Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 232


__ADS_3

Setelah memastikan Zidane pergi dari sana, wanita itu segera naik ke atas ranjang untuk memeluk tubuh dari Haidar yang masih terlelap dan terbuai di alam mimpi.


"sayang Mama pamit dulu ya. besok, kita main lagi."bisik wanita itu tempat di telinga putranya.


Dan Hal itu membuat bocah kecil berusia 2 tahun itu seketika menggeliat karena mungkin merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Asmirandah. dan itu membuat Asmirandah, seketika terkekeh kecil karena melihat betapa lucunya putranya saat ini.


Namun tak lama berselang, terdapat lelehan air mata yang membanjiri wajah cantik wanita itu. disusul oleh suara isakan tangis pun terdengar.


Sungguh Asmirandah ingin memutar waktu dan menghentikan waktu untuk beberapa saat ke depan. karena dia tidak ingin kehilangan momen-momen berharganya bersama dengan Haidar. karena sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia tanpa melihat perkembangan dari putranya itu.


Akan tetapi, apa mau dikata semuanya sudah terlanjur terjadi dan juga sudah tidak bisa dikembalikan seperti semula. yang dapat dilakukan oleh Asmirandah saat ini, hanyalah memperbaiki semuanya.


"euuumm."Asmirandah tersentak kaget saat melihat putranya itu menggeliat Seraya meregangkan otot-ototnya.


Buru-buru, wanita itu segera turun dari atas tempat tidur. karena Asmirandah takut, jika nantinya Haidar membuka mata, maka bocah kecil itu pasti akan rewel dan tidak memperbolehkan dia untuk pulang. sementara posisinya saat ini, masih tidak aman.


"kenapa kamu seperti dikejar setan seperti itu?"tanya Zidane saat melihat tingkah laku dari mantan istrinya yang tampak terburu-buru saat melangkahkan kaki.


Membuat Asmirandah yang mendengar itu seketika menoleh ke arah sumber suara.


"aku hanya takut Haidar akan membuka matanya. jika hal itu sampai terjadi, maka aku pasti tidak akan pernah bisa pulang karena Haidar pasti tidak ingin berpisah denganku."ucap wanita itu tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


Bukan karena tidak sopan. akan tetapi Asmirandah merasa sangat lemah jika harus bertatapan dengan laki-laki itu.


"hmmm baiklah kalau begitu."setelah mengatakan hal itu, Zidane segera masuk ke dalam kamar. laki-laki berwajah manis itu harus memastikan apakah putranya benar-benar terbangun atau tidak.


Sementara Asmirandah, wanita cantik itu segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ajeng yang memang ada di ruang tamu.


"tante apakah kita bisa pulang sekarang?"tanya wanita itu dengan nada suara terburu-buru.

__ADS_1


Membuat Ajeng yang sempat membaca majalah, seketika langsung menghentikan aktivitasnya. kemudian, melangkahkan kakinya untuk menghampiri wanita itu.


"kenapa buru-buru seperti ini? apakah ada masalah?"tanya wanita paruh baya itu dengan ekspresi wajah penuh selidik.


Asmirandah seketika menggelengkan kepalanya. "tidak tante. aku hanya tidak ingin, jika nanti Haidar terbangun maka aku akan susah untuk pulang."ucap wanita itu Seraya tersenyum manis.


Membuat Ajeng yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. karena memang hal itu yang akan terjadi nantinya jika Haidar terbangun dan melihat ibunya pergi meninggalkannya.


"baiklah kalau begitu. lebih baik sekarang kita segera pergi saja sebelum anak itu membuka matanya."Ajeng langsung berdiri dan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa untuk menuju ke pintu utama rumah itu.


****


Saat ini mereka berdua sudah berada di depan gerbang bangunan itu. dan sesekali Asmirandah akan menoleh ke belakang. karena memang, wanita itu belum merelakan atas kepergian saat ini. tapi apa hendak dikata, semua itu harus dia lakukan agar tidak memperumit masalah.


