
"Yudha, tolong kamu harus bangun sayang. Mama janji, Jika kamu benar-benar membuka matamu mama akan langsung menuruti apa permintaanmu."ucap Celine Seraya meraung-raung menangisi tubuh putranya yang telah terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit itu.
Di sinilah mereka sekarang. kamar mayat sebuah rumah sakit ternama di kota. tengah menangisi Putra tunggal mereka yang sudah tidak bernyawa itu.
Sementara Indra, laki-laki paruh baya itu segera membawa tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya.
"sabar ya Sayang, kita ikhlaskan saja anak kita! supaya dia, bisa lebih tenang di sana."ucap Indra mencoba untuk menenangkan istrinya.
Padahal dalam hati laki-laki itu juga merasakan kehancuran yang luar biasa sama seperti istrinya.
Dan pada akhirnya, jasad dari Yudha segera dibawa pulang setelah urusan dengan pihak rumah sakit dan juga pihak kepolisian itu selesai. sementara Celine wanita paruh baya itu, tak henti-hentinya meraung. bahkan sesekali, akan jatuh tak sadarkan diri.
Hal itu semakin membuat Indra semakin merasa frustasi.
"aku harus menghubungi Asmirandah!" tiba-tiba saja, Celine berkata seperti itu. membuat semua orang yang ada di sana, merasa sangat terkejut. Indra, mencoba untuk mencegah. karena laki-laki itu seakan tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu.
"Mah, jangan seperti ini!"tegur Indra mencoba untuk menyadarkan istrinya kembali. namun hal itu malah membuat Celine merasa semakin tertantang.
Wanita paruh baya itu, seketika mengamuk dengan membabi buta."kenapa Papa melarang Mama untuk menghubungi wanita itu? asal Papa tahu, Ini semua tidak akan pernah terjadi jika wanita itu mau kembali dengan Yudha. dan sekarang Papa lihat apa yang terjadi pada anak kita?!"Sentak wanita itu Soraya mendorong dan memukul-mukul badan milik laki-laki paruh baya itu.
"aku membencimu Asmirandah aku membencimu!"dalam pelukan suaminya pun, Celine masih tetap menggaungkan kalimat yang sama. sementara Indra sendiri, masih mencoba untuk menenangkannya.
Dan pada akhirnya, prosesi pemakaman itu pun tetap berlangsung di malam itu juga. dan sudah pasti, banyak keluarga yang datang untuk melakukan bela sungkawa terhadap keluarga Peter. termasuk juga dengan keluarga Prakoso.
Walaupun sesepuh dari keluarga itu sangat membenci dan memandang sebelah mata pada keluarga Indra itu, mereka masih tetap menyempatkan untuk berkunjung ke rumah keluarga Peter. hanya sekedar memanusiakan manusia tidak lebih.
Selesai acara itu, semua orang yang ada di sana segera pulang ke rumah masing-masing. hanya tersisa Indra dan juga Celine sebagai orang yang masih ada di pemakaman itu.
__ADS_1
Sejak tadi, wanita paruh baya itu masih tetap bergumam lirih di depan gundukan tanah milik putranya itu. dengan sesekali, akan menangis terisak.
"Mama akan membalaskan semua rasa sakit hatimu!"ucapnya lirih Seraya membenamkan bibirnya di batu nisan milik laki-laki itu.
Setelahnya, mereka segera pergi dari sana dengan perasaan yang berkecamuk di dalam dada masing-masing.
***
"Yudha telah mati!"beritahu Jordan pada Naomi. saat mereka, tengah bersantai di ruang tamu setelah perbincangan keduanya yang cukup panjang itu.
"kenapa bisa seperti itu?!"tanya Naomi dengan raut wajah sedikit terkejut. karena setahu wanita itu, kondisi dari Yudha terakhir kalinya, menunjukkan keadaan yang baik-baik saja. namun sekarang, hal mengejutkan justru terjadi.
"dia sempat mengamuk sebelum menabrak pembatas jalan! itu saksi dari orang-orang yang melihat mobilnya sedikit oleng.
