
Saat ini telah terjadi peperangan diantara mereka semua Zidane dan juga pelayan-pelayan itu saling Serang satu sama lain. sementara Oma Keisha si ratu iblis, hanya dapat menatap tap kejadian itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Sungguh sepertinya Wanita itu sudah tidak mengenal belas kasihan terhadap keluarganya sendiri. terbukti dengan ekspresi wajah yang begitu datar yang tampak dari wajah dan tanya. seperti tidak memiliki gurat kesedihan sedikitpun terhadap cucu laki-lakinya.
"sudahlah lenyapkan saja mereka itu!"titah Oma Keisha yang sudah merasa sangat geram dengan perlawanan yang ditunjukkan oleh Zidane saat ini. apalagi ditambah dengan beberapa orang yang telah terkapar akibat terkena pukulan dari laki-laki berwajah manis itu. tentu saja Itu semua membuat Oma Keisha merasa sangat geram. wanita paruh baya itu sepertinya tidak pernah menyangka jika laki-laki yang pernah ia anggap sebagai pewaris pertama di keluarga Prakoso itu, dapat melakukan perlawanan sedemikian rupa.
Tentunya perlawanan itu membuatnya sangat murka. terlihat raut wajah dari Oma Keisha yang tampak merah padam karena menahan amarah yang luar biasa di dalam hatinya.
Para pengawal yang mendengar penuturan dari wanita renta itu seketika menganggukkan kepala. kemudian mereka segera mengarahkan beberapa senjata api kepada keempat manusia itu.
Asmirandah yang melihat itu, seketika menggelengkan kepalanya. "tolong! aku mohon, jangan sakiti mereka. mereka tidak tahu apa-apa yang bersalah di sini adalah aku. jadi tolong, lepaskan mereka jangan biarkan mereka terseret dalam masalah kita. aku mohon nyonya!"ucapnya Seraya meraung-raung menetap ke arah mereka semua dengan tatapan yang sangat iba.
Berharap usahanya itu, membuahkan hasil. biarkan dia saja yang menanggung semua penderitaan ini asalkan orang-orang itu tidak ikut terseret dalam masalahnya terutama Haidar.
Sejenak wanita cantik itu merasa sangat menyesal karena keinginannya yang tidak bisa dibendung itu, membuat putranya menjadi terluka dan terancam nyawanya seperti ini. seketika itu pula, wanita itu berandai-andai di dalam hatinya.
Andai saja dia tidak menginginkan pertemuan dengan putranya itu, andai saja dia tidak bersedih dan bersikeras bertemu dengan Haidar, andai saja mereka tidak pernah dipertemukan, dan andai saja dirinya tidak bersama dengan Zidane, semua itu tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
Ya. Asmirandah sangat yakin. jika pada awalnya dia tidak menikah dengan laki-laki yang memiliki wajah manis itu, dia tidak akan pernah mengenal keluarga kejam seperti keluarga Prakoso itu. dan di dalam hati yang paling dalam milik Asmirandah, laki-laki itu begitu menyesali tindakannya dulu.
Dan andai saja waktu dapat ia putar, mungkin saja dia tidak akan pernah menerima perasaan yang diutarakan oleh Zidane. Asmirandah lebih memilih untuk membuang perasaannya itu jauh-jauh. akan tetapi berandai-andai pun, itu sudah tidak mempunyai pengaruh apa-apa. karena memang, semua telah terjadi. dan sekarang, yang dapat dilakukan oleh wanita itu hanya meminta belas kasihan pada orang-orang kejam itu agar tidak terus menyiksa mereka semua terutama Haidar.
"sudah terlambat wanita sialan! kau sudah berani mengusik ketentraman dari keluarga Prakoso. Maka jangan salahkan aku untuk membasmi ulat bulu seperti ini."ucapnya Seraya melangkahkan kaki untuk menghampiri Asmirandah yang masih tiarap di dekat tembok.
Tangannya dengan segera menjambak rambut dari Asmirandah. hingga membuatnya, seketika langsung mendongakkan kepala karena merasakan perih yang luar biasa di kulit kepalanya itu. rasa-rasanya, rambut dari Asmirandah itu ingin terlepas dari tempatnya karena saking merasa panas dan juga perih
Darah bercampur air mata seketika mengalir dengan begitu derasnya dari bibir wanita itu. dan hal itu, sama sekali tidak membuat wanita tua itu merasa iba justru malah tertawa terbahak-bahak seperti memperlihatkan sebuah kelucuan.
Sementara Zidan yang berada di belakang sana, mencoba untuk menerobos para pengawal itu yang telah mengarahkan senjata api mereka ke kepalanya. bagaimanapun juga dia harus menyelamatkan Asmirandah. karena jujur saja, wanita itu masih berada di tahta tertinggi dalam hatinya.
"kenapa aku tidak melakukannya dari tadi?"tanya laki-laki itu menggerutu sendiri di dalam hatinya. kemudian menatap ke arah Asmirandah yang saat ini tengah dihajar habis-habisan oleh wanita tua itu.
"dasar kalian biadab!"
Dumm
__ADS_1
Bersamaan dengan teriakan dari Zidane itu, sesuatu terlempar di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. dan dengan secepat kilat, Zidan memutuskan untuk keluar dari bangunan itu.
Bukan bermaksud untuk meninggalkan mereka. hanya saja, Jika dia masih berada di dalam bangunan itu bersama dengan yang lain, agar dapat dipastikan dia akan sama dengan orang-orang itu tak sadarkan diri.
Yap. Zidane memang mempersiapkan alat untuk melumpuhkan orang-orang itu untuk sementara waktu. laki-laki itu meracik dengan sepenuh hati dan juga persiapan yang sangat matang agar semuanya bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan sama sekali.
Setelah dirasa aman, laki-laki itu segera masuk ke dalam bangunan itu kembali dan mendapati orang-orang itu memang telah dalam keadaan terkapar.
Secepat kilat, Zidan melangkahkan kakinya untuk masuk dan mengambil Haidar yang masih berada di dalam tempatnya seperti semula dengan kondisi yang begitu mengenaskan. tubuhnya penuh dengan luka cambukan di mana-mana.
Laki-laki berwajah manis itu sampai tidak kuat jika harus menatap putranya itu lama-lama. tanpa pikir panjang lagi, Zidane segera membawa Haidar untuk pergi dari sana. setelah keluar dari bangunan itu, Zidane segera merebahkan Haidar di sebuah batu yang letaknya cukup jauh dari tempat orang-orang itu berada.
Zidane langsung kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam untuk membawa ibu dan juga Mantan istrinya itu. setelah dirasa semuanya cukup, laki-laki itu segera menghubungi seseorang untuk membawakan kendaraan.
Tak lama berselang dari itu, orang yang dihubungi oleh Zidan telah sampai dengan membawa beberapa orang di belakangnya. karena sesuai dengan permintaan Zidane, laki-laki itu ingin membawa orang-orang kesayangannya ini menjauh dari tempat neraka itu.
"bagaimana Apakah kita langsung menuju ke tempat persembunyian mu?"tanya laki-laki yang sepertinya mengenal Zidane itu.
__ADS_1
"Ya sepertinya itu lebih baik. Aku sama sekali tidak ingin orang-orang itu kembali menangkap dan menyiksa mereka secara brutal."ada buliran bening yang mengalir dari dalam mata milik laki-laki itu saat menyaksikan betapa mengenaskannya kondisi dari manusia-manusia yang ada di depannya itu.