
Terhitung sudah hampir satu jam, kedua wanita itu masih berada di dalam kamar mereka. dan mereka masih enggan untuk keluar dari ruangan itu. karena keduanya, masih asik untuk berbincang-bincang satu sama lain.
"apakah kau tidak lapar?"tanya Asmirandah menatap ke arah sahabatnya itu yang sejak tadi hanya terkikik geli saat melihat gambarnya bersama dengan Jordan di pantai barusan.
Sontak saja Tiara yang sedang asyik menikmati keindahan fotonya bersama dengan laki-laki yang ia cintai, seketika menoleh ke arah sahabatnya. dengan sesekali, menyengir.
"oh iya aku lupa ayo kita makan."tanpa memperdulikan ekspresi dari sahabatnya itu, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu langsung menarik tangan Asmirandah untuk beranjak dari tempat tidur.
Tak lama berselang, mereka sudah berada di depan pintu kamar. mereka berdua memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju restoran yang ada di dalam hotel itu. karena sepertinya, makanan di situ masih terbilang enak.
"kita makan restoran yang ada di dalam saja, ya?"tanya Asmirandah memberikan usul. dan hal itu, langsung dijawab anggukan kepala oleh sahabatnya.
Mereka berdua akhirnya berjalan untuk menuju ke restoran yang ada di dalam hotel itu. dengan sesekali bercanda tawa.Tanpa mereka sadari, ada dua orang pria tampan yang memperhatikan gerak-gerak mereka. siapa lagi jika bukan Jordan dan juga Chandra.
"kau yakin akan menolak pesona dari salah satu di antara mereka?"tanya Chandra menatap ke arah sahabatnya itu dengan ekspresi wajah menggoda.
"yakin!"sahutnya cepat dan langsung berjalan meninggalkan Chandra yang masih terdiam di tempatnya.
"tapi aku tidak yakin. pesona dari salah satu wanita itu, pasti mampu merobohkan gunung es yang telah kau bangun selama ini."gumam laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu Seraya berjalan untuk menghampiri sahabatnya.
***
"mau pesan apa Nona Nona?"tanya salah satu pelayan yang datang menghampiri Tiara dan juga Asmirandah yang baru saja sampai di tempat itu.
__ADS_1
"kami pesan burger dua, pasta dua, kentang goreng dua, dan chicken nugget dua. sama minumannya air kelapa muda."ucap Tiara pada pelayan yang ada di sebelahnya saat ini.
"baik! kalau begitu, ditunggu."ucap pelayan itu yang langsung pergi dari sana.
Sementara dua wanita cantik itu melanjutkan obrolannya dan sesekali tertawa Jika ada yang lucu. hingga kedatangan seseorang, membuat tawa dari keduanya terhenti.
"asik banget kayaknya."ucap orang itu yang langsung duduk di hadapan Asmirandah dan juga Tiara.
"Bunda, sejak kapan Bunda ada di sini?"tanya Asmirandah dengan raut wajah terkejut bukan main.
Bagaimana tidak terkejut, kedua orang tuanya hanya mengetahui dirinya jalan-jalan bersama dengan sahabatnya untuk membeli sesuatu. namun sampai dua hari, mereka belum juga pulang ke negara asalnya. tentu saja hal itu membuat Asmirandah merasa sedikit was-was dan juga takut.
Sementara Tiara, wanita itu hanya tersenyum menatap ke arah ibunda dari sahabatnya itu tanpa perasaan bersalah sedikitpun.
"tidak usah terkejut seperti itu. Bunda sudah tahu semuanya."ucap Chelsea tersenyum simpul.
"tau kalau kamu akan berlibur sama dengan sahabatku untuk beberapa hari ini. Bunda awalnya marah karena kamu, tidak mau berterus terang dengan Bunda. tapi setelah Bunda pikir-pikir, memang seharusnya kamu ada waktu sendiri untuk menenangkan pikiranmu. apalagi, setelah kejadian penghianatan yang dilakukan oleh Yuda terhadapmu. pasti kau ingin melupakan semuanya, bukan?"tanya Chelsea menatap lembut ke arah putrinya itu.
