Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 172


__ADS_3

"bagaimana apakah air kehidupanmu keluar dengan begitu banyak?"tanya Oma Keisha menatap ke arah Elvio yang masih mencoba untuk menggapai sesuatu di sana dengan mulut mungilnya.


"aah Maaf Oma dan semuanya. sepertinya Putraku ini tidak nyaman jika di tempat terbuka seperti ini. lihatlah dia tampak gelisah seperti ini." tunjuk Tiara pada baby Elvio yang tampak tidak tenang dalam dekapan wanita itu.


Oma Keisha yang melihat itu, jadi merasa kasihan. dan pada akhirnya, wanita renta itu memutuskan untuk membiarkan Tiara memberikan air kehidupannya di dalam kamar.


"baiklah! kalau begitu, Kau boleh kembali ke dalam kamar rawat dan jaga cukup dengan baik. karena dia, adalah satu-satunya calon pewaris dari PRK.Corp. ucapnya dengan tersenyum lebar.


Sementara Ajeng yang mendengar itu, sempat memutar bola mata malas."kau tidak tahu saja kalau Zidane telah memiliki calon pewaris yang bahkan lebih kuat dan juga tangguh dari Elvio."julidnya dengan nada suara yang sangat sinis. tentunya hal itu hanya dapat dilakukan oleh Ajeng hanya di dalam hati saja. karena wanita paruh baya itu masih ingin hidup dengan tenang.


Setelah mendapatkan lampu hijau dari sesepuh keluarga Prakoso, Tiara segera masuk ke dalam kamarnya. meninggalkan ketika manusia berbeda generasi itu di ruang tamu.


"kamu lihat sendiri kan, kalau cucuku itu memang benar-benar merawat putranya. jadi, jangan pernah berusaha untuk memprovokasiku."ucap wanita rentak itu Seraya melayangkan tatapan tajam. dan setelahnya, beranjak pergi dari sana.


Memang permintaan dari Oma Keisha yang meminta Tiara untuk memberikan air kehidupan di depan mereka, adalah usul dan juga provokasi dari Ajeng. karena mereka ingin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana cara wanita itu memberikan perhatiannya pada putranya. namun apa yang dilihatnya, justru malah berlawanan dengan ekspektasi yang ada di otaknya.


"menyebalkan sekali. lebih baik, aku menemui cucuku saja. sudah lama rasanya aku tidak menemaninya."gumam Ajeng Seraya beranjak dari tempat duduknya


****


Sementara itu di dalam kamarnya, Tiara segera meletakkan bayi mungil itu dengan kasar di tempat tidur.


"bisa tidak kau ini jangan pernah merepotkan? dasar bayi sialan!"hardiknya dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


sementara baby Elvio, tetap menangis dengan sangat kencang. karena memang bayi malang itu merasakan haus yang luar biasa. karena sampai waktu menunjukkan pukul 11.00 siang, bayi mungil itu belum mendapatkan asupan apapun dari dalam tubuhnya. terakhir kali Tiara memberikan minuman itu, ya selepas bangun tidur. dan dapat dipastikan, Elvio pasti sudah kembali merasakan kelaparan.


Dengan gerakan cepat dan juga kasar, wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu segera mengambil botol susu dan mengisinya dengan air yang memang sudah tersedia di sana. dan dengan segera, memberikan minuman itu pada putranya.


Tiara kembali memutar bola mata malas. saat wanita itu melihat, kedua kelopak mata milik Elvio yang perlahan-lahan mulai terpejam.


Entah di mana hati nurani dan juga kebaikannya yang dulu sempat ia curahkan pada Haidar putra dari Asmirandah dan juga Zidane. mengapa sekarang wanita itu seperti sosok wanita lain. karena Tiara yang sekarang, tidak ada sisi lembut sama sekali. yang ada, justru malah kebalikannya garang dan juga sadis.


