hentinya menatap ke arah Tiara dengan tatapan jangan tajam.
Sementara Tiara sendiri, wanita itu hanya terdiam. dan sesekali, akan menunjukkan kepala dengan raut wajah menyesalnya.
"maafkan aku Asmirandah! aku benar-benar tidak bermaksud untuk membagikan keberadaanmu kepada orang lain. foto itu aku unggah, karena ada Jordan di dalamnya. kau tahu sendiri kan, kalau aku sangat menyukai laki-laki itu?"tanya Tiara mencoba untuk mengingatkan sahabat yaitu tentang tujuan mereka berada di tempat ini.
"aku tahu Tiara. tapi apa tidak bisa, hanya foto kalian berdua yang di Pampang? kenapa harus fotoku juga?"protes Asmirandah menatap ke arah sahabatnya itu.
"aku hanya ingin memperlihatkan momen yang sangat spesial di antara kita. itu saja. tolonglah Asmirandah, jangan marah seperti ini."mohon Tiara dengan mengatupkan kedua tangannya itu di depan dada. dengan raut wajah yang terlihat sangat menyesal.
Asmirandah yang melihat itu, seketika merasa tidak berkutik. dan beberapa saat kemudian, wanita itu menghela nafas panjang.
"Ya sudahlah kalau begitu. lebih baik, kita keluar aku lapar."setelah mengatakan hal itu, Asmirandah melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari kamar mereka. dan hal itu diikuti oleh Tiara di belakangnya.
Di sepanjang perjalanan, Tiara tak henti-hentinya membujuk dan mengajak sahabatnya itu untuk berbicara. dan setelah sekian lama, akhirnya Asmirandah dapat bersikap seperti biasa. dan tentu saja hal itu membuat Tiara yang melihatnya, kembali tersenyum cerah. setelah sebelumnya, tubuh Tiara sedikit menegang akibat sikap sahabatnya itu.
"eh kalian mau makan?" terdengar pertanyaan dari seseorang yang berada di belakang mereka berdua. membuat Tiara dan juga Asmirandah yang mendengar itu, seketika membalikan tubuh mereka. dan mendapati Jordan dan juga Chandra, berdiri tepat di belakang kedua wanita itu.
Tiara dengan segera, menganggukkan kepala dengan tersenyum simpul. sementara Asmirandah, wanita cantik itu hanya terdiam tanpa merespon pertanyaan dari kedua laki-laki itu.
"apa boleh kita gabung?"tanya laki-laki itu pada mereka berdua.
"tida..."ucapan Asmirandah seketika terhenti Di udara setelah mendapatkan senggolan dari lengan Tiara. dan tak lama berselang, wanita itu memberikan kode kepada Asmirandah agar tetap diam di tempatnya.
"boleh saja kok Kak. kebetulan kita juga ingin sarapan."jawab Tiara dengan antusias. sementara Asmirandah, lagi-lagi hanya dapat membuang nafasnya kasar.
Akhirnya mau tidak mau, Suka tidak suka, Asmirandah mengikuti keinginan dari sahabatnya itu. walaupun ada rasa tidak rela yang menyelinap masuk ke dalam hati wanita itu.
__ADS_1
Tak terasa, mereka berempat telah sampai di depan sebuah restoran yang kemarin digunakan kedua wanita itu untuk makan malam.
"kalian mau duduk di mana?"tanya Jordan menatap ke arah Asmirandah. namun dengan cepat, Tiara menyahut pertanyaan dari laki-laki itu.
"di dekat jendela saja. itu lebih nyaman."sahut Tiara dengan senyuman. membuat kedua laki-laki itu, seketika menganggukkan kepala.
"baiklah kalau begitu ayo kita ke sana."setelah mengatakan hal itu, Jordan dan juga Chandra mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ke meja yang telah ditunjuk oleh Tiara.
Sementara Tiara dan juga Asmirandah, memutuskan untuk berjalan di belakang mereka.
