
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di dalam mobil lihat sepasang lansia yang tengah mengikuti sebuah mobil milik seseorang. karena memang, sepasang suami istri itu merasa begitu curiga dengan tindakan yang akhir-akhir ini dilakukan oleh Zidane.
"jangan sampai, kita kehilangan jejak dari Zidane Pak."ucap Oma Keisha penuh dengan raut wajah yang begitu serius.
"kamu tenang saja Bu. orang-orang yang mengikuti cucu kita itu pasti akan mendapatkan informasi yang seperti kita inginkan."sahut Opa Galang seraya mengusap pundak dari istrinya itu.
Oma Keisha hanya menganggukkan kepala Seraya kembali menetap ke depan sana mengawasi gerak-gerik dari Zidane. jangan sampai dirinya kecolongan lagi. karena dulu pernah memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti langkah dari Zidane. namun apa yang wanita rentah itu dapat sungguh mengecewakan. karena orang-orang yang ia suruh, tidak ada jejaknya. alias menghilang begitu saja.
Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh Zidane berhenti tepat di depan sebuah bandara internasional di kota itu. membuat kedua lansia itu, seketika saling tatap satu sama lain. dan tak lama berselang, mereka mengerutkan kening.
"untuk apa dia berhenti di bandara?"tanya Oma Keisha dengan raut yang begitu terlihat. tiba-tiba saja, wanita tua itu teringat akan ucapan dari Tiara.
"paling dia juga menemui anaknya yang lain."kalimat yang dilontarkan oleh Tiara itu, benar-benar berputar-putar di dalam otak wanita renta itu seperti kaset rusak.
Dan tak lama berselang, Oma Keisha pun menggelengkan kepalanya. membuat Opa Galang yang melihat itu, seketika menepuk bahu dari istrinya itu.
"Ibu kenapa apakah ibu pusing?"tanya Opa Galang dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"tidak ada apa-apa Pak. hanya saja, aku kepikiran dengan ucapan Tiara tempo hari. yang mengatakan, bahwa Zidan memiliki anak dari wanita lain. dan aku, tidak mempercayai akan hal itu."dengan segera, Oma Keisha mengatakan hal itu pada sang suami.
Membuat Opa Galang yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepalanya. dan tak lama berselang, laki-laki tua itu angkat bicara.
"itu tidak akan pernah mungkin. Mana mungkin cucu kita melakukan hal itu?"tanya Opa Galang tidak habis pikir.
Oma Keisha pun, menganggukkan kepala. karena wanita renta itu juga mempercayai apa yang ada dalam pikiran sang suami.
"sudahlah lebih baik kita ikuti saja cucu kita itu aku masih tidak yakin apa yang dikatakan oleh Tiara itu benar." setelah mengatakan hal itu, kedua manusia lansia itu segera keluar dari dalam mobil.
Sementara itu di depan sana, terlihat Zidane yang sudah mengumpat karena merasa kesal. karena ternyata, kedua manusia lansia itu benar-benar mengikutinya.
__ADS_1
"astaga! ternyata mereka benar-benar mengikutiku!"gerutunya Soraya menghela nafas panjang.
"aku harus mengecoh mereka." gumamnya dengan penuh tekad.
Dengan langkah tergesa-gesa, laki-laki itu Segera menaiki pesawat. untungnya laki-laki itu memang sudah mempersiapkan semuanya karena pernah mendengar obrolan antara dua orang itu saat berada di rumah Prakoso.
"kalian tidak akan pernah bisa untuk menemukan kebenaran itu."ucapnya Seraya tersenyum penuh arti.
Sementara itu di belakang sana, Oma Keisha dan juga Opa Galang juga ikut masuk ke dalam pesawat itu.
Beberapa saat kemudian,...
Mereka telah sampai di sebuah negara yang berbatasan langsung dengan negara mereka tinggal.
