
setelah kurang lebih satu jam mobil satria sudah memasuki pekarangan rumah alin, ratih dan willy turun dan berjalan untuk mengetuk pintu rumah alin, sementara satria hanya mengikuti ratih dari belakang.
tokkk... tokk.. tok.. (pintu rumah alin di ketuk)
alin langsung membukakan pintunya, dan langsung mencium punggung tangan ratih dan willy, setelah itu alin mempersilakan semuanya untuk masuk.
"lin mama kamu ada? " tanya ratih pada alin
"ada kok mam, alin panggilin mama alin yah" jawab alin dan langsung masuk ke dalam kamar mama nya untuk membantu mendorong kursi roda mama nya.
alin juga menyuruh pembantu nya untuk menyiapkan semua makanan di atas mejah makan, dab alin juga menyuruh untuk membuatkan 4 gelas minuman untuk di taruh di ruang depan.
alin yang mendorong kursi roda mama nya langsung menuju ruang depan untuk menemui satria, ratih dan willy.
"assalamualaikum " ucap mama alin
"waalaikun salam " jawab semua orang
"maaf yah bu, pak jadi menunggu lama yahh karena saya" ucap mama alin
"ahhh tidak bu, kami juga baru saja datang kok" jawab mama ratih sambil verdiri dan mencium pipi kanan dan kiri mama alin
tak lama pembantu datang dengan membawa 4 gelas minuman dan alin langsung membantu untuk menaruh di meja.
"silahkan mama ratih, papa willy dan kak satria di minum dulu " ucap alin sambil mempersilakan semuanya untuk minum
__ADS_1
"iya terima kasih lin" jawab satria
"alin sini nak duduk" ucap mama ratih dan alin langsung duduk di samping kursi roda mamanya
"hemmm maaf mengganggu waktu ibu, karena kedatangan kami. di sini saya sebagai papa nya satria ingin menyampaikan keinginan terbesar putra saya yaitu memiliki ikatan yang lebih serius dengan putri ibu yang sangat cantik ini. saya tahu, alin masih kuliah tapi saya mohon ibu bisa memberikan restu untuk mereka bertunangan terlebih dahulu" ucap papa willy yang bertanya sama mama alin
"iya pak, kemarin juga alin sudah cerita tentang iti. dan saya sangat senang jika nanti yang akan menjaga putri saya adalah nak satria, tapi saya serahkan semua kepada anak saya, saya sebagai mamanya hanya bisa mendukung semua keinginan anak saya. bagaiman lin, kamu mau menerima tidak kalau nak satria yang akan menjadi suami kamu kelak" jaeab mama alin dan sekalian beliu bertanya langsung ke alin nya
"iya mam, bismillahirohmanirrohim alin mau mam. insya Allah kak satria adalah orang yang tepat untuk menjadi pebdamping alin mam" jawab alin sambil matanya berkaca kaca
satria sendiri mendengar itu semua juga tidak bisa lagi membendung air mata nya sendiri. jadi tanpa di sadari satria juga ikut larut dalam situasi tersebut.
mendengarjawaban dari alin dan mama nya itu, willy dan ratih langsung mengucap syukur, dan langsung menentukan tanggal yang tepat untuk mereka bertunangan sebelum kkn di laksanakan.
setelah menentukan tanggal, mereka langsung makan siang bersama di rumah alin. suasana haru kini berubah menjadi suasana ceria karena sudah tidak ada sungkan lagi di antara mereka, satria sudah di anggap anak sama mama alin, sedangkan alin juga sudah di angkat anak sama mama ratih dan papa willy.
*******
setelah maira berganti baju, dia langsung turun untuk menemui semua keluarganya yang ada di lantai bawah. maira juga sudah menyiapkan jawaban saat di tanya tentang hubungannya dengan bram.
"maira kamu duduk di aitu, di samping bram. abang mau tanya sama kalian berdua" ucap ramma
"rendy, kamu pergi nonton TV dulu yah di sana, papi dan mami mau ngomong sebentar sama tante maira dan om bram"
"ihhh papi, kenapa lendy tidak boleh tau sih, lendy kan sudah besal kalena sebental lagi mau punya adik" ucap rendy
__ADS_1
"iya rendy sudah besar, tapi ini masalahnya harus di bahas sama orang yang lebih besar, atau orang tua seperti papi, om blam dan tante maira. sekarang rendy dan mami kan masih mudah, ayo sekarang kita nonton TV aja dulu yah" ucap vita sambil menuntun tangan rendy menuju ruang TV
"ihhh apaan, maira juga masih muda, jadi maira nau nonton TV saja sama rendy dan mbak vita" ucap maira sambil ikut berdiri
"maira duduk, jangan banyak alasan. sayang kamu beneran tidak mau ikut sidang mereka " ucap ramma
"tidak sayang, aku mau nemenin rendy aja, tapi nanti kamu harus bagi informasi nya yahh" jawab vita sambil pergi ke ruang TV
*******
"oke kalian jelaskan sekarang kapan kalian jadian, sejak kapan loe bisa cinta sama maira, kok bisa hal itu terjadi dan..... " pertanyaan ramma yang belum selesai tapi sudah di potong maira
"ihhh abang, kalau tanya itu satu satu dong..... itu bukan lagi tanya tapi lagi menyudutkan" jawab maira
"tau tuh ramma, yah sudah gue bakalan cerita sama loe semuanya sekarang. kita jadian itu kemarin waktu maira ngerawat gue sakit, untuk sejak kapan perasaan ini ada gue juga tidak tahu, yang gue tau waktu ngelihat maira jalan jalan berdua dengan reno itu membuat gue sakit hati banget dan gue tidak rela kalau maira sampai jatuh ke pelukan laki laki lain. dan lebih parahnya gue sakit karena hal itu. " jawab bram
"kalau loe emang benar benar bisa mencintai adek gue dengan tulus, gue hanya bisa bilang, jagain maira jangan buat air matanya jatuh lagi, sudah terlalu banyak air matanya jatuh karena loe yang tidak peka sama sekali" ucap ramma
"hahhh maksudnya apa, emang kapan gue pernah buat dia nangis, setahu gue itu cuma sekali saja kan. kenapa loe bilang sering dan kapan gue tidak peka" jawab bram sambil menyimpan tanda tanya besar di kepalanya
"loe belum tanya ke maira sejak kapan dia menyimpan perasaan buat loe, dan apa loe tidak pernah tanya alasan dia kenapa minta pergi ke luar negeri dengan waktu yang sangat lama" ucap ramma sambil melirik maira
(haduh... apa aku harus cerita semuanya yah sama kak bram sekarang, haduhhh malu banget kalau sampai tahu aku menyimpan perasaan ini sejak aku SMA. di saat kak bram hanya menganggap aku adik nya saja, haduhh kenapa bang ramma pakai mancing mancing itu sih) suara hati maira
"ra.... emang benar kalau kakak sering buat kamu nangis, kapan ra.... kenapa kamu hanya diam sihh" ucao bram sambil memegang dan menghadap maira namun maira masih hanya diam karena dia bingung mau mulai dari mana untuk cerita.
__ADS_1