"huuuaaa!! Mama!"


Asmirandah seketika tersentak kaget. saat Indra pendengarannya, menangkap suara seorang anak kecil yang menangis dengan sangat kencang yang berasal dari dalam bangunan itu.


Ajeng yang mendengar itu tampak terdiam. karena memang wanita itu belum begitu jelas saat mendengar suara dari cucunya itu.


"sebaiknya kita segera pergi dari sini. sebelum Haidar benar-benar melarangmu untuk pergi."setelah mengatakan hal itu, Ajeng segera membawa pergi Asmirandah untuk menuju ke kediaman keluarga Prakoso.


****


Sementara itu di dalam kamar, terlihat bocah kecil itu Yang tengah menangis tersedu-sedu karena tidak mendapati sang ibu berada di sampingnya.


"Huuuaaa! Mama!"semakin lama, teriakan dari bocah kecil itu semakin menjadi-jadi. dan Hal itu membuat Zidane, seketika kewalahan. karena memang laki-laki tidak pernah melihat putranya sampai seperti ini.


"biarkan kami yang mengurusnya Tuan."beruntungnya, dua pengasuh Haidar segera datang menghampiri kamar itu dan langsung memeluk tubuh bocah kecil itu dengan erat.

__ADS_1


"mau Mama!" rengekan dari Haidar itu tentu saja membuat hati dari Zidane merasa sakit luar biasa. namun apa yang harus dilakukan? karena memang tidak ada yang bisa dilakukan oleh laki-laki itu.


semoga saja penderitaan ini bisa cepat diatasi! batin Zidane teriris pilu.


Kemudian karena merasa tidak tahan dengan pemandangan yang ada di hadapannya saat ini, laki-laki itu memutuskan untuk keluar. karena memang dia tidak mengetahui cara bagaimana menenangkan seorang anak kecil. karena hal itu, sudah diserahkan oleh para pengasuh sejak lama.


***


Asmirandah keluar dari dalam mobil milik Ajeng dengan perasaan yang begitu lesu. wanita itu langsung masuk ke dalam rumahnya. namun sebelum itu, dia membuka topeng kulit yang masih bertengger di wajahnya itu. hampir saja, Miranda melupakan akan hal itu.


'huh Untung saja aku mengingatnya.' hatinya bernafas dengan lega.


Tanpa disadari oleh wanita itu ada seseorang yang mengamati mereka dengan senyuman aneh yang terbit dari bibirnya. kemudian tanpa pikir panjang lagi, wanita itu segera memutuskan untuk mengambil gambar. Kemudian mengirimkannya pada seseorang.


****


"kau habis dari mana Sheila?"Asmirandah terkesiap. saat wanita cantik itu, mendapati suara dari seseorang yang sangat familiar.


Membuat perlahan tapi pasti, wanita cantik itu segera mengembalikan tubuhnya secara perlahan dan mendapati wanita sepuh itu tengah duduk di ruang keluarga.


"emmm ak..aku..."


"Dia baru saja ikut denganku."tiba-tiba saja, Ajeng muncul dari arah belakang. dan Hal itu membuat aspiran rasa ketika membulatkan kedua matanya.


Karena Wanita itu berpikir, jika Ajeng akan menggagalkan dan membongkar semuanya.


"emangnya kalian dari mana?"tanya wanita renta itu Seraya menatap keduanya dengan tatapan bingung.


"membelikan makanan yang akan dibawa oleh Zidane menuju ke salah satu panti di negara ini."dengan santainya, Ajeng mengucapkan hal itu. perkataan itu sontak saja membuat Asmirandah seketika membulatkan kedua matanya dan menatap mantan mertuanya itu dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


'apakah dia akan membongkar semua rahasiaku?'batin Asmirandah yang mulai gelisah.


Ajeng yang melihat itu, seketika memberikan kode pada Asmirandah untuk dia bersikap dengan tenang. karena wanita paruh baya itu, tidak akan pernah melakukan hal nekat seperti itu.


__ADS_2