
Pagi harinya.....
Terdengar suara lenguhan panjang dari mulut seseorang yang tengah terbaring di atas tempat tidur. siapa lagi orangnya jika bukan Zidane.
Laki-laki berwajah manis itu, perlahan-lahan mulai membuka matanya. dan betapa terkejutnya laki-laki itu. saat mendapati kondisi tubuhnya saat ini.
"apa yang sebenarnya terjadi?"tanya laki-laki itu masih dengan perasaan yang sangat terkejut. apalagi, saat laki-laki itu menoleh ke arah samping tubuhnya dan mendapati Tiara berada di sana.
"hei bangun kau! apa yang kau lakukan padaku?!" sentak Zidane sedikit kasar. hingga membuat wanita yang masih memeluk tubuhnya itu, seketika terbangun.
Untuk beberapa saat kemudian, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu masih terdiam di tempatnya untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi. namun begitu kesadarannya kembali, wanita itu segera tersenyum simpul.
"memangnya apa yang salah dengan hubungan yang kita lakukan? bukankah kita adalah sepasang suami istri yang sah?"tanya wanita itu semakin mengeratkan pelukannya.
Dan dengan segera, laki-laki berwajah manis itu menjauhkan dirinya dari jangkauan wanita yang sudah mulai gila akibat rasa dendam yang menggerogoti jiwanya itu.
"dasar gila!" pekik Zidane Seraya bangkit dari tempat tidurnya. laki-laki itu hendak melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar mandi.
Namun kegiatan itu diurungkan saat mendengar sesuatu di ambang pintu kamarnya.
"Oma!,"panggil Tiara. hingga membuat tubuh dari Zidane, seketika berputar ke belakang dan mendapati wanita sepuh itu berdiri tegak di hadapan mereka.
Buru-buru, Zidane segera mengenakan kaosnya. karena saat ini, laki-laki itu hanya mengenakan celana pendek selutut tanpa pakaian apapun yang membalut tubuh bagian atasnya.
"kenapa Oma masuk ke kamarku tanpa seizin dari pemiliknya?"protes Zidane dengan raut wajah sedikit merah karena menahan malu.
Sementara Oma Keisha, wanita sepuh itu justru tersenyum simpul. raya melangkahkan kakinya untuk mendekati cucu dan juga cucu menantunya yang masih terdiam di tempat masing-masing karena merasa shock dengan kehadiran wanita itu. lebih tepatnya Zidane sendirilah Yang merasa terkejut. karena sebenarnya, Tiara sudah mengetahui kehadiran wanita sepuh itu sejak awal.
Sehingga dirinya dengan sengaja memeluk tubuh Zidan dengan erat tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya.
"Oma senang kamu melakukan hal ini. Oma harap, kalian akan cepat-cepat diberikan keturunan."setelah mengatakan hal itu, wanita sepuh itu segera keluar dari sana dengan senyuman yang terpatri di bibir keriputnya.
__ADS_1
Sementara Zidane, itu masih terdiam mencoba untuk mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh sesepuh keluarganya itu. tanpa menyadari, bahwa ada seseorang yang berjalan menghampirinya dari arah belakang. siapa lagi orangnya jika bukan Tiara.
Hingga tubuh mereka semakin dekat, Zidane masih belum menyadarinya. kedua matanya seketika membulat sempurna saat merasakan tangan halus milik Tiara melingkar di perutnya.
"apa yang kau lakukan?!"tanya laki-laki itu mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman wanita gila itu.
"apalagi? tentu saja melakukan apa yang seharusnya kita lakukan."jawab wanita itu dengan santainya.
"dasar gila!"maki laki-laki itu Seraya berlari pergi meninggalkan Tiara sendiri yang masih tersenyum di tempatnya.
****
"Tiara, apakah kamu mau ikut Oma?"tanya wanita sepuh itu saat mereka tengah menikmati sarapan.
"ke mana Oma?"bukannya menjawab wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu justru balik bertanya.
"shopping!"jawabnya tersenyum simpul.
