
Beberapa bulan kemudian,....
Semakin lama, perasaan Zidane semakin tumbuh dengan subur. membuat laki-laki itu semakin merasa tak kuasa jika tidak berada di dekat Asmirandah. wanita yang benar-benar menempati tahta tertinggi di hatinya saat ini.
Setelah merenung cukup lama, pada akhirnya Zidane memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya. sudah diputuskan, bahwa laki-laki itu akan berkata jujur pada kedua orang tuanya.
Entah apa yang akan dijawab oleh kedua orang tuanya, Zidane sama sekali tidak memperdulikan akan hal itu. laki-laki yang berkulit hitam manis itu hanya ingin perasaannya tenang setelah mengatakan semuanya pada kedua orang tuanya.
"Mi, Pi,"panggil Zidane pada kedua orang tuanya itu. membuat pasangan suami istri paruh baya itu, seketika menoleh ke arah sumber suara. dan mendapati, anak semata wayangnya itu berdiri dengan raut wajah yang sangat gelisah.
"Ada apa nak?"tanya Ajeng Seraya menghampiri putranya itu yang masih berdiri di tempatnya dengan raut wajah yang sangat gelisah.
Zidane segera dibawa oleh sang ibu untuk segera duduk di samping mereka berdua. terlihat beberapa kali, laki-laki berkulit hitam manis itu mulai menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelah itu, mengeluarkannya secara perlahan.
"ada yang ingin aku bicarakan dengan Mami dan juga Papi."ucap laki-laki itu Seraya menatap ke arah kedua orang tuanya itu secara bergantian.
"kamu ingin mengatakan apa?"tanya Rafael menatap putranya itu.
"Sebenarnya aku telah mengakhiri hubunganku dengan Naomi."ucap laki-laki itu secara perlahan.
Tentu saja hal itu membuat Ajeng yang mendengarnya, seketika membulatkan kedua matanya.
"apa yang kamu katakan? bilang sama Mami, oh yang kamu katakan itu adalah sebuah kebohongan!"tanya Ajeng Seraya mencengkram bahu dari putranya itu.
Mendengar penuturan dari ibunya itu, semakin membuat Zidane menenggelamkan kepalanya. karena laki-laki itu, tidak berani melihat reaksi dari kedua orang tuanya.
"memang apa yang terjadi?"tanya Rafael setelah berdiam diri cukup lama.
__ADS_1
Sebelum mengatakan semuanya, laki-laki berwajah manis itu menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelahnya, menghembuskannya secara perlahan. kemudian Zidane mulai menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya.
Tentu saja hal itu membuat Ajeng dan juga Rafael yang mendengar itu, seketika menyentuh dadanya karena merasa detakan jantungnya, bergerak secara cepat dan tidak teratur.
"a...apa itu benar?"tanya Ajeng dengan tubuh bergetar hebat dan juga nada suara yang terbata-bata.
Anggukan kepala terlihat samar dari kepala laki-laki itu. dan Hal itu membuat Ajeng yang mendengarnya, seketika air mata wanita paruh baya itu, luruh membasahi wajahnya yang mulai keriput itu.
Lama mereka menangis, pada akhirnya wanita paruh baya itu mengangkat kepalanya dan langsung memeluk tubuh Putra semata wayang itu dengan sangat erat.
"apa kamu baik-baik saja?"tanya Ajeng menetap ke arah Zidane dengan tatapan terlukanya.
"aku sudah melupakannya Mi, aku sudah tidak ada perasaan pada wanita itu. tapi,...."ucapan Zidane segera menggantung di udara. karena laki-laki itu, masih ragu ingin mengatakan kebenaran itu pada kedua orang tuanya.
"tapi kenapa nak?!"tanya Ajeng dengan nada suara sedikit meninggi. karena wanita paruh baya itu, sudah merasa tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh putranya itu.
"tapi sekarang, aku menyukai seseorang."ucap laki-laki itu semakin menenggelamkan wajahnya.
