
"kamu ngapain ajak aku ke sini din? " tanya reno yang bingung
"katanya anda ingin tahu semuanya, saya masih punya hati yah dok, saya tidak mau membuat dokter reno yang terhormat menjadi malu karena berantem sama mahasiswi" jawab adinda
"emang apa salah saya, sampai kamu mau berantem dengan saya, saya hanya bertanya baik baik sama kamu tapi kenapa kamu tidak bisa jujur dengan saya sih din" ucal reno
air mata adinda tiba tiba keluar tanpa permisi.
"kakak bilang saya tidak bisa jujur, lalu bagaimana dengan kakak, emang kakak pernah jujur sama saya tentang perasaan kakak, kakak gantungin aku, kakak tau tidak di gantung itu sakit.... dan kalau kelamaan di gantung itu orang bisa mati kak, itu sama seperti perasaan aku kak, karena aku juga bisa merasa capek kalau di gantung terus" ucap adinda dengan air mata yang mengalir terus
"lagian... kakak fikir kakak itu siapa, kakak bisa seenaknya saja paksa aku buat jujur mengenai masalah pribadi ku, kakak itu hanya dosen di sini, dan bukan rana kakak ikut campur dalam urusan pribadi mahasiswa nya,"
"kakak harus tahu posisi kakak itu dimana, karena selama ini aku juga sudah berada di tempat ku yang seharusnya, jangan suka ikut campur, karena kakak bukan siapa siapa, ingat itu baik baik" ucap adinda dengan teruas menghapus air matanya
setelah bilang semuanya, adinda langsung ingin pergi meninggalkan reno yang sudah tidak bisa bicara apa apa lagi.
"kalau aku bilang aku cinta sama kamu bagaimana din, apa kamu akan tetap bersikap seperti ini" tanya reno yang membuat adinda menghentikan langkahnya
"kenapa kamu ngomong sekarang, apa kamu lebih penasaran sama aku, atau kamu kasian melihat aku" ucap adinda dan berbalik menghadap reno
"he he he he aku tidak perlu di kasianni, aku sangat bahagia dengan hidup ku yang seperti ini. lagian aku tidak berharap lagi sama kamu kak, karena kamu sudah jauh di atas awan, aku tidak sanggup untuk menggapai kamu kak... "
"aku tidak bisa terbang kak.... karena kamu sudah berhasil mematahkan sayap harapan untuk bisa mendekati kamu, aku sudah tidak bisa lagi. " ucap adinda
__ADS_1
"aku benar benar suka sama kamu din, aku cinta sama kamu din... sunggu perasaan aku ke kamu itu tulus, maaf aku baru mengatakan ini sama kamu din... maaf... " ucap reno
"aku tidak mau di kasih harapan palsu sama kamu kak... sudah cukup, terima kasih karena kamu sudah ngasih kata kata manis buat aku, tapi kini benar benar sayap ku sudah patah, terima kasih untuk semuanya " jawab adinda dan dia langsung pergi meninggalkan reno sendiri
"dinda....!!! " teriak reno memanggil adinda
"din... kalau kamu menganggap aku berada jauh di atas awan, dan kamu sudah tidak bisa menggapai aku karena sayap kamu patah, maka aku yang akan turun untuk mengejar dan mendapatkan kamu, aku juga yang akan berusaha merebut hati kamu kembali" ucap reno sambil melihat punggung adinda yang semakin menjauh pergi dari hadapan dia.
adinda menangis sendiri di bawah anak tangga fakultas dia, adinda tidak berani kembali ke asrama karena dia tidak ingin menimbulkan banyak kecurigaan di benak teman temannya.
"apa kamu yang sedang menangis? " ucap seseorang yang melihat adinda sedang meringkuk dan memeluk lututnya sendiri
adinda yang mendengar itu, dia langsung berusaha untuk kembali normal lagi, dan dia langsung menghapus air mata yang menetes di pipinya.
"kalau tidak salah, kamu mahasiswa baru kan? dan kenapa kamu menangis sendiri di bawah tangga seperti ini" tanya dokter pras
"iya dok... saya mahasiswa baru di sini, saya lagi ada sedikit masalah, mangkanya saya ingin menangis. tapi saya malu kalau di lihatin banyak orang, mangkanya saya sembunyi di sini" jawab adinda
"kamu mau tahu.... tempat aman buat menangis di mana" ucap dokter pras
"dimana dok? " tanya adinda
"ayo ikut saya" jawab dokter pras, sambil menarik tangan adinda, dan adinda hanya menuruti saja
__ADS_1
adinda dan dokter pras masuk ke dalam lift sambil bergandengan tangan, adinda hanya membulatkan matanya sambil melihat tangan dokter pras menggenggam tangan dia.
lift pun berhenti, kini mereka meneruskan untuk pergi ke tangga yang menuju loteng fakultas, di sana tempatnya sangat sepi dan angin berhembus kencang, adinda sangat menikmati tempat itu.
"disini, kamu bebas mau ngapain aja, termasuk lompat ke bawah buat bunuh diri juga boleh, siapa tahu kamu lagi putus cinta dan ingin mengakhiri hidup juga boleh di tempat ini he he he he , tapi sayratnya kamu harus minta ijin sama saya dulu, kalau mau ngapa ngapain di sini, termasuk bun*uh diri he he he" ucao dokter pras pada adinda
"siapa juga yang mau bunuh diri, hanya orang bod*h yang mau bunuh diri karena putus cinta, lagian laki laki di bumi ini juga bukan dia saja, masaih banyak yang lain yang bisa mencintai saya dan mau menerima saya apa adanya" jawab adinda
"kamu sudah tidak sedih lagi kan? " tanya dokter pras
"tidak dok.... terima kasih yahh sudah mau mengajak saya ke sini" jawab adinda
"nama kamu siapa? maaf karena terlalu banyak mahasiswa yang saya ajar, jadi saya tidak bisa mengingat nama mereka satu persatu " ucap dokter pras
"nama saya adinda dok, saya mahasiswa dokter kok, dokter mengajar kelas saya di hari senin" jawab adinda
"kamu kalau mau nangis atau sedang suntuk, kamu boleh datang ke sini, karena memang di sini tempat nya nyaman sekali. yah walaupun kalau siang panas, tapi kalau pagi dan sore udara nya sejuk, apa lagi malam kalau di sini bisa bisa masuk angin kamu he he he" ucap dokter pras
"iya dok... terima kasih yahh, dokter ternyata asik juga yah orangnya, tidak kaku, dan bisa buat orang tersenyum. saya kira dokter yang mengajar di kampusa ini semuanya kaku dan dingin " ucap adinda
"hidup itu hanya sekali, buat happy aja, jangan di bikin ribet. dan kamu jangan suka menangis, karena jujur kamu jauh lebih cantik kalau lagi tersenyum seperti ini, jadi sangat mubazir kalau wajah cantik kamu ini tertutup dengan wajah murung kamu" jawab dokter pras.
"iya dok... terima kasih, saya akan ingat semua pesan dokter. HAHHHHHHHH ha ha ha ha ha" ucap adinda dan dia langsung teriak untuk melepaskan beban yabg ada di hati dia
__ADS_1
mereka berdua tertawa bersama, dan mereka juga terlihat sangat bahagia.