Kapan lagi dirinya bisa menikmati sensasi belanja sepuasnya? karena hal itu adalah salah satu kegiatan yang disukai oleh wanita kebanyakan. mungkin hanya beberapa persen saja wanita yang tidak menyukai yang namanya berbelanja. pikir wanita itu dengan senyuman manisnya.
"oke Oma!"sahutnya dengan tersenyum lebar.
Sementara orang-orang yang ada di sana, tidak ada yang memperdulikan percakapan dari dua wanita berbeda generasi itu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. termasuk juga dengan Zidane dan juga Ajeng.
Pasangan ibu dan anak itu, masih mencari cara bagaimana untuk bisa menemui Haidar kembali. karena bayi laki-laki itu masih membutuhkan belaian dan juga kasih sayang sebuah keluarga.
"Kak Zidane, nanti kamu ikut ya?"tiba-tiba saja pertanyaan dari Tiara tersampaikan. hingga membuat si pemilik nama, seketika menoleh ke arah sumber suara.
"aku tidak bisa. kau tahu sendiri kan, jika aku harus bekerja?"tanya laki-laki itu menatap sekilas ke arah wanita itu.
"sebentar saja. aku janji setelah kau menemani aku, aku tidak akan mengganggumu! Kau boleh bekerja sesuka hatimu."jawab wanita itu penuh dengan keseriusan.
__ADS_1
Membuat Zidane yang mendengarnya, sejenak terdiam. hingga beberapa saat kemudian, laki-laki itu menganggukkan kepala.
'boleh juga apa yang dia katakan.' batinnya tersenyum senang.
"baiklah kalau begitu aku setuju."ucapan hari laki-laki itu, sukses membuat mata kedua wanita berbeda generasi itu, seketika berbinar.
Mereka semua segera menyelesaikan aktivitas sarapan masing-masing. "Zidane apakah kau yakin ingin menuruti keinginan wanita itu?"tanya Ajeng berbisik saat hanya tersisa mereka berdua saja di ruang makan itu.
"tentu saja Mi, ini adalah kesempatanku untuk bertemu dengan Haidar. karena jujur saja, aku masih merasa khawatir dan juga merasa rindu dengan bayi itu."ucapnya dengan nada yang sangat sendu.
"baiklah! kalau begitu, Mami juga setuju dengan rencana. nanti setelah kamu selesai, jangan lupa kabari Mami jika ingin menemui bayi mungil itu."pesan Ajeng pada sang anak.
"Mami Tenang saja."setelah mengatakannya, pasangan ibu dan anak itu, segera berpisah. karena mereka, akan melakukan kegiatan yang berbeda.
****
Oeeekk Oeeekk Oeeekk
Entah sejak kapan, Haidar menangis tanpa henti seperti ini. membuat para pengasuh di rumah itu, menjadi kewalahan dan juga kelimpungan sendiri. mereka secara bergantian menggendong dan menenangkan bayi mungil itu. namun hasilnya sangat nihil.
Karena bukannya terdiam, Haidar justru semakin menangis dengan sangat kencang. hingga mereka semua juga ikut menangis karena merasa frustasi dengan keadaan ini
"sebaiknya kita hubungi Tuan muda Zidane. atau jika tidak, kita hubungi saja nyonya besar Ajeng."akhirnya tercetuslah sebuah usulan yang berasal salah satu dari mereka.
"kau benar juga. sebaiknya, kita segera hubungi nyonya besar. karena aku sudah merasa tidak sanggup untuk menghadapi Tuan kecil."keluh wanita yang saat ini tengah menggendong Haidar yang masih meronta-ronta di dalam dekapannya.
Tak lama berselang, salah satu dari mereka segera menghubungi Ajeng. dan tak membutuhkan waktu lama, panggilan itu seketika terhubung.
("halo, ada apa?")
"halo nyonya besar, maaf maaf jika saya mengganggu Anda. tapi kami sudah merasa kewalahan menghadapi Tuan kecil. karena dari tadi, Tuan kecil tidak mau terdiam. kami sudah melakukan berbagai cara. namun, hasilnya sangat nihil."
__ADS_1
("baiklah! kalau begitu, saya akan segera ke sana!")