"siapa orangnya?"tanya Ajeng dengan raut wajah berbinar-binar.
"Asmirandah."jawab Zidane dengan menunjukkan kepala.
"apa?!"teriak mereka berdua dengan raut wajah tidak percaya. tentu saja hal itu membuat Zidan semakin takut untuk mengatakan semuanya pada kedua orang tuanya itu.
"coba jelaskan apa maksudnya?!"tanya Ajeng dengan raut wajah tidak bersahabat dan juga ada suara yang sangat ditekankan.
Tentu saja, hal itu membuat Zidane mengetahui semakin mengeratkan praduganya bahwa kedua orang tuanya itu pasti tidak akan pernah menyetujui hubungannya dengan Asmirandah.
__ADS_1
Dengan perlahan-lahan, Zidane mulai menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya. dengan harapan, laki-laki itu akan mendapatkan Restu dari kedua orang tuanya itu.
"tidak! sampai kapanpun juga, Mami tidak akan pernah merestui penuh dengan anggota dari keluarga itu."ucap Ajeng dengan tegas.
Ya. ternyata apa yang dipikirkan oleh Zidane memang benar-benar terjadi. dan Zidane tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membuat hati kedua orang tuanya dan juga prinsip keduanya itu berubah.
"tapi Mi, Pi, Zidane benar-benar sangat mencintai dia. dan sepertinya, cinta Zidane ini jauh lebih besar daripada cinta Zidane yang sebelumnya."ucap laki-laki itu mencoba untuk membujuk kedua orang tuanya agar merubah keputusan mereka.
"tidak! sekali tidak, tetap tidak!"ucap wanita paruh baya itu Serayu menatap tajam ke arah Putra semata wayangnya itu.
Tentu saja untuk membuat Zidane yang mendengarnya, seketika bungkam tidak bisa mengatakan apapun juga. dengan langkah gontai, laki-laki berkulit hitam manis masuk ke dalam kamar. dan Hal itu membuat Rafael dan juga Ajeng yang melihatnya, seketika menggeleng-gelengkan kepalanya.
****
"benar, kan? mereka tidak akan pernah setuju dengan apa yang aku rasakan selama ini. hufftt."laki-laki itu beberapa kali menghirup udara sebanyak mungkin setelah itu menghembuskannya secara perlahan.
Lama laki-laki itu melamun hingga tak sadar, laki-laki itu sudah berdiam diri di dalam kamarnya cukup lama. hingga sebuah ketukan di pintunya, membuat potensi dari Zidane seketika teralihkan.
Terlihat Rafael yang menyembul dari balik pintu. laki-laki paruh baya itu segera melangkahkan kakinya untuk segera menghampiri Putra semata wayangnya itu. dan Hal itu membuat Zidane, hanya melirik sebentar. setelah itu, kembali menyibukkan diri dengan pensil yang ada di tangannya itu.
"apa kamu marah dengan kami?"tanya laki-laki paruh baya itu Seraya menatap ke arah Putra semata wayangnya itu, dengan tatapan yang sangat dalam.
Namun hal itu sama sekali tidak dihiraukan oleh laki-laki berparas manis itu. Tentu saja itu membuat Rafael yang melihatnya, seketika menghembuskan secara perlahan.
"jika pun kami menyetujui tentang hubungan kalian, itu tidak akan pernah merubah peraturan keluarga kita."ucap Rafael lagi Seraya menatap lurus ke depan.
"maksud Papi apa?"tanya Zidane dengan raut wajah tidak mengerti.
__ADS_1
Rafael dengan segera, menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelah itu, menghembuskannya secara perlahan.
"Papi sama Mami bisa saja menyetujui pernikahan kalian. tapi tidak dengan keluarga besar kita. karena mereka pasti akan langsung menentang keputusanmu ini."ucap Rafael Seraya menatap ke arah Putra semata wayangnya itu.