
Setelah selesai mengobati luka yang ada dalam diri Asmirandah, dan juga memberikan wanita itu obat agar bisa tidur dengan tenang, Jordan segera keluar dari dalam kamar itu. walaupun laki-laki itu terluka, namun tidak menyurutkan niatnya untuk memberikan pelajaran pada orang-orang yang dianggap telah lalai dalam menjaga keamanan itu.
"kumpulkan mereka semua di aula Jerry!"titah Jordan tak terbantahkan.
Membuat laki-laki yang beberapa hari yang lalu telah resmi menjadi asisten dari Jordan itu, hanya menganggukkan kepala Seraya berlalu dari sana.
Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat mereka semua berkumpul di ruangan itu. dan suasana menjadi semakin mencekam saat Jordan masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Jerry. entah ke mana sosok laki-laki periang dan juga humoris itu. karena yang mereka lihat sekarang, adalah sosok Jordan yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Semarang ini, laki-laki yang ada di hadapan mereka saat ini adalah sosok laki-laki yang begitu menyeramkan dan juga mengerikan. membuat semua orang yang ada di sana, seketika menundukkan kepala karena merasa ketakutan.
"apakah kalian ingin memberikan kesaksiannya terlebih dahulu?"tanya laki-laki itu dengan nada suara yang sangat tenang. namun hal berbeda dirasakan oleh para pekerja itu.
Karena mereka malah merasakan hal yang sebaliknya. sangat mengerikan dan menakutkan. karena tidak ada yang ingin memberikan kesaksian terlebih dahulu, Jordan memberikan kode pada Jerry melalui tatapan mata dan juga lambaian tangan.
Jerry yang mengerti maksud dari tuannya itu, segera melangkahkan kakinya dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku. aura dari asisten pribadi Jordan itu, tak kalah mengerikan. tatapan dari laki-laki itu, diam-diam begitu mengerikan.
Jerry segera berhenti tepat di hadapan para pekerja itu dan tiba-tiba saja..
plak plak plak plak plak
Semua orang yang ada di sana, mendapatkan satu tamparan yang sangat kuat dari Jimmy. membuat mereka semua, seketika terhuyung ke belakang secara bersamaan. dan tak berselang lama, dari hidung para pekerja itu, berhamburan darah yang begitu banyak.
Tidak sampai di situ saja. karena Jimmy menendang perut semua orang yang ada di sana. tak peduli laki-laki ataupun perempuan. semua sama di matanya.
__ADS_1
Setelah puas memberikan pelajaran, kini giliran Jordan yang berdiri di hadapan para pekerja itu yang telah terduduk di atas lantai dengan wajah meringis karena menahan rasa sakit yang luar biasa.
"ini hanyalah pelajaran kecil untuk kalian semua. jika saya melihat sesuatu hal terjadi pada Asmirandah, maka nyawa kalian akan menjadi taruhannya. termasuk juga, keluarga kalian yang ada di rumah akan menjadi taruhannya jika sampai sesuatu terjadi pada wanitaku!"setelah mengatakan hal itu, Jordan segera pergi dari sana.
Namun sebelum itu, laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu sempat menginjak tangan dari salah seorang pengawal yang tidak jauh darinya. erangan kesakitan, seketika menggema di ruangan itu. disusul dengan tulang jemari itu terdengar patah.
Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Jordan. Karena tanpa rasa bersalah sedikitpun, laki-laki itu segera pergi dari sana. meninggalkan semua orang yang masih dalam ketakutan luar biasa.
Dan tanpa sadar, semua kejadian itu disaksikan langsung oleh Asmirandah dari balik teropong yang kebetulan tergeletak di samping tempat tidurnya.
Seketika itu pula, tubuh dari wanita itu menegang. dan tak lama berselang, merosot disertai dengan tangisan yang begitu memilukan.
