Ditikung Kakak Kandung

Ditikung Kakak Kandung
Bab 192


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah rumah sakit yang terkenal terlihat seorang laki-laki yang tengah menunggu di sebuah ruangan.


"bagaimana keadaan istri saya apakah dia sudah bisa pulang?"hanya Jordan dengan tenang.


Para tenaga medis yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. dan tak lama berselang, mereka semua segera mempersiapkan acara kepulangan dari Asmirandah.


"kira-kira, kapan perban itu bisa dibuka?"tanya Jordan dengan nada suara yang begitu dingin dan juga menakutkan.


"sepertinya, tiga hari lagi sudah bisa dibuka Tuan."sahut para tenaga medis itu secara serempak. dan hanya dijawab anggukan kepala oleh laki-laki yang memiliki jambang tipis di kiri dan kanan wajahnya itu.


Setelah persiapan semuanya selesai, Jordan segera membawa Asmirandah untuk menuju kembali ke kediaman pribadinya. di sepanjang perjalanan, laki-laki itu sesekali akan tersenyum simpul karena membayangkan semua keinginannya berjalan dengan lancar.


"sekarang kau sudah benar-benar menjadi milikku dan sudah benar-benar menjadi orang lain. dan untuk itu, maka identitas negara juga diubah."ucapnya menoleh ke arah Asmirandah dengan tatapan dinginnya.


"namamu sekarang adalah Sheila Aurora. dan aku tidak ingin ada bantahan lagi yang keluar dari dalam mulutmu."sambungnya Seraya menatap lurus ke depan.


Dengan terpaksa, Asmirandah pun menganggukkan kepala dan tersenyum simpul. kemudian dengan gerakan perlahan, kedua sudut bibir wanita itu turun ke bawah dengan isakan tangis yang begitu memilukan.


Namun hal itu sama sekali tidak diperdulikan oleh Jordan. karena yang terpenting bagi laki-laki itu, dirinya dapat memiliki Asmirandah dengan seutuhnya.


Sesampainya di kediaman tersembunyi milik Jordan, laki-laki itu segera mengangkat tubuh Asmirandah dan membawanya untuk menuju ke kamar pribadi mereka. Karena Wanita itu, harus istirahat total akibat luka pasca operasi itu belum sembuh total.


"sekarang lebih baik, kau istirahat saja."setelah mengatakan hal itu, Jordan segera pergi dari sana dengan raut wajah yang berbinar Karena hati dari laki-laki itu saat ini tengah berbunga-bunga.


"akan aku pastikan, kau benar-benar akan menjadi milikku dan tidak akan pernah aku biarkan, kau lari dari hidupku."ucap laki-laki itu dengan nada suara yang begitu lirih dan tidak ada orang yang mendengarnya.

__ADS_1


****


Sementara itu di kediaman Prakoso, terlihat Tiara yang semakin lama semakin misteri Karena Wanita itu mendapatkan berbagai macam teror dari Naomi. dan sialnya, wanita itu tidak bisa mengadu pada orang lain. karena itu, benar-benar sangat risiko.


"Tiara, kau ada di dalam?"tanya Oma Keisha dengan mengetuk pintu kamar wanita itu.


Membuat Tiara sendiri, ketika membuang nafasnya kasar."dasar nenek tua bangga bisanya cuma menggangguku saja!" gerutunya dengan sesekali menghentak-hentakkan kakinya.


Di saat tangan dari wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu hendak meraih handle pintu, kedua matanya menatap ke arah box bayi yang terdapat Elvio di sana.


Dengan gerakan kasar, wanita itu segera membawa tubuh rentan milik Elvio guna membuka pintu.


"iya Oma, ada apa?"tanya wanita rambut panjang sampai pinggang itu.


"tidak ada apa-apa sayang. oh iya bagaimana keadaan Elvio?" tanya wanita renta itu seraya menetap ke arah bayi mungil itu yang masih terlelap di dalam dekapan Tiara.