Entahlah. saat ini Asmirandah harus senang atau sedih saat mendengar penuturan dari wanita yang pernah melahirkannya itu. tapi, satu hal yang Asmirandah tahu.sahabatnya itu tidak menceritakan semuanya pada wanita paruh baya itu. karena jika hal itu sampai terjadi, maka Asmirandah tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tante mau makan apa? biar aku pesankan!"ucapan dari Tiara itu, membuat lamunan Asmirandah seketika buyar.
"samain aja sama kayak kalian."jawab Chelsea Seraya tersenyum teduh. Tiara yang mendengar itu hanya menganggukkan kepala. kemudian beranjak untuk menghampiri pelayan restoran itu.
__ADS_1
Karena kebetulan, letak dari pegawai restoran itu sangat jauh dari kursi mereka. tidak mungkin bukan, jika Tiara akan berteriak untuk memanggil pelayan itu? Bisa-bisa, wanita itu akan langsung mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya karena dianggap tidak sopan saat berada di muka umum.
"apa Bunda marah?"tanya Asmirandah dengan nada suara yang sangat pelan dan juga ekspresi wajah yang sedikit takut.
"awalnya Bunda mau marah. tapi saat mendengar penjelasan dari Tiara, Bunda justru bangga sama kamu."ucap wanita paruh baya itu Seraya mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.
"memangnya Tiara berbicara apa sama Bunda?"tanya wanita cantik itu dengan ekspresi wajah yang mulai tegang kembali. takut jika sahabatnya itu mengatakan yang sebenarnya pada wanita yang berjasa telah melahirkannya itu.
"Tiara bilang, kamu ingin menghindari pertengkaran dengan kakakmu. sehingga kamu, memutuskan untuk pergi bersama dengan Tiara untuk menyegarkan pikiran."jawab Chelsea.
"hufftt syukurlah kalau begitu."batin Asmirandah bernafas lega.
Tak lama berselang, Tiara datang dengan seorang pelayan dengan membawa makanan di tangan masing-masing. dan dengan segera, duduk di samping Asmirandah.
"selamat makan semuanya."ucap Asmirandah setelah makanan itu berada tepat di hadapannya.
Mereka mulai menikmati makanan itu dengan suasana yang hening. Sesekali, Chelsea akan menatap ke arah putrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"oh ya Bunda, Papa ada di mana?"tanya Asmirandah setelah wanita itu selesai menyantap satu burgernya.
"Papa kamu masih berada di negaranya. Bunda memang sengaja ke sini untuk sekedar memastikan apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Karena setelah ini, Bunda akan kembali ke negara di mana Papamu berada."jelas Chelsea menatap ke arah putrinya.
Asmirandah yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. wanita itu tahu betul bagaimana sifat dari kedua orang tuanya itu. kedua orang tuanya itu, tidak akan pernah bisa berjauhan satu sama lain. itu sebabnya jika Aaron bepergian jauh, maka sang istri akan ikut bersama dengan laki-laki itu. dan begitu pula sebaliknya.
__ADS_1
Karena mereka berdua merasa, sudah seperti sepasang baju yang melekat di tubuh. tidak akan bisa digunakan dan tidak akan bisa nyaman jika salah satunya tertinggal. dan hal itu pula, sempat ingin menjadi impian dari Asmirandah dengan laki-laki yang ia cintai.
Namun ternyata, takdir Tuhan tidak berpihak kepadanya. bukannya kebahagiaan yang ia dapat, melainkan rasa sakit hati dan penghianatan yang hadir dalam hidupnya. itulah sebabnya, Asmirandah masih belum ingin membuka diri untuk laki-laki lain.