Asmirandah sama sekali tidak menyangka bahwa apa yang baru saja ia lakukan itu, malah menjadi petaka bagi orang lain. seketika itu pula, perasaan bersalah menyeruak dari dalam hati wanita itu. andai saja dirinya tidak melakukan hal itu, maka orang-orang itu dipastikan akan aman. namun nasi sudah menjadi bubur dan tidak bisa dikembalikan seperti semula.
"kau memang iblis Jordan!"ucapnya penuh dengan emosi dan juga mengepalkan kedua tangannya karena merasakan sakit yang luar biasa.
Saat pintu kamar itu dibuka dari luar, Asmirandah segera melompat dari atas tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. dan setelah satu menit berlalu, wanita itu kembali melompat ke atas tempat tidur dan berpura-pura untuk memejamkan mata.
Karena memang, terakhir kali Jordan meninggalkan wanita itu dalam keadaan terlelap sehabis meminum obat yang diresepkan oleh dokter.
Tak berselang lama, terdengar pergerakan dari seseorang yang menaiki ranjang. dan tak berselang lama juga, ada sebuah tangan yang mengusap kepala dan juga pipi wanita itu dengan begitu lembut.
"apapun yang terjadi, kau harus bersama denganku."ucap Jordan berbisik di telinga Asmirandah. dan setelahnya, memberikan beberapa kali kecupan di wajah wanita itu. dan setelahnya, ikut berbaring memeluk tubuh wanita yang paling ia cintai itu.
__ADS_1
Sementara Asmirandah sendiri, wanita itu hanya bisa pasrah karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan untuk saat ini.
"apakah aku akan selamanya terbelenggu jangan laki-laki psikopat ini?"tanya wanita itu dalam hati pada dirinya sendiri. karena jujur saja, Asmirandah nyalinya sudah merasa ciut saat melihat bagaimana Jordan membuat buta menyiksa orang-orang itu hanya karena melihat dirinya terluka.
Pagi harinya...
Asmirandah baru saja membuka matanya. dan wanita itu, sudah dikejutkan oleh beberapa pelayan yang berdiri tepat di hadapannya dengan luka lebam di mana-mana.
"apakah itu sakit?"tanya Asmirandah Seraya menatap ke arah wajah milik orang-orang itu yang tampak sekali terlukanya.
"tidak nyonya ini tidak apa-apa!"jawab mereka secara bersamaan.
"Ck. kalian ini!" kesal wanita itu dengan berdecak kesal pada orang-orang itu. apakah sebegitu menakutkannya hingga mereka tidak berani untuk mengatakan sesuatu? tapi jika dipikir-pikir, apa yang mereka hadapi ini memang benar-benar sangat sulit.
"Ya sudah! kalau begitu, saya mau mandi!"ucap wanita itu Seraya beranjak dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.
Sementara para pekerja itu, mulai mengerjakan apa yang diberitakan oleh Jordan pagi tadi.
Asmirandah di dalam kamar mandi, kembali mengusap matanya yang sedikit berair karena menyaksikan bagaimana kondisi dari orang-orang itu.
"aku sekarang benar-benar sangat sendirian tidak ada yang bisa menolongku!" gumamnya Seraya sesekali mengusap wajahnya dengan air hangat.
Tak lama berselang, Asmirandah datang dengan wajah dan tubuh yang sudah segar. para pelayan itu, segera mempersiapkan penampilan dari Asmirandah. mulai dari memilihkan gaun, memberikan make up tipis di wajah wanita cantik itu, hingga menyuapi makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Tentu saja pada awalnya, Asmirandah merasa sangat risih dengan perilaku dari para pelayan itu. namun pada akhirnya, wanita itu hanya menurut saja saat mendengar penuturan dari para pelayan itu.
"tolong bantu kami untuk meringankan pekerjaan. jangan sampai, kami menjadi sasaran dari Tuan Jordan lagi!"begitulah kira-kira yang Asmirandah dengar dari orang-orang itu.