"sudah tahu dia baik-baik saja begini. kenapa malah bertanya lagi?"tanya wanita itu dalam hati dengan raut wajah yang begitu kesal. secepat kilat, wanita itu segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi sebiasa mungkin dan juga semanis mungkin.


"dia baik-baik saja Oma."ucapnya dengan suara yang begitu lembut. membuat wanita tua itu, ketika melakukan kepala dan ikut tersenyum menatap ke arah bayi itu dengan perasaan tenang.


****


Sementara itu di dalam kamar terlihat Ajeng dan juga Zidane tengah berbincang-bincang. sepertinya pasangan ibu dan anak itu, nampak tidak terkecoh dengan kondisi dari Elvio. karena memang, mereka berdua sama-sama belum memiliki perasaan sayang pada bayi malang itu.


"bagaimana keadaan Haidar?"tanya Ajeng menatap ke arah putranya itu dengan raut wajah yang begitu khawatir.

__ADS_1


"ya sekarang aman di negara jauh dari jangkauan keluarga kita."ada nada berat yang terdengar dari nada bicara laki-laki berwajah manis itu.


"sabarlah sebentar lagi semoga setelah ini, kebahagiaan benar-benar menghampirimu."ujarnya Seraya memeluk tubuh Putra semata wayang yaitu dengan begitu erat.


Mereka berdua larut dalam kesedihan mengenai Haidar itu. terasa air mata dari Ajeng seketika mengalir begitu saja saat mengingat bagaimana nasib malang cucunya itu.


"kamu mau ke mana?"tanya Ajeng yang sedikit tersentak saat mendapati, putranya tiba-tiba saja bangkit dari tempat duduk.


"aku mau menemui Haidar."sahut laki-laki itu dengan cepat langsung beranjak dari tempat duduknya.


Sontak saja hal itu membuat Ajeng yang mendengarnya, seketika berbinar."oke kalau begitu Mama ikut!"seru wanita paruh baya itu Seraya tersenyum lebar.


Karena memang Ajeng sangat merindukan sosok Haidar. wanita paruh baya itu, sudah tidak berkomunikasi dengan bocah kecil itu semenjak ada huru-hara di antara Zidane dan juga Jordan.


"tidak bisa Ma, Mama tidak bisa ikut sekarang."cegah laki-laki itu dengan cepat.


"memangnya kenapa? Mama juga sangat merindukan Haidar."sahut wanita tua itu dengan raut wajah yang begitu tidak enak dipandang.


Zidane seketika menghirup udara sebanyak mungkin. setelah itu menghembuskannya secara perlahan."maafkan Zidan mah. dan tidak bermaksud untuk mencegah mau ikut.. tapi untuk saat ini, baiknya Mama tidak boleh ikut dulu agar situasinya kembali kondusif seperti sebelumnya."ucapnya mencoba untuk menenangkan wanita paruh baya itu.


"Mama sangat merindukan cucu Mama itu."rengek Ajeng seperti seorang anak kecil pada putranya itu. hingga beberapa kali, Zidane tampak membuang nafasnya kasar.


Sebenarnya laki-laki itu juga merasa kasihan pada saat itu karena seolah dilarang untuk menemui seseorang yang memiliki aliran darah dari dirinya. tapi apa boleh buat, Zidane harus melakukan hal ini agar semuanya bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencananya.


"Zidane janji, nanti kalau semuanya sudah kondusif, Mama akan masuk aku ajak ke tempat di mana Haidar berada. untuk saat ini yang dapat Mama lakukan, hanyalah berdoa."ucapnya penuh dengan kelembutan.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya, wanita paruh baya itu pun menurut dan melakukan kepalanya dengan perasaan lebih tenang dari sebelumnya.


"baiklah kalau begitu Mama akan mencoba bersabar demi semuanya bisa baik-baik saja."pada akhirnya wanita itu pun mengalah dan mengesampingkan egonya.


__ADS_2