Seketika itu pula, senyuman sinis dari wanita itu seketika terbit."baguslah! kalau begitu, aku tidak bersusah payah untuk melenyapkan laki-laki tidak berguna itu!"ucapnya dengan kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.
"benar juga apa katamu!"sahut Jordan yang juga ikut menikmati makanan yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba saja laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu, seketika terbatuk-batuk. setelah tidak sengaja, membuka salah satu grup di aplikasi hijaunya.
"ini serius?"tanya laki-laki itu dengan ekspresi wajah tak percaya.
"Ada apa, memangnya?"tanya Naomi dengan raut wajah penasaran. dengan perlahan tapi pasti, wanita itu ikut melihat apa yang sedang dilihat oleh Jordan.
Dan seketika itu pula, kedua bola matanya membulat sempurna. dengan tubuh yang menegang.
"ini pasti tidak mungkin!" pekiknya keras dan dengan segera kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
Sementara Jordan, laki-laki itu hanya terdiam mencerna apa yang sebenarnya terjadi. bukankah kakaknya itu menolak untuk dijodohkan dengan Tiara? lalu kenapa semuanya malah menjadi seperti ini? batin Jordan bertanya-tanya.
"kenapa kau diam saja?"tanya wanita itu Seraya menyentak tubuh dan lamunan dari Jordan. hingga membuat si pemilik, seketika kembali tersadar dari aksi bengong nya itu.
Karena merasa sangat frustasi, pada akhirnya Naomi memutuskan untuk pergi dari sana. tentunya dengan membawa hati yang sangat dongkol dan juga penuh dengan dendam.
"aku harus menghubungi Tiara!"gumam laki-laki itu Soraya mengeluarkan benda pipihnya kembali. karena sebelumnya, sempat berada kembali di dalam kantong.
("halo Jordan, ada apa?") tanya Tiara dari seberang sana.
"halo Tiara, harusnya aku yang bertanya Ada apa denganmu? kenapa kau malah menerima perjodohan itu?"tanya Jordan dengan rahang mengeras.
("Tentu saja aku menerimanya. karena apa yang dipilihkan oleh keluargaku, itu pasti pilihan yang terbaik!") terdengar kekehan dari seberang sana.
Tut
Jordan segera melempar benda pipih itu ke sembarang arah. dan dengan segera, masuk kembali ke dalam kamar yang masih ditempati oleh Asmirandah.
"aku benar-benar mencintaimu! dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merebutmu dariku!"setelah mengatakan hal itu, Jordan segera menyembunyikan wajahnya di balik leher milik Asmirandah. laki-laki itu melingkarkan tangannya di tubuh mungil milik istri dari kakak sepupunya itu.
****
Terdengar suara tawa yang sangat keras dari dalam kamar Tiara. membuat siapa saja yang mendengarnya, pasti akan mengira jika wanita itu tengah mengalami gangguan jiwa. namun jika ditelusuri lebih dalam, suara tawa itu terdengar sebagai suara tawa yang sangat getir dan juga menyedihkan.
"kenapa kamu melakukan ini Jordan? apakah kamu tidak tahu jika kamu menyakitiku? aku benar-benar sangat mencintaimu. tapi kenapa kamu malah memilih Asmirandah sebagai wanita yang kamu cintai?"Tiara meracau tidak jelas. disertai dengan tawa dan juga tangis yang hampir bersamaan.
"aku bersumpah! akan merebutmu dari wanita itu! dan setelah aku mendapatkannya, aku tidak akan pernah melepaskanmu!"ucapnya dengan nada penuh berapi-api.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh wanita itu bahwa sejak tadi ada seseorang yang menguping pembicaraannya dengan seseorang yang ada di telepon. siapa lagi orangnya jika bukan Ajeng. wanita yang menjadi ibu mertua dari Tiara dan juga Asmirandah.
Mendadak, wanita itu merasa sangat pusing dengan segala permasalahan yang dialami oleh Zidane dan dua wanita itu.