Setelah selesai memberikan minuman pada Elvio, Tiara memutuskan untuk kembali berbaring dan memejamkan mata. namun tiba-tiba saja, matanya kembali terbuka saat mengingat akan sesuatu. dengan secepat kilat, wanita itu mengambil ponselnya yang berada di atas nakas.


"aaaakkhh sialan kau Asmirandah!"amuk wanita itu dengan nada suara yang begitu tinggi. saat melihat story dari Jordan yang menampilkan foto laki-laki itu tengah bersama dengan Asmirandah dan juga seorang bayi mungil yang berada dalam gendongan laki-laki itu.


Tangan Tiara hendak terangkat untuk membanting benda pipih miliknya itu. namun itu segera urung dilakukan mengingat bahwa di HP itu, dirinya bisa memantau perkembangan dari laki-laki yang benar-benar telah masuk ke dalam hatinya.


"dasar wanita ular!" desisnya dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan namun terlihat begitu mengerikan.


Wanita itu kembali naik pitam. saat mendengar suara tangisan dari Elvio. karena mungkin saja, bayi itu terkejut saat mendengar suara teriakan yang begitu nyaring. tanpa pikir panjang lagi, Tiara kembali membungkam mulut bayi malang itu menggunakan botol yang masih tersisa 'minuman' di dalamnya.


"cih, tidak berguna!" hardiknya saat melihat perlahan-lahan bayi mungil itu kembali terlelap.


****


"Zidane Kau kenapa melamun?"tanya Ajeng yang masuk ke dalam kamar putranya dan melihat laki-laki itu tengah termenung menatap ke arah ponsel yang berada di tangannya.

__ADS_1


"apakah kau masih kepikiran tentang foto yang di buat status oleh Jordan?"tanya wanita paruh baya itu dengan suara hati-hati. Karena Wanita itu tahu, saat ini Zidane dalam keadaan sensitif.


"lihatlah Mami. Mereka tampak sangat bahagia."tunjuk Zidane pada sang Mami. membuat wanita paruh baya itu, juga ikut menatap ke arah benda pipih milik putranya.


Kedua matanya sempat melebar saat melihat bagaimana interaksi antara Jordan dan juga Asmirandah yang begitu intens dan terlihat sangat bahagia.


"apakah istrimu sudah benar-benar jatuh cinta pada adik sepupumu itu?"tanya Ajeng tanpa sadar.


Zidane yang mendengar itu semakin merasa frustasi. membuat Ajeng dengan segera mengajak putranya itu untuk mengunjungi Haidar


Karena memang mereka sudah terlalu lama mendiamkan bocah kecil yang berusia satu setengah tahun itu.


"sudahlah tidak usah dipikirkan. Sebaiknya, kita menemui putramu saja karena Mami sudah merasa rindu dengan cucu kesayangan Mami itu."dengan tidak sabaran, Ajeng segera menarik tangan dari putranya untuk membawa laki-laki itu keluar dari kediaman Prakoso.


****


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh keduanya telah sampai di kediaman tersembunyi milik Zidane. dan di sana, pasangan ibu dan anak itu sudah disambut oleh tangisan dari bocah laki-laki yang menggema di seluruh bangunan itu.


Tanpa pikir panjang lagi, Zidane dan juga Ajeng segera menghampiri Haidar untuk menenangkannya.


"Sayang kenapa menangis, hmm?"tanya laki-laki itu Seraya mengusap pipi gembul milik putranya yang sudah berlinang air mata.


"Mama huuuaaa!" tangisan itu seketika melengking membuat Ajeng dan juga Zidane, seketika tersentak kaget. karena Setelah sekian lama, Haidar kembali menangis dan mencari keberadaan sang ibu.

__ADS_1


Diam-diam laki-laki berwajah manis itu tersenyum miris. bagaimana bisa seorang ibu telah tertawa terbahak-bahak di suatu tempat. sementara putranya, menangis pilu merindukan pelukan hangat dari ibunya? benar-benar menyebalkan pikir Zidane.


__ADS_2