Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 215


__ADS_3

Semua pasang mata seketika membelalak lebar. saat mereka semua menyaksikan darah segar keluar dari kepala Asmirandah.


"Sheila, apa yang terjadi padamu?"tanya Oma Keisha dengan nada suara yang begitu panik saat melihat istri dari Jordan itu keluar dari dalam kamar milik Tiara dengan deraian darah yang begitu banyak.


Jordan dengan gerakan cepat, langsung membawa tubuh istrinya itu untuk duduk di tengah-tengah keluarga mereka.


Dan semua pergerakan dari Jordan itu, tak lepas dari tatapan dari dua orang yang mengetahui akan drama itu. siapa lagi orangnya sikap bukan Ajeng dan juga Zidane. sepasang ibu dan anak itu bahkan sesekali saling pandang satu sama lain saat melihat bagaimana respon yang ditunjukkan oleh Jordan pada Asmirandah.


'kenapa hatiku merasa begitu sakit saat melihat bagaimana perlakuan Jordan pada Asmirandah?'batin laki-laki yang memiliki wajah manis itu menatap ke arah tempat lain karena tidak kuasa melihat bagaimana perlakuan disebut punya itu pada mantan istrinya.


"kenapa semuanya bisa menjadi seperti ini sayang?"tanya laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu dengan nada yang begitu panik. tak lama berselang kedua matanya memerah karena menahan amarah yang luar biasa.


Sementara Asmirandah sendiri, wanita cantik itu hanya diam karena memang dia tidak bisa untuk membeberkan kejadian yang sebenarnya pada mereka semua. atau jika tidak, Jordan akan murka saat mengetahui semua itu.


"sayang kau masih mendengarku, bukan?"tanya Jordan yang merasa sangat khawatir. karena Asmirandah sama sekali tidak merespon ucapannya.


Mendengar pertanyaan dari laki-laki yang ada di sampingnya saat ini, wanita cantik itu seketika menoleh. dan tak lama berselang, segera menganggukkan kepalanya dengan perlahan.


Sepertinya jiwa yang dimiliki oleh Asmirandah masih mengambang. Karena pikiran dari wanita cantik itu masih menerawang jauh entah ke mana. wanita itu masih memikirkan bagaimana agar sahabatnya itu kembali seperti dulu lagi. dan untuk itu, Asmirandah masih memikirkan cara yang tepat untuk bisa membawa sahabatnya itu kembali kepadanya.


"sebaiknya bawa saja istrimu itu ke rumah sakit."perintah Oma Keisha pada Jordan.


Membuat laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu, langsung menganggukkan kepalanya dengan begitu cepat. dan tanpa basa-basi lagi, laki-laki itu segera membawa tubuh Asmirandah untuk masuk ke dalam mobil.


dan tanpa pikir panjang lagi, Jordan segera membawa mobil yang ia kendarai dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"sayang kita mau ke mana?"tanya wanita itu sedikit merasa panik saat tidak mendapati jalan semestinya untuk menuju ke rumah sakit yang ada di kota itu.


"tentu saja kita akan kembali ke negara Flores."sahut laki-laki itu dengan rahang mengetat.


Kedua bola mata dari Asmirandah seketika membulat sempurna. tak lama berselang, wanita cantik itu pun menggelengkan kepalanya.


"tidak sayang aku tidak ingin pulang!"berontak wanita cantik itu pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya saat ini.


Membuat gorden yang mendengar itu, seketika menatapnya dengan tatapannya begitu tajam. namun hal itu sama sekali tidak direspon oleh Asmirandah. Karena sejujurnya wanita itu masih sangat berharap bisa mendekati sahabatnya itu seperti dulu.


"kenapa kamu bersikeras sekali untuk berada di kota ini? apakah tebakanku itu benar bahwa kau ingin kembali bersatu bersama dengan Zidane? ingat Asmirandah jika hal itu sampai terjadi, Maka jangan salahkan aku untuk memporak-porandakan hidupmu!"ancam laki-laki berjambang tipis itu. Seraya menatap tajam ke arah wanita yang ada di sebelahnya saat ini.


