
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita tengah termenung di atas tempat tidurnya. siapa lagi orangnya jika bukan Asmirandah. pikiran dari wanita itu, tengah berkecamuk.
Syok? sampai saat ini saja, wanita itu masih tidak mempercayai jika sahabatnya mampu untuk berkhianat seperti ini. padahal semua yang terjadi ini, adalah sebuah ketidaksengajaan.
"aku harus menghubungi Tiara lagi. aku harus mencoba untuk memberikan dia pengertian."gumam wanita itu Seraya mulai mencari nomor dari sahabatnya itu.
Ah sahabat, sampai saat ini saja Asmirandah masih kebingungan ingin memanggil dan menyapa wanita itu dengan sebutan apa. karena sudah dapat dipastikan, bahwa Tiara tidak akan pernah sudi jika disebut sebagai sahabatnya lagi.
"kenapa semuanya menjadi runyam seperti ini?"tanya wanita itu dengan nada yang sangat frustasi.
Tut Tut Tut
Walaupun begitu, Asmirandah masih tetap mencoba untuk menghubungi wanita yang berpengaruh besar dalam hidupnya itu. hingga beberapa saat kemudian....
("halo ada apa kau menelponku lagi? apakah kau belum puas untuk menyakitiku?")
Terdengar suara seseorang dari sebelah sana yang tak lain adalah Tiara. namun, dengan nada suara yang sangat berbeda dari biasanya.
"Tiara aku mohon jangan seperti ini. aku janji, apapun yang kamu inginkan akan langsung aku turuti! aku --"
("pergi dari hidup Jordan. maka aku akan langsung melepaskan anak dan juga suamimu!") potong Tiara dari seberang sana.
"oke! kalau begitu, bantu aku untuk pergi dari sini"ucap Asmirandah pada akhirnya.
Karena jujur saja, wanita itu sama sekali tidak mengetahui cara untuk keluar dari tempat terkutuk itu. karena semua bangunan, hampir diperketat oleh orang-orang suruhan Jordan.
("aku tidak bisa. Kau pikir saja sendiri!")
Setelahnya panggilan itu benar-benar terputus. "aaaakkhh!" teriaknya Seraya mengacak-acak surai panjang itu karena merasa sangat frustasi dengan keadaan ini.
"apa yang harus aku lakukan?"tanya wanita itu dengan mata memerah bersiap untuk menumpahkan cairan bening dari dalam kelopak matanya.
Sementara itu di ruangan lain, terlihat Jordan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. senyum dari laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri kanan wajahnya itu tak lekang oleh apapun.
__ADS_1
Hingga sebuah panggilan telepon, membuyarkan acara melamunnya. dengan perlahan, laki-laki itu mulai mengangkatnya.
"halo Chandra, ada apa?"tanya Jordan pada sahabatnya itu. sepertinya sudah lama sekali mereka tidak bersua seperti ini akibat pekerjaan dan juga urusan masing-masing yang begitu padatnya.
("halo Jordan, apakah kita bisa bertemu? Ada hal penting yang harus aku bicarakan. apakah kau bisa?") tanya Chandra dari seberang sana.
"tentang apa? apakah tidak bisa untuk membicarakannya di sini saja?"
"tidak bisa Jordan! kita harus bertemu."
"baiklah kita akan bertemu nanti! aku akan mengirimkan alamatku padamu!"setelah mengatakan hal itu, Jordan segera memutus sambungan teleponnya.
***
"bagaimana apakah kau mendapatkan apa yang aku minta?"tanya Zidane pada Chandra.
"tentu saja kak. sebentar lagi, Jordan akan mengirimkan alamatnya padaku."jawab Chandra dengan yakin.
"Bagus kalau begitu!"
****
Pesta pernikahan yang digelar oleh keluarga dari Prakoso, begitu sangat meriah. hampir semua orang di penjuru kota itu diundang oleh keluarga bangsawan itu. tak terkecuali dari keluarga Orlando.
Walaupun kepala dari keluarga itu sudah tidak ada, tetap saja keluarga Prakoso memberikan undangannya. itu semua dikarenakan menjaga nama baik dari keluarga itu sendiri.
