
Tiga hari kemudian,...
Sesuai dengan saran dari dokter Vanessa, pada akhirnya Tiara dan juga Zidane kembali berkunjung ke rumah sakit di mana Putra mereka berada saat ini.
Tentunya hal itu dilakukan oleh Tiara setengah Hati. karena wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, tidak ingin bertemu dengan makhluk yang tidak dia inginkan. Karena pada dasarnya, wanita itu hanya ingin menghancurkan mantan sahabatnya. tanpa ingin mempersulit kehidupannya sendiri.
Ingin sekali, wanita itu mengumpat karena saat ini, bukan hanya Zidane yang menemaninya melainkan juga seluruh keluarga besar Prakoso ikut menemani wanita itu. hingga membuat pergerakannya, sedikit terbatas.
"sumpah aku tidak ingin berada di situasi seperti ini."ucap wanita itu menatap datar dan juga dingin ke arah sekumpulan orang-orang itu. Tentu saja itu dilakukan oleh Tiara tanpa sepengetahuan mereka. karena wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, harus menciptakan sifat elegan di dalam keluarga Prakoso itu.
"selamat pagi semuanya!"sapa dokter Vanessa dengan senyuman yang begitu manis.
"pagi Dokter!"sapa mereka semua hampir bersamaan.
"wah ternyata kalian sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin saya katakan."ucap Dokter wanita itu Seraya tersenyum lebar.
"kalau begitu kalian duduk dulu!"lanjut wanita itu Seraya mempersilahkan para orang-orang dari keluarga terpandang itu.
Tak lama berselang, dua orang perawat datang menghampiri mereka semua dengan membawa sebuah box yang didorong oleh salah satu perawat itu.
Mereka semua yang ada di sana, seketika menoleh ke arah sumber suara dan menatap tidak percaya apa yang ada di hadapannya saat ini.
"selamat Nyonya, tuan. bayi mungil Ini sangat kuat hingga saat ini, sudah bisa dibawa pulang."penjelasan dari dokter Vanessa. saat melihat raut wajah kebingungan dari orang-orang yang ada di hadapannya saat ini.
Tentunya hal itu membuat orang-orang itu merasa tidak percaya."apakah kau benar-benar mengatakannya dengan jujur?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah yang masih tidak percaya.
Membuat dokter Vanessa yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala Seraya tersenyum kecil.
__ADS_1
"benar Nyonya sepuh. cicit anda sudah diperbolehkan pulang sekarang. karena dari semua pemeriksaan yang ada, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."jelasnya Seraya mengambil bayi itu dengan hati-hati dan menyerahkannya pada wanita renta itu.
Sontak saja Oma Keisha yang melihatnya, merasa begitu sangat senang. bahkan saking senangnya, wanita tua itu sampai sedikit bergetar saat berusaha untuk menggendong bayi mungil itu.
"bagaimana dengan berat tubuhnya? apakah sudah memenuhi standar?"tanya Opa Galang menimpali.
Dokter Vanessa seketika menganggukkan kepala."sudah Tuan. semua sudah saya periksa dan sudah saya pastikan sesuai dengan standar yang kami tetapkan."ucapnya Seraya menoleh ke belakang dan meminta sesuatu pada dua perawat itu.
"ini, ini adalah vitamin yang harus diberikan kepada bayi kecil ini supaya tubuhnya bisa sedikit lebih kuat. karena memang, kelahiran prematur itu banyak sekali resikonya. sehingga kalian semua, harus lebih berhati-hati untuk menjaga."dokter Vanessa segera memberikan obat itu pada Zidane.
***
Setelah berbincang-bincang cukup lama, pada akhirnya mereka semua segera pergi dari rumah sakit itu untuk menuju ke kediaman mereka. di sepanjang perjalanan itu, Oma Keisha tak anti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang maha esa karena telah mendengarkan permohonannya.
"Oma merasa begitu bahagia karena dapat memeluk anak kalian seperti ini."ucap wanita itu Seraya menoleh ke arah belakang di mana Zidane dan juga Tiara berada. dan dibalas keduanya dengan hanya tersenyum kecil.
"apakah kau sudah menghubungi orang-orang rumah untuk mempersiapkan penyambutan dan mempersiapkan semua yang diperlukan untuk kamar baru cicit kita?" pertanyaan dari Opa Galang itu, sukses membuat kegiatan dari Oma Keisha terhenti.
Dengan segera, Oma Keisha mulai merogos aku celananya dan mengambil benda pipih itu untuk menghubungi orang-orang yang ada di rumah.
"sebaiknya jangan dulu Oma."cegah Tiara dengan cepat. membuat bukan hanya wanita tua itu yang sedikit tercengang. melainkan semua orang juga ikut tercengang mendengar ucapan dari wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu.
"memangnya kenapa? kau tidak suka putramu telah berhasil keluar dari rumah sakit itu?"tanya Oma Keisha dengan raut wajah tidak suka.
gluk
Susah payah, wanita berambut panjang sampai pinggang itu menelan salivanya sendiri. dan tak lama berselang, Tiara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bu.
"bu...bukan seperti itu Oma. tapi bukankah bayi prematur itu tidak boleh terlalu berinteraksi dengan orang banyak? aku hanya takut, jadi sesuatu pada anakku." jawabnya dengan gugup.
Membuat semua orang yang ada di sana seketika terdiam. merasa apa yang dikatakan oleh Tiara itu memang benar. namun hal itu sepertinya tidak dengan Ajeng. karena wanita paruh baya itu tahu apa yang dipikirkan oleh menantu tidak diharapkannya itu.
"cih. dasar munafik!" umpatnya pelan. dan hal itu sukses membuat Rafael yang ada di sebelahnya, seketika menoleh.
"kau bicara sesuatu?"tanya laki-laki paruh baya itu menatap ke arah istrinya.
Sontak saja hal itu membuat Ajeng, gelagapan. dengan segera, wanita itu menggelengkan kepalanya. membuat Rafael kembali fokus ke depan.
"Jadi kau ingin mengumumkan tentang ini semua kapan?"tanya Oma Keisha setelah terdiam cukup lama.
"bagaimana jika nanti Saat Putraku berusia 2 bulan. karena sepertinya, itu sudah diperbolehkan." jawab Tiara dengan nada yang sangat pelan.
Oma Keisha seketika menganggukkan kepala."baiklah Oma setuju dengan apa yang dikatakan oleh Tiara." putus wanita renta itu pada akhirnya.
Membuat Tiara yang mendengarnya, seketika menghina nafas lega. tak berselang lama, suara tangisan yang begitu melengking memenuhi mobil itu. dan dengan segera, bayi itu diserahkan kepada Tiara untuk diberikan air kehidupan.
"kenapa tidak di rumah saja Oma. ini sebentar lagi sudah sampai, kan?"tanya wanita itu Seraya menunjukkan arah depan dengan dagunya.
Karena sebenarnya, Tiara begitu malas untuk memberikan bayi sialan itu minum. Oma Keisha yang mendengar itu, seketika menetap lurus ke depan.
"baiklah kalau begitu. kau berikan air kehidupanmu itu nanti jika sudah sampai di rumah."
Tiara tersenyum simpul. dan mobil segera melaju dengan kecepatan yang ditambah agar segera sampai ke kediaman Prakoso.
__ADS_1
****
Sementara itu suasana yang tidak jauh beda juga terjadi di kediaman milik Jordan. karena hari ini, adalah hari penyambutan Putri yang sangat ia idam-idamkan selama ini. walaupun tanpa tamu undangan dan hanya di hadiri oleh para pelayan yang bekerja di rumah itu, suasana begitu tampak meriah.