Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 143


__ADS_3

Setelah memastikan sang cucu kembali tenang dan juga terlelap, wanita paruh baya itu melihat jam yang tertera di layar ponselnya.


Tak lama berselang, benda pipih itu pun berdering. menandakan, bahwa ada pesan masuk dari seseorang.


"iya Zidane ada apa?"tanya wanita paruh baya itu dengan sesekali menatap ke arah sang cucu yang saat ini tengah terlelap dalam dekapannya.


("Mami ada di mana? masih ada di mall atau sudah pulang?").


"Mami ada di rumah kamu sayang. lebih baik jika kamu sudah selesai mengurusi pekerjaanmu, kamu segera datang ke sini."


("memangnya, ada apa Mam?")


Terdengar suara dari Zidane yang mulai panik dari seberang sana. dengan segera Ajeng mulai menenangkan laki-laki itu.


"sayang anakmu sepertinya hanya merindukan sosok ibunya. Karena setelah mami pakaikan selimut dari pakaian Asmirandah, dia langsung terdiam dan juga sekarang terlelap dengan wajah damainya."ucap wanita paruh baya itu mencoba untuk menjelaskan semuanya agar tidak semakin rumit.


("syukurlah kalau begitu.")


" ya sudah! kalau begitu, Kau boleh bekerja kembali. nanti setelah selesai bekerja, tolong jemput Mami di sini."


("baik Mami.)


Ajeng seketika menghela nafas panjang setelah berhasil menenangkan kepanikan dari Sang putra. karena wanita paruh baya itu yakin jika caranya itu tidak berhasil, maka semua pekerjaan akan berantakan. pasti itu akan membuat semua orang yang ada di kediaman Prakoso menjadi curiga. dan Ajeng tidak ingin hal itu sampai terjadi.


"kenapa kamu sering rewel seperti ini, sayang?"tanya Ajeng Seraya mengusap wajah damai milik cucu pertamanya itu dengan begitu penuh kasih sayang.


****


Sementara itu di dalam ruangan pribadi milik Zidane, tampak laki-laki itu tengah berpikir sesuatu.

__ADS_1


"kenapa aku bisa melupakan hal ini?"tanya Zidan merutuki kebodohannya sendiri. sebenarnya, laki-laki itu ingin bertanya kenapa sang Ibu bisa berbohong tadi pagi. kenapa, langsung mengatakan jika ingin menemui Haidar. kenapa harus berbohong ingin diantarkan ke mall? apakah ada sesuatu hal yang begitu penting sehingga dirinya tidak boleh mengetahui hal itu? pertanyaan-pertanyaan itu, seketika menyeruak dari dalam kepalanya.


"aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku ini agar bisa segera sampai di rumah."gumamnya sembari melanjutkan pekerjaan yang masih sangat menumpuk itu.


***


"kamu benar-benar tidak apa-apa?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah khawatirnya.


"aku baik-baik saja Oma. Oma tidak perlu khawatir."sahut Tiara dengan senyuman tipis.


"tidak bisa seperti itu Tiara. pokoknya, Oma akan tetap memberikan pelajaran pada wanita itu. berani-beraninya dia membuat cucu kesayangan Oma terluka seperti ini."ucapnya penuh dengan amarah.


Sementara Tiara, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, seketika menggelengkan kepalanya."tidak perlu repot-repot Oma. aku bisa melawan dia sendiri."


"apakah kamu yakin?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah tak percaya. dan langsung dijawab anggukan kepala oleh wanita itu.


"baiklah kalau begitu. Oma terserah kamu saja."


Diam-diam, Tiara menyunggingkan senyuman tipis."aku akan membalas wanita itu dengan hal yang lebih menyakitkan dari hanya sekedar perlakuan fisik."puncaknya penuh dengan dendam.


Sesampainya di kediaman Prakoso, dua wanita berbeda generasi itu segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah mewah itu.


"kenapa rumah ini sepi sekali?" tanya wanita sepuh itu seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah.


"Ina! Weni!" teriak Oma Keisha dengan suara yang sangat nyaring.


Membuat nama yang baru saja dipanggil, ketika berjalan tergopoh-gopoh menghampiri.


"iya Nyonya besar, ada apa?"tanya Weni Seraya membungkuk hormat.

__ADS_1


" ke mana semua orang?"tanya Oma Keisha dengan tatapan mata yang begitu aku dan juga dingin.


"Tuan Rafael dan Tuan Zidane tengah berada di perusahaan. sementara Tuan besar Galang, tengah berada di ruangannya."jawab Weni dengan sedikit takut-takut.


"lalu di mana Ajeng?"tanya wanita sepuh itu karena tidak melihat keberadaan sang menantu.


"halah paling juga menemui cucunya itu."tanpa sadar, Tiara mengatakannya. sontak saja hal itu membuat Oma Keisha yang mendengarnya, ketika menoleh ke arah Tiara.


"kamu bicara apa Tiara?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menatap cucu menantunya itu dengan tatapan curiga.


Seketika itu pula, Tiara gelagapan dibuatnya."a..aku tidak berbicara apa-apa Oma. mungkin saja, Oma hanya salah dengar."kilahnya dengan raut wajah sebiasa mungkin.


"oh kalau begitu, Oma masuk dulu ke kamar."setelah menyelesaikan ucapannya, wanita sepuh itu segera berjalan masuk ke dalam kamar.


Sementara Tiara sendiri, wanita itu langsung merutuki kebodohannya."kenapa bodoh sekali. Untung saja Oma Keisha percaya. jika tidak, maka rencanaku akan hancur berantakan." gumamnya menghela nafas lega.


Wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu memang akan membongkar kebenaran tentang Zidan yang telah memiliki anak dengan Asmirandah. Namun bukan sekarang waktunya. wanita itu akan menekan Zidane terlebih dahulu. karena hanya Haidar yang membuat Zidane takut dan menuruti keinginannya.


***


Sementara itu di lain tempat, terlihat seorang wanita yang tengah meringkuk di atas tempat tidur.siapa lagi orangnya jika bukan Asmirandah. wanita itu Tak ubahnya seperti seekor burung yang berada di dalam sangkar emas. di beri makan yang enak, diberi tempat tinggal yang sangat nyaman, namun tidak diberi kebebasan. hingga wanita itu, masa begitu hampa.


Apalagi akhir-akhir ini, ia sangat merindukan Haidar putranya. entah apa yang terjadi pada Putra kesayangannya itu. semoga, di manapun dia berada tetap dikelilingi dengan orang-orang yang berhati malaikat.


Karena memang wanita itu sama sekali tidak diperbolehkan untuk menyentuh atau menggunakan ponsel. jika sampai ketahuan, maka bukan hanya dirinya yang akan disiksa. melainkan para pekerja di rumah itu yang akan mendapatkan siksaan yang lebih kejam dari Jordan.


Laki-laki yang memiliki jambang tipis di kanan dan kiri wajahnya itu, benar-benar menjelma menjadi sosok yang begitu mengerikan. dan Asmirandah tidak tahu apa yang bisa membuat laki-laki itu berubah drastis.


"Mama benar-benar kangen sayang."ucap wanita itu dengan air mata berderai.

__ADS_1


Saat ini wanita itu tengah berada di kamar seorang diri dengan berbagai macam fasilitas yang ada di dalamnya. namun hal itu sama sekali tidak membuat wanita hamil itu bahagia. karena yang tersiksa itu bukanlah fisiknya melainkan hatinya. dan Asmirandah tidak tahu, sampai kapan dirinya akan berada di tempat seperti ini.



__ADS_2