Semua orang menatap kagum pesta pernikahan itu. pesta yang diselenggarakan seperti di negeri dongeng itu, benar-benar sangat memukau setiap mata pengunjung yang datang.
Namun dibalik itu semua, ada hati seseorang yang begitu rapuh. siapa lagi orangnya jika bukan Naomi. wanita itu bahkan sesekali akan menitihkan air mata saat menyaksikan bagaimana kemesraan yang ditunjukkan oleh mantan kekasihnya bersama wanita lain.
Kedua tangannya seketika terkepal hebat. saat netranya, melihat dengan jelas bagaimana Zidane mencium wanita itu tepat di hadapannya. ralat di hadapan semua orang.
"aku bersumpah akan menghancurkanmu Tiara sialan!"setelah mengatakan hal itu, amis segera pergi dari sana. Karena Wanita itu, sama sekali tidak sanggup untuk melihat adegan selanjutnya.
__ADS_1
"apa ini sudah selesai?"tanya Zidane dengan raut wajah datarnya menatap lurus ke depan.
"tentu saja belum memangnya kau mau ke mana?"tanya Tiara yang sesekali akan tersenyum memandang ke arah para tamu yang datang untuk menghormati mereka.
Zidane sama sekali tidak membalas pertanyaan dari wanita itu. laki-laki itu kembali ke mode awalnya cuek dan juga datar.
Sementara Tiara sendiri, wanita itu hanya menatap kepergian dari Naomi dengan senyuman yang penuh arti.
Beberapa saat kemudian...
Pesta pernikahan yang melelahkan dan juga menyebalkan bagi Zidane itu, pada Akhirnya selesai juga. Namun demikian, laki-laki itu harus menunggu kondisi agar lebih kondusif dari sebelumnya. atau jika tidak, semua akan berantakan.
Karena pengaruh dari pesta pernikahan itu, membuat semua orang merasa sangat kelelahan. termasuk juga, dengan Tiara sendiri. wanita berambut panjang sampai pinggang itu bahkan sudah tepar sejak 30 menit yang lalu.
"aku harus segera menemui Chandra."gumamnya Seraya terlalu pergi dari sana.
Tanpa menimbulkan suara apapun, laki-laki berwajah manis itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat yang telah mereka janjikan.
Tak membutuhkan waktu lama, Zidan telah sampai di tempat itu. dan di sana pula, telah berdiri Chandra Yang sepertinya tengah menunggu kedatangannya.
"bagaimana apakah sudah siap?"tanya laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu.
"tentu saja!"jawab Zidane Seraya matanya memandang lurus ke depan. kemudian tak berselang lama, laki-laki berwajah manis itu segera merogoh saku celananya. memberikan alat penyadap pada Chandra.
"lakukan tugasmu dengan baik! Jika perlu, bisa menasehati laki-laki itu."ucapnya penuh dengan ketulusan. karena jujur saja, Zidane sangat merindukan adik sepupunya itu seperti sedia kalah.
Karena laki-laki berwajah hitam manis itu merasa, saat ini Jordan bukanlah Jordan yang dulu laki-laki itu telah berubah hanya karena obsesi dan juga rasa cinta yang terlalu besar pada seseorang.
"kau tenang saja Bang! aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali menyadarkan adikmu itu."ucap laki-laki itu penuh dengan tekad.
"oh ya bagaimana keadaan putramu itu?"tanya laki-laki yang berprofesi sebagai dokter itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu mengundang kesedihan dari laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"dia baik-baik saja! akan lebih baik, jika ibunya kembali dan berkumpul bersama dengan keluarga yang benar-benar mencintainya dengan tulus!"jawab Zidane dengan sedikit menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
"baiklah ayo kita mulai!"setelah mengatakan hal itu, Chandra segera masuk ke dalam mobil. diikuti oleh Zidane di belakangnya.
Jika kalian pikir laki-laki berwajah manis itu akan menyerahkan tanggung jawab pada Chandra sendiri, kalian salah besar. karena pada kenyataannya, laki-laki itu tetap mengawasi dan ikut membantu. karena Chandra hanya sekedar perantara saja. yang memiliki masalah adalah dirinya.