"kamu apa-apaan sih? kenapa kamu membiarkan mereka untuk bergabung dengan kita?"protes Asmirandah menatap tajam ke arah sahabatnya itu.
"sudahlah Asmirandah, semua akan baik-baik saja. lagi pula jika kau tidak nyaman, aku yang akan mengatasi semuanya. kau tinggal duduk manis saja."ucapnya tanpa beban.
"terserahmu saja."sahut Asmirandah Seraya berjalan menghampiri kedua laki-laki tampan itu.
"Jadi kalian di sini hanya satu minggu saja?"tanya Chandra menatap ke arah Tiara dan juga Asmirandah secara bergantian. tak berselang lama, laki-laki itu menatap ke arah Jordan yang berada di sampingnya.
Laki-laki itu yang mengetahui apa yang dimaksud oleh sahabatnya, segera melayangkan tatapan tajam ke arah Chandra. membuat laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, hanya terkekeh pelan.
Tak lama berselang, mereka telah menyelesaikan acara makannya masing-masing. dan Asmirandah, memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya. Karena Wanita itu, berniat akan menuju ke kamar.
"kita di sini sajalah."ucap Tiara menatap ke arah sahabatnya itu dengan tatapan memelas.
"terserahmu saja."sahut Asmirandah dengan cepat. Karena Wanita itu, sepertinya Sangat malas untuk berdebat dengan sahabatnya kali ini.
Tentu saja hal itu membuat Tiara yang mendengarnya, merasa sangat girang."yeah Makasih sahabatku."ucapnya Seraya memeluk tubuh Asmirandah dengan erat. dan kejadian itu, tidak luput dari pengawasan 2 laki-laki tampan yang masih setia berdiri di tempatnya.
__ADS_1
"bukankah Mereka terlihat manis?"tanya Chandra Seraya menarik turunkan alisnya menatap ke arah sahabatnya itu.
"mereka memang manis. tapi sayangnya, aku sama sekali tidak berniat untuk berhubungan dengan salah satu diantara mereka."jawab Jordan dengan datar.
Hal itu membuat Candra yang mendengarnya, seketika menghela nafas panjang. laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu, sepertinya sudah merasa frustasi. sudah berbagai cara, laki-laki itu lakukan agar sahabatnya itu, kembali seperti dulu.
Jangan hanya karena satu wanita yang membuatnya patah Hati, lantas menghukum dan membuat statement bahwa semua wanita itu sama.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat Zidane yang masih mengurung diri di kamar pribadinya. laki-laki berkulit hitam manis itu masih berharap jika Tiara kembali membuka pesannya. namun sampai pagi ini, wanita itu masih belum membuka pesan darinya.
"aaakkkhhhh! sial!"umpat Zidane dengan kesal. Laki-laki itu berniat ingin kembali menghubungi Tiara. namun hal itu segera diurungkan, saat melihat layar ponselnya yang tertera nama seseorang di sana.
"Mami, ada apa kenapa nelpon pagi-pagi seperti ini?"tanya Zidane pada dirinya sendiri.
namun, laki-laki itu tetap mengangkat panggilan yang berasal dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"halo Mam, ada apa?"tanya Zidan setelah panggilan itu terhubung.
(halo Zidane, apakah kamu sudah sarapan pagi hari ini?) tanya Ajeng dari seberang sana.
"sudah Ma, Zidane sarapan roti."bohong laki-laki itu. padahal sejak semalam, Zidane sama sekali belum mengkonsumsi apapun. dan hal itu diketahui oleh Ajeng.
Hanya saja, wanita paruh baya itu memutuskan untuk bertanya pada putranya sendiri agar menemukan jawaban dari bibir laki-laki itu. Namun ternyata, yang didapat oleh Ajeng hanyalah kebohongan belaka.
Tentu saja hal itu membuat wanita paruh baya itu sedikit merasa sakit. karena seumur hidupnya, putranya itu belum pernah berani untuk berbohong. tapi sekarang, Zidane telah berani melakukan hal itu.
__ADS_1