
“Nenek” teriak rendy yang baru saja keluar dari kelasnya dan langsung memeluk ratih
“cucu nenek.... bagaimana sekolahnya, rendy nakal tidak” tanya ratih pada rendy
“tidak nenek, lendy kan mau jadi kakak, jadi lendy halus jadi anak yang baik. Tadi lendy belain cindy loh nek, tlus tadi lendy peluk cindy saat cindy menangis gala-gala tasnya di lempal Alex” cerita rendy
“wahh cucu nenek pinter, hebat... rendy jangan takut yah kalau rendy tidak salah, trus rendy juga harus belain orang yang lemah. Kalaupun nanti rendy di marahin ibu guru gara-gara rendy berantem sama anak yang nakal, nenek akan selalu belain rendy, karena nenek percaya sama cucu nenek yang baik ini” ucap ratih sambil memegang tangan rendy
“rendy... makasih yah sudah belain cindy tadi,” ucap cindy sambil mengulurkan tangannya ke rendy
“iya cindy sama-sama, lendy juga minta maaf yah sama cindy kalena dulu lendy suka jail sama cindy” jawab rendy sambil menjabat tangan cindy
“iya lendy, cindy tau kok kalau lendy sebenalnya tidak nakal, yah Cuma suka sedikit jail saja, cindy tidak malah kok sama lendy” jawab cindy yang langsung memeluk rendy
“telimakasih cindy, lendy sayang cindy” jawab rendy sambil membalas pelukan cindy
“cindy juga sayang sama lendy, yahh sudah cindy pulang dulu yah... itu ibu cindy sudah menunggu, kasin kalau lama” ucap cindy sambil menunjuk ibu-ibu yang duduk di kursi roda
“da dah.. cindy”
“da dah lendy”
“yah sudah, ayo kita pulang sayang, biar nanti rendy bisa langsung bobok siang” ucap ratih sambil menggandeng tangan rendy.
Rendy dan ratih di dalam mobil banyak cerita mengenai cindy. Karena memang ratih sangat penasaran dengan gadis kecil bernama cindy tersebut, karena memang itu pertama kalinya rendy mau memeluk perempuan lain selain mami, nenek dan tantenya dulu, selain itu rendy tidak pernah mau memeluk walaupun itu teman di sekolahnya.
**********
__ADS_1
Maira baru selesia dari kamar mandi, dia mau kembali ke mejanya tadi, tapi dia masih takut kalau ramma, satria dan bram melihat dia ada di indonesia. Jadi maira masih berdiri di depan pintu keluar toilet sambil mengintip ke luar untuk memastikan mereka masih ada di sana atau tidak.
“semoga mereka sudah pulang,karena kalau aku tidak cepat keluar pasti vita dan alin akan curiga” ucap maira pada dirinya sendiri
“Yah sudah deh tidak apa-apa, kalau ketahuan juga mungkin tuhan tidak ngasih ijin aku lama-lama untuk bersembunyi dari bang ramma. Yah sudah deh paling aku akan di sidang sama mereka dan di tanyain macem-macem” ucap maira lagi
(haduh, mereka duduk di meja itu lagi, bagaimana kalau mereka melihat aku lewat yah... semoga mereka masih anteng makannya jadi mereka tidak ngeh kalau aku lewat.. itu sih alin kenapa berdiri coba... haduh jangan-jangan dia mau memanggil aku ini, plis jangan teriak lin, jangan teriak) suara hati maira dan jantungnya kini sudah berdegup kencang
“Kak Miara...” teriak alin pada maira
(m*mpus, Alinnn.... oke maira tenang dan terus berjalan) suara hati maira, dan maira berusaha menutupi tubuh alin dengan tubuh dia, agar tidak terlihat oleh para laki-laki itu.
******
“kok gue denger suara alin yah tadi” ucap satria sambil menoleh ke kanan dan kekiri
“hahhh emang alin ada di sini” tanya ramma
“yahh itu hanya perasaan loe aja mendengar alin teriak nama loe. Alin sekarang pasti masih ada di kampus, kalau tidak salah jam mereka sampai sore. Jadi tidak mungkin alin jalan-jalan di mall dan bolos kuliah” ucap bram sambil
memastikan kalau memang tidak ada alin di resto tersebut
“iya lagian kalau ada alin di sini pasti vita juga ikut ke sini. Vita sih tadi ijin gue untuk beli buku sama alin saat pulang kuliah mangkanya dia tidak mau gue jemput tadi” jawab ramma
“tapi gue yakin banget itu tadi alin lagi teriak manggil nama Maira” ucap satria
“hahhh Maira” ucap ramma dan bram secara bersamaan dan satria hanyan mengangguk
__ADS_1
“mungkin hanya mirip saja sat, lagian maira tidak ada di indonesia, dan alin juga pasti tidak kenal dengan maira jadi bagaimana dia bisa memanggil maira. Mungkin orang lain yang suaranya mirip sama alin dan lagi memanggil temannya yang namanya maira” jawab ramma
*********
“kak maira dari mana saja kok lama banget sih dari kamar mandi” tanya alin ke maira
“iya tadi ngantri banget di kamar mandi lin, aku sendiri saja merasa bosan menunggu orang itu keluar, tapi sayangnya dia tidak juga keluar. Ingin rasanya aku usir dia dari sini tapi malu sama yang lain.” Jawab maira
“he he he he he orang mah biasanya kayak gitu Ra, kalau di kamar mandi berasa kamar sendiri. Bahkan mereka seperti tidak peduli dengan orang yang mengantri di luar” saut vita
“yah sudah ayo kita makan, keburu dingin ini nanti” ucap maira
Mereka ber tiga makan dengan sangat lahap, bahkan vita sempat nambah 2 piring lagi. Alin dan maira hanya bisa tertawa sambil geleng-geleng melihat porsi makan vita, tapi mereka memahami kalau vita makan untuk dia dan juga bayi yang dia kandung.
Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk langsung pulang, karena ini sudah mau sore. Maira pamit duluan karena dia tidak mau kalau sampai bertemu dengan kakak tercinta dia ramma, karena memang dia masih ingin ngasih kejutan yang tidak akan terlupakan sama kakaknya itu.
Vita dan alin langsung berdiri dari tempat duduk dia, saat berjalan ke arah pintu keluar. Mata mereka langsung menangkap keberadaa ramma satria dan juga bram yang ada di meje depan mereka.
“vit itu kak satria, kak bram, dan kak ramma kan.” Ucap alin sambil menunjuk meja depan dia
“iya lin, itu mereka. Aduh kalau mereka tau kita di sini, pasti bakalan di tanya-tanya ini. Bagaimana kalau kita kabur saja, jangan gangguin mereka, kita pulang lewat sebelah meja sana aja yah” saran vita
“oke. Kita jalan pelang-pelan aja, jangan sampai membuat mereka curiga dengan kita” ucap alin
Vita dan alin pelan-pelan jalan untuk keluar lestoran, dengan berbarengan sama para pengunjung yang sedang keluar juga dari lestoran tersebut. Setelah main petak umpet di dalam lestoran mereka langsung pulang ke rumah.
*******
__ADS_1
“kayaknya besok aku akan ke kampus deh, aku ingin ketemu sama kak bram duluan deh. Kak bram siap-siap yah ketemu aku yah besok” ucap maira pada dirinya sendiri
“tapiii apa kak bram masih ingat dengan aku yah, atau malah dia sudah lupa dengan yang namanya maira. Hemmm apapun hasinya besok aku akan mencobanya” ucap maira sambil senyum di bibirnya tapi tidak di hatinya