Sebenarnya Oma Keisha merasa kebingungan. mengapa cucunya itu malah berada di tempat seperti ini? bukankah seharusnya, laki-laki itu menemui putranya. tidak mungkin bukan, seorang Zidane Prakoso meletakkan anaknya di tempat panti asuhan seperti ini? itu sangat-sangat bertentangan dengan norma dan kaidah yang memang telah dibuat oleh petinggi keluarga Prakoso beserta seluruh anggota keluarga.
"loh Oma, Opa, kalian ikut di sini?"tanya Zidan dengan raut wajah yang begitu terkejut. padahal di hati laki-laki itu, tengah menertawakan tindakan bodoh yang dilakukan oleh kedua lansia itu.
Membuat kedua lansia itu seketika gelagapan."e..eh, iya kamu tidak sengaja melihatmu berada di bandara. dan pada akhirnya, kami ikut masuk ke dalam pesawat yang kamu tumpangi." Zidane pun menganggukkan kepala. karena memang yang dikatakan oleh kedua manusia lansia itu adalah suatu kebenaran.
Namun ada sedikit yang memang mereka tutup-tutupi. yaitu alasan kenapa mereka bisa berada dalam pesawat yang sama. tentunya, semua itu bukanlah kebetulan. melainkan, sesuatu yang telah direncanakan.
Mereka bertiga seketika ikut bergabung dengan orang-orang itu dan bermain bersama dengan anak-anak yang kurang beruntung itu.
"Jadi kau menjadi donatur di sini?"tanya Opa Galang. saat mereka telah selesai bermain-main dan menyenangkan hati anak-anak itu.
Zidane yang mendengar itu hanya mengagumkan kepala. kemudian ikut menikmati makanan terdapat di hadapannya saat ini.
"kenapa harus di negara lain? bukankah negara kita sendiri juga banyak orang-orang yang kurang mampu?"tanya Oma Keisha sedikit merasa janggal.
__ADS_1
"karena sebenarnya, aku tidak ingin keluarga Prakoso yang lain mengetahui akan sesuatu yang aku lakukan itu. karena aku ingin membantu mereka, dengan kemampuan dan juga dan aku sendiri.
Mereka berdua pun, saling pandang satu sama lain. dan tak lama berselang, menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
"Opa dan Oma bangga atas kerja keras ini. maafkan kami karena sempat meragukanmu dan memiliki pikiran buruk terhadap."ucapnya penuh dengan penyesalan.
"maksudnya bagaimana?"tanya Zidane Seraya mengangkat sebelah alisnya.
Kemudian, wanita renta itu segera mengatakan apa yang ia dapat dari Tiara. membuat Zidan yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya.
****
Sementara itu di kediaman Prakoso sendiri, terlihat Ajeng dan juga Rafael baru saja pulang dari urusan mereka. dan keduanya tampak terkejut saat melihat, baby Elvio berada dalam gendongan salah seorang pelayan.
Bukankah seharusnya berada dalam gendongan ibunya, Karena Wanita itu yang memiliki hak penuh atas tubuh putranya? lalu, ke mana dia sekarang?
"loh kenapa i love you berada pada kalian? ke mana ibunya?"tanya Rafael dengan alis terangkat.
Membuat semua orang yang ada di sana, sekuat tenaga mencoba untuk bersikap biasa saja. walaupun sebenarnya, mereka semua panik luar biasa.
"Nyonya ada---"
"kenapa Om, Tante?"tanya seseorang dari belakang sana. membuat kepala semua orang, seketika tertoleh ke arah sumber suara.
"Dari mana saja kau?"tanya Ajeng menatap tajam ke arah wanita yang sebenarnya berstatus sebagai istri dari anaknya itu.
"keluar ke minimarket sebentar untuk membeli perlengkapan dan bahan-bahan masakan. karena aku, ingin membuat sesuatu pada kalian."jawabnya Seraya mengangkat kedua tangannya ke udara.
Dan di sana memang benar, ada dua kantong plastik besar. Rafael dan Ajeng tidak menggubris dan langsung masuk kamar.
__ADS_1