
Saat ini Tiara berada di sebuah toilet untuk membersihkan noda yang ada di bajunya. tak lama berselang terdengar suara pintu yang dibuka dari luar.
"hai Tiara kita ketemu lagi!"sapa wanita itu dengan senyuman lebar. sementara Tiara sendiri, hanya menatap malas dan juga datar ke arah orang itu yang tak lain adalah Naomi.
"apa yang kau inginkan?"tanya wanita itu tanpa basa-basi.
Membuat Naomi yang mendengar itu, ketika tertawa lepas."ternyata pintar juga kau ini. tidak salah adikku memilihmu untuk menjadi sahabatnya. karena memang kau benar-benar pintar!"puji wanita itu dengan menepuk bahu Tiara beberapa kali.
"jangan pernah mengingatkan aku dengan wanita itu!"Desis Tiara tidak suka Seraya menepis kasar tangan dari Naomi.
Membuat wanita itu sejenak terdiam. karena memang, Naomi tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi di antara Tiara dan juga Asmirandah. karena memang Naomi mengira, hubungan keduanya baik-baik saja. tapi kenyataannya..
Wow sungguh mencengangkan.
Tak lama berselang dari itu raut wajah dari Tiara seketika berubah. membuat Naomi yang melihatnya, sedikit merasa waspada.
"kamu tahu kan kalau aku kini telah menjadi istri dari Zidane? laki-laki yang kamu intip-impikan dan kamu perjuangkan mati-matian?"tanya wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu dengan senyuman menyeringai.
Tiara yakin, sebentar lagi Naomi akan murka. dan di saat itulah, Tiara akan menjatuhkan harga diri dari keluarga Orlando. dan ternyata benar apa prediksi dari wanita itu. karena sesaat kemudian, Naomi berusaha untuk meraih rambutnya.
"dasar wanita perebut! kembalikan Zidane untukku!"tarian wanita itu seperti orang yang kesetanan. sementara Tiara sendiri, wanita itu hanya melipat kedua tangannya di depan dada dengan pandangan mata yang begitu aku dan juga bengis.
Sepasang netranya seketika teralihkan saat mendengar seseorang yang membuka pintu kamar mandi itu.
"Oma," panggil Tiara dengan raut wajah sedikit terkejut. namun sesaat kemudian, kedua sudut bibir milik wanita itu terangkat membentuk sebuah senyuman.
"Oma dia menyakitiku!"tunjuk Tiara pada Naomi dengan takut wajah yang dibuat senatural mungkin.
"kurang ajar!"ucapnya dengan tatapan yang sangat nyalang."mau apa lagi dia?"tanya Oma Keisha pada Tiara.
__ADS_1
"Tentu saja dia ingin merebut Kak Zidan dariku. karena memang, Dia sangat terobsesi dengan mantan terindahnya itu."jawabnya dengan raut wajah muram.
Oma Keisha yang mendengarnya, seketika memeluk tubuh cucu menantunya itu dan mencoba untuk menenangkannya.
Tak lama berselang, wanita rentah itu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Naomi. dan tiba-tiba saja,...
Plak
Satu tamparan keras ketika mendarat mulus di wajah cantik milik Naomi. hingga membuat wanita itu seketika terjerembab jatuh di atas lantai.
"jangan pernah kau bermimpi untuk kembali bersanding dengan cucuku. karena sampai kapanpun juga, kau tidak akan pernah sepadan dengan keluarga kami."setelah mengatakan hal itu, Oma Keisha segera mengajak Tiara untuk pergi dari sana. tak lupa, saat mereka berjalan wanita yang memiliki rambut panjang sampai pinggang itu, menoleh ke arah Naomi dengan tetapan mengejeknya.
"awas aja kau Tiara! aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu!"ucapnya Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya di tengah termenung di sebuah tempat yang begitu indah.
Namun karena guncangan yang begitu hebat, membuat usaha dari laki-laki itu sia-sia.
"Mah tolong jangan seperti ini. Mama bisa sakit jika tidak ada makanan yang masuk dalam tubuh Mama."ucap laki-laki itu penuh dengan kesabaran.
"biarkan Mama sakit. biarkan saja Mama ikut menyusul Yudha. Karena bagaimanapun juga, ini semua terjadi karena kepergian dari Yudha. dan sumber dari masalah ini adalah wanita itu."ucapnya memandang nyalang ke depan.
Yap. mereka adalah orang tua dari Yudha. butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat suasananya kembali seperti semula. dan butuh berbulan-bulan juga, untuk membuat Celine tersadar dari depresi beratnya.
Walaupun mereka dibuat susah oleh kelakuan Yudha, namun mereka tidak memungkiri sangat hancur saat kehilangan laki-laki itu. rasanya, tidak ada yang pernah rela ditinggalkan oleh Putra atau Putri tercintanya apapun alasannya. dan hal itulah yang dirasakan oleh Celine.
"ini semua gara-gara kamu Asmirandah!"teriak Celine dengan sangat lantang.
__ADS_1
Tentunya Hal itu membuat Indra yang melihatnya, merasa begitu panik. laki-laki paruh baya itu dengan cepat meminta para tenaga medis yang memang dipekerjakan khusus untuk merawat istrinya, bergegas untuk menolong.
"tolong mah jangan seperti ini." ucap laki-laki paruh baya itu Seraya menangis pilu.
"dia pembunuh dia jahat dia pembunuh Mama benci dengan dia."gumam wanita paruh baya itu sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
Indra kembali menghela nafas panjang. hidupnya kali ini benar-benar sangat hancur. laki-laki itu seketika merosotkan bobot tubuhnya hingga terduduk lemas di atas lantai.
Matanya menerawang jauh ke depan. Mengingat bagaimana bahagianya mereka saat mengetahui bahwa Yudha menjalin kasih dengan seorang wanita dari keluarga terpandang. dan wanita itu memiliki sifat yang begitu lembut dan juga penyayang.
Namun, semua itu segera hancur berkeping-keping. saat Dengan bodohnya, Yudha menghianati Asmirandah. dan dari situlah awal mula dari penderitaan keluarganya.
Tidak seperti Celine yang terus-menerus menyalahkan Asmirandah atas semua kejadian yang menimpa Yudha, Indra justru menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa mendidik putranya itu dengan baik dan menjadi laki-laki sejati.
"semoga setelah nanti kamu sadar, kamu tidak lagi menyalahkan Asmirandah akan hal ini."ucap laki-laki itu serah yang menggenggam tangan milik sang istri.
Tak lama berselang laki-laki itu pun ikut memejamkan mata. dan ikut tertidur pulas Di samping tubuh istrinya.
***
"bagaimana keadaan dia apakah dia masih menangis?"tanya Ajeng dengan berbagai pertanyaan. saat wanita paruh baya itu, baru saja selesai masuk ke dalam rumah milik Sang putra.
"kami semua tidak tahu nyonya. Tuhan kecil baru saja tertidur pulas. dan kami semua sudah memeriksa seluruh kondisi dari Tuan kecil. dan tidak ada yang aneh. semuanya baik-baik saja." adu salah seorang pengasuh Haidar.
Dengan perlahan tapi pasti, Ajeng mulai menggendong tubuh mungil cucunya itu dengan cukup hati-hati.
"kamu sebenarnya kenapa sayan"tanya wanita paruh baya itu dengan deraian air mata karena tidak tega melihat kondisi dari sang cucu.
"apakah dia mau makan dan juga minum susu?"tanya Ajeng lagi. dan langsung mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala dari semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
yuk mampir ke sini