Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 245


__ADS_3

Tak membutuhkan waktu lama, rombongan yang dipimpin oleh Zidane itu telah sampai di bandara kota itu. dan dengan segera, memerintahkan kepada orang-orang suruhannya yang memang telah datang dari negara Flores untuk membantu persiapan laki-laki berwajah manis itu untuk membawa Asmirandah dan yang lain menjauh dari tempat itu.


"apa sebaiknya tidak dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu tuan? karena kondisi dari mereka bertiga benar-benar sangat mengenaskan."usul salah satu bodyguard menghadap ke arah lain karena tidak kuasa saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.


Zidane sejenak terdiam. karena memang apa yang dikatakan oleh orang-orang itu, ada benarnya. akan tetapi saat mengingat bagaimana ganasnya orang-orang itu saat menyiksa Asmirandah dan yang lain, membuat laki-laki berwajah manis itu, dengan segera menggelengkan kepalanya.


"tidak! lebih baik, sekarang kita segera pergi dari saja dari sini. Aku tidak menginginkan, mereka kembali tertangkap oleh orang-orang yang tidak memiliki hati nurani seperti itu."setelah mengatakannya dengan tegas, Zidane segera membawa Asmirandah dengan lain untuk memasuki sebuah pesawat pribadi yang memang telah dipersiapkan oleh Zidan sebelumnya. dia tidak peduli jika harus menguras tabungannya untuk memesan pesawat pribadi itu. mengingat Dia sudah mengeluarkan banyak sekali untuk membawa Haidar bertemu dengan Asmirandah.


Hatinya mulai terasa perih. saat mengingat akan sesuatu hal itu. andai saja dirinya tidak mengizinkan Asmirandah bertemu dengan Haidar, mungkin saja hal itu tidak akan pernah terjadi.


Namun apa boleh buat semua sudah terjadi nasi sudah bisa menjadi bubur dan tidak bisa diubah lagi seperti semula. gak ada gunanya menyesali perbuatan yang telah ia lakukan itu. karena yang dapat dilakukan olehnya, hanyalah memperbaiki semuanya.


Di sepanjang perjalanan, Zidane tak henti-hentinya menitihkan air mata saat melihat bagaimana kondisi mengerikan dari orang-orang yang ada di hadapannya saat ini. benar-benar sungguh sangat mengerikan karena terdapat luka yang sangat banyak di tubuh ketiganya. terutama Haidar. bocah kecil berusia 2 tahun itu, sudah harus merasakan pedasnya cambukan di usianya yang baru saja menginjak 2 tahun.


"maafkan ayah sayang. Ayah tidak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini. tolong maafkan ayah."ucap laki-laki itu Seraya terisak dengan begitu kencangnya.


Hatinya benar-benar merasakan sakit luar biasa saat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya itu.


"ayah janji setelah kau sembuh, Ayah tidak akan pernah membiarkan dirimu kembali mengingat kejadian mengerikan itu tidak akan pernah.

__ADS_1


Setelah melakukan perjalanan hampir 15 jam, pada akhirnya pesawat yang ditumpangi oleh semua orang, telah sampai di tempat tujuan. sampainya di sana, orang-orang itu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


Semua orang yang ada di sana dengan sigap langsung menangani orang-orang itu dengan sangat baik. karena memang rumah sakit itu mendapatkan tunas yang begitu besar dari laki-laki berwajah manis itu beberapa kali.


"biadab kalian semua! akan Aku pastikan, kalian tidak akan pernah lolos begitu saja setelah melakukan tindakan tidak manusiawi seperti ini!"capnya penuh dengan amarah yang luar biasa.


tak lama berselang dari itu, seseorang melangkahkan kakinya untuk menghampiri Zidan yang tengah terduduk lemas dengan posisi kepala yang menunduk. menandakan bahwa laki-laki itu benar-benar sangat terpukul saat ini.


"Apakah kau baik-baik saja?"pertanyaan dari seseorang itu, sukses membuat Zidan seketika menolehkan kepalanya dan menatap sedikit terkejut orang yang ada di hadapannya saat ini.


"apa kabar?"tanya orang itu yang tak lain adalah Satria. teman lama dari Zidane yang memang ditugaskan oleh keluarganya untuk berada di negara Flores untuk mengembangkan bisnis mereka.


Laki-laki yang bernama Satria itu seketika menganggukkan kepala kemudian tersenyum kecil. "Kau sedang apa berada di sini?"tanya laki-laki itu menatap ke arah Zidan dengan tatapan penuh selidiki.


Zidane tampak terdiam cukup lama. karena laki-laki itu sangat bimbang saat ini bagaimana caranya untuk menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu. karena pastinya orang normal tidak akan pernah bisa menduga tentang apa yang mereka lakuka terlebih kepada seorang anak kecil.


"melakukan sharing, bisa membuat seseorang menjadi lega. karena jika tidak memberikan solusi, setidaknya dapat berbagi."ucap Satria mencoba untuk menguatkan tekad dari laki-laki yang ada di sebelahnya itu.


Setelah mengucapkan kata itu, Satria memutuskan untuk pergi dari sana. laki-laki yang berprofesi sebagai pengusaha itu, memutuskan untuk menjauh dari temannya. karena sepertinya, laki-laki itu memerlukan waktu untuk sendiri.

__ADS_1


"tunggu!"


Suara dari Zidane itu membuat senyuman dari satrias ketika mengembang. kemudian laki-laki itu kembali duduk di samping temannya dan meminta Zidan untuk cerita.


Dan setelah terdiam diri cukup lama, pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk menceritakan semuanya pada temannya itu.


Kedua bola mata dari Satria seketika membulat dengan sempurna saat mendengar penuturan dari sahabatnya itu. sungguh Satria tidak pernah menyangka, jika sahabatnya itu mengalami kondisi hidup yang sangat serius seperti itu.


"aku turut prihatin dengan masalahmu ini. Aku tidak akan pernah bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada kehidupanku."ucap Satria Soraya bergidik ngeri.


"apa sekarang yang akan kamu lakukan?"tanya laki-laki itu menatap ke arah Zidane dengan tetapan prihatin.


"aku akan tinggal di sini. dan aku tidak akan pernah kembali ke negara itu apapun Yang terjadi."putus laki-laki itu pada akhirnya.


Kemudian melangkahkan kakinya untuk melihat kondisi dari orang-orang kesayangan itu masih yang masih berada dalam kondisi perawatan yang intensif.


"kalian semua memang benar-benar biadab!"ucap laki-laki itu Seraya mengeram dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. sehingga kuku-kuku yang ada di tangannya memutih karena saking kuatnya cengkraman itu.


Laki-laki itu tidak kuasa saat melihat bagaimana alat-alat itu menyentuh tubuh mereka. terutama Haidar. Apakah kalian bisa membayangkan jika bocah sekecil itu sudah dapat merasakan kesakitan yang luar biasa seperti itu? tentu tidak akan pernah ada orang yang bisa membayangkan. terutama Zidane. laki-laki itu, bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain saat melihat bagaimana saat suka luka itu dibersihkan oleh tim medis.

__ADS_1


"Kau pasti sangat kesakitan sekali."gumamnya Seraya banjir air mata yang membasahi pipi. sungguh jika bisa memilih, laki-laki itu akan memilih agar dia saja yang mendapatkan kesakitan itu. asalkan anaknya, baik-baik saja dan tanpa luka sedikitpun. sungguh Zidan merasa tidak tega jika harus melihat pemandangan itu.


__ADS_2