Asmirandah dengan cepat menggelengkan kepalanya."bukan seperti itu maksudku. hanya saja aku ingin kembali merangkul sahabat baikku. Karena bagaimanapun juga, hanya dia satu-satunya orang yang peduli padaku. dan aku tidak ingin kehilangan dia."ucapnya Seraya menundukkan kepala.


"lagi pula bukankah Arabella masih ada bersama dengan mereka?"


Ciiit....


Tepat saat Asmirandah mengatakan hal itu, mobil yang ditumpangi oleh mereka berdua seketika berhenti dengan mendadak.


"Shiitt! kenapa aku bisa lupa?!"tanya laki-laki itu Seraya mengerang frustasi. dengan amarah Yang meluap-luap di dalam dadanya, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu langsung memutar arah untuk kembali ke kediaman keluarga Prakoso.


****


Sementara itu di dalam kediaman keluarga itu sendiri, semua masih tampak bening. karena mereka semua, menyelami pikiran masing-masing. tentang apa yang baru saja terjadi itu. hingga beberapa saat kemudian,....

__ADS_1


Oeeekk Oeeekk Oeeekk


Oeeekk Oeeekk Oeeekk


Secara bersama-sama, baby Arabella dan juga baby Elvio menangis secara bersamaan dengan begitu kencangnya. Hal itu membuat semua orang seketika tersadar dari lamunannya.


"bagaimana ini mereka menangis secara bersamaan?"tanya Ajeng dan juga Sahara dengan ekspresi wajah panik. karena mereka tidak bisa memberikan Arabella asupan sembarangan. mungkin jika Elvio, mereka akan memberikan susu formula yang memang telah disediakan oleh keluarga itu. tapi kalau Arabella, mereka tidak tahu susu apa yang cocok untuk bayi perempuan itu.


"kenapa kalian diam saja? ayo berikan susu pada dua bayi itu."perintah Oma Keisha pada dua menantunya itu.


Membuat Ajeng dan juga Sahara yang mendengarnya, ketika saling pandang satu sama lain.


"tapi Bu, bukankah kita tidak boleh sembarangan memberikan asupan pada bayi yang tidak kita asuh. takutnya nanti akan terjadi sesuatu pada bayi milik Sheila dan juga Jordan."ucap Sahara dengan cepat.


"kalau begitu coba periksa tasnya siapa tahu ada susu yang memang telah disediakan oleh mereka."setelah menimbang ucapan dari menantunya itu, pada akhirnya wanita renta itu memerintahkan para menantunya untuk segera memeriksa tas yang dibawa oleh Asmirandah dan juga Jordan.


Ajeng seketika dengan cepat langsung berjalan ke arah tas besar yang dibawa oleh Asmirandah dan juga Jordan.


Wanita paruh baya Itu tampak terkejut untuk beberapa saat kemudian. hingga pada akhirnya, dengan perlahan tapi pasti, wanita paruh baya itu segera mengambil sebuah kantong yang berisi cairan kehidupan milik Asmirandah.


Dengan menahan segala rasa di dalam dada, wanita paruh baya itu segera menuju ke dapur untuk memanaskan air kehidupan itu agar layak dikonsumsi.


"ternyata dia bisa menjadi Ibu yang baik untuk Arabella."gumamnya Seraya menitihkan air mata.


Hati dari Ajeng, sedikit merasa sesak saat mengingat bahwa Haidar tidak mendapatkan asupan kehidupan yang layak dari ibunya. ya walaupun, bocah kecil yang kini berusia 2 tahun itu mendapatkan asupan gizi dari susu terbaik. tetap saja semua itu tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan air kehidupan yang mengalir langsung di tubuh seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2