Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 101


__ADS_3

maira, vita dan alin sama sama terkejut saat melihat bram masuk ke dalam kelas mereka. bram mulai memperkenalkan dirinya sebagai dosen pembimbing mereka, dan seketika semua mahasiswa perempuan berteriak kesenengan karena dosen pembimbing mereka adalah dosen tampan yang menjadi idola kampus.


maira yang melihat situasi seperti itu, merasa tidak senang dan dia hanya memilih diam, dan mengalihkan pandangannya pada jendela yang ada di sebelah kiri dia.


"oke sebelum kelas kita mulai, saya ingin kalian menunjuk salah satu teman untuk menjadi ketua kalian saat nelakukab KKN nanti" ucap bram pada semua nahasiswa


"saya kasih kalian waktu 20 menit untuk berdiskusi dan menunjuk orang yang akan bertanggung jawab atas kalian di sana" ucap bram lagi


semua mahasiswa saling tatap dan tunjuk untuk menjadi ketua saat KKN. akhirnya pilihan mereka semua jatuh pada Reno yang akan mereka jadikan ketua kelompok selama KKN berlangsung, dan reno juga menunjuk maira sebagai wakil, alin sebagai seketaris dan vita sebagai bendahara.


setelah dua puluh menit berlalu, dan hasil pilihan sudah di berikan kepada bram. kini hari pertama kelas pembekalan sudah selesai, dan akan di lanjutkan besok di jam yang sama dan kelas yang sama.


semua mahasiswa memutuskan untuk membuat group chatting agar mereka bisa berkomunikasi dengan lebih mudah, di dalam group tersebut juga ada bram yang akan memantau semua rencana yang akan anak anak itu lakukan.


"maira, alin, vita kalian ikut saya ke ruangan sebentar yah... " ucap bram pada mereka bertiga


"lohh kenapa pak, saya kan ketua mereka, kenapa bapak tidak mengajak saya sekalian, kenapa hanya mereka saja, tidak adil dong ini... lagian saya itu pangerannya maira, jadi dimanapun ada maira di situ pasti ada reno" ucap reno sambil ngerangkul pundak maira dan maira langsung menoleh ke arah reno


"hahhh sejak kapan maira punya satpam yang selalu menjaga dia setiap waktu. yah sudah terserah kamu saja sih Ra, mau di sini sama satpam kesayangan kamu ini, atau ikut saya pergi ke ruangan, karena ada yang ingin kita bicarakan sama kalian bertiga" ucap bram dan dia langsung pergi dari kelas itu


"ehhh pak bran tunggu... ren kamu lebih baik jangan ikutin aku dulu, kamu itu ketua saat kkn tapi sekarang kita belum KKN jadi jangan lebay" ucap maira sanbil berlari nebgehar bram


"ha ha ha ha ha emang enak di tolak sama maira welkkk" ucap alin sambil pergi mebggandeng tangan vita, sedangkan vita hanya bisa tertawa

__ADS_1


"tunggu aja Ra.... kamu akan menjadi milik ku, aku tidak akan nyerah untuk mendapatkan kamu Ra.... dan aku akan terus memperjuangkan kamu" ucap reno sambil teriak ke arah maira pergi


*****


"bang ramma" "sayang" "kak satria" ucap maira vita dan alin secara bersamaan


vita langsung memeluk ramma, alin juga langsung memeluk satria sedangkan maira hanya bisa berdiri sambil menekuk mukanya karena melihat pemandangan yang seperti itu.


"ihhhh ngeselin banget, kalian pada peluk peluk, bang ramma kamu tidak mau memeluk adik mu ini" ucap Maira sambil memadang wajah sedihnya


"kan ada bram Ra... sana minta peluk bram aja. he he he he" jawab ramma


"Hemmmm kenapa tidak minta peluk Reno aja, kan sudah ada reno yang siap sedia untuk kamu" ucap bram sambil senyum jahat


"ihhh apaan sih kak bram, kamu cemburu yahh, kalau aku ada yang ndeketin, seharusnya kamu seneng dong kalaubada laki laki lain yang bisa memperjuangkan aku dan bisa mencintai aku" jawab maira sambil memasang wajah marah ke bram


"iya... adik, selalu adik... aku bukan adik kamu kak, kakak aku itu cuma bang ramma" ucap maira sambil nangis dan berlari keluar dari ruangan bram


"maira.... mau kemana dek, " ucap ramma


"bram ini ada apa sih, kenapa kamu malah berantem sama maira" ucap satria


"gue juga tidak tau, gue tidak bermaksud ngebuat maira marah dan nangis kaya gitu, yah sudah gue kejar dia aja dulu" jawab bram

__ADS_1


"tunggu, biar gue aja yang kejar dia, maira masih marah sama elo jadi nanti dia tambah marah bisa berabe. sayang kamu tunggu di sini aja dulu yah, aku mau cari si maira dulu" ucap ramma sambil langsung berlari mencari maira


******


"kamu kenapa sih kak, kamu tidak mencintai aku, tapi kenapa saat aku deket sama laki laki lain kamu menunjukan tanda tidak suka, trus mau kamu apa kak, apa kamu mau aku terus terpuruk dalam cinta bertepuk sebelah tanganini, aku mulai lelah kak, aku capek" ucap maira lirih dan terus mengusap air matanya


"aku akan mendukung kamu dengan perempuan lain yang kamu cintai, tapi kenapa kamu tidak bisa mendukung ku juga. kamu egois kak, kamu tidak mencintai ku, tapi kamu melarang aku untuk cinta orang lain"


maira langsung duduk di dalam kelas yang kosong, dia ingin menangis tanpa gangguan dari orang lain. bahkan maira juga mengunci ruangan itu agar tidak ada yang masuk ke dalam ruangan.


ramma terus berkeliling mencari keberadaan maira di mana, dan akhirnya dia melihat maira duduk sambil menutup wajahnya di sebuah ruangan yang tertutup. ramma berusaha membuka ruangan tersebut tapi tidak bisa, karena sudah di kunci dari dalam.


ramma berusaha mengetuk pintu tersebut tapi maira tidak mengindahkan ucapan ramma itu, akhirnya ramma pergi ke ruangan akademik untuk mengambil kunci serba guna milik dia yang berbentuk kartu, dengan kartu kunci itu ramma bisa dengan bebas membuka semua pintu yang ada di kampus tersebut.


setelah mengambil kunci tersebut, ramma langsung membuka pintu ruangan tersebut, dan kembali menguncinya dari dalam agar tidak ada yang masuk dan menganggu mereka.


"abang.... kenapa kamu bisa masuk" ucap maira dengan mata sembab


"kamu lupa kalau abang kamu ini yang punya kampus, abang punya semua kunci untuk membuka semua ruangan yang ada di kampus ini, jadi bisa dengan mudah abang masuk ke sini" jawab ramma sambil mendekat ke arah maira


"ABANGGG..... "ucap maira sambil memeluk ramma debgan erat, dan tangis maira pecah


"kamu kenapa dek... tidak biasanya kamu seperti ini, kamu kenapa, apa yang abang tidak tau, apa yang kamu sembunyikan dari abang." ucap ramma sambil ngrlus punggung dan rambut maira

__ADS_1


"maira sedih bang, maira sakit bang... maira ingin sekali membohongi diri maira sendiri tapi sayangnya itu tidak bisa" jawab maira sambil terus terisak


ramma berusaha menenangkan maira dulu, ramma membiarkan adiknya itu nangis dengan puas, agar maira bisa lebih tenang.


__ADS_2