
Drettt.... drett... dret... ponsel adinda bergetar
"din... ponsel kamu bunyi.... buruan angkat" teriak kiki karena adinda masih berada di kamar mandi
"iya bentar.... " ucap adinda
beberapa menit kemudian adinda baru keluar dari dalam kamar mandinya, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. dan dia langsung mengambil ponselnya untuk ngecek siapa yang telpon
" kamu mandi lama banget sih... ponsel kamu bunyi sudah ratusan kali tahu tidak, buruan telpon balik siapa tahu penting" ucap kiki pada adinda
"he he he he tidak perlu.... nanti juga dia telpon lagi," jawab adinda dengan santai
dan benar saja, tak selang beberapa menit akhirnya ponsel adinda berbunyi lagi, dan dia melihat ternyata benar, orang itu menghubungi dia lagi.
adinda : iya hallo kenapa
rendy : kenapa kenapa... kepala kamu kenapa, kakak sudah berkali kali menghubungi kamu, tapi kenapa tidak di angkat
adinda : iya iya kak maaf.... gitu aja marah.... maafkan adikmu ini kakak ku sayang
rendy : yah... jangan di ulang lagi.... kamu ada di mana sekarang dek?
adinda : yah di asrama kak... hari ini adinda tidak ada mata kuliah dan tidak ada pertemuan apa apa, jadi adinda mungkin akan menghabiskan waktu untuk tidur aja hari ini
rendy : jangan tidur, kamu siap siap sekarang, 30 menit lagi kakak akan sampai di kampus kamu, dan setelah itu kamu ikut kakak, ingat kakak tidak mau menunggu
adinda : tapi kita mau kemana kak? kenapa mendadak sekali, bukannya kakak hari ini ada kerjaan yah, kenapa bisa ke kampus adinda
rendy : jangan banyak bicara, buruan siap siap sekarang, tidak ada penolakan
adinda : tap....
panggilan telpon di putus rendy
"kebiasaan banget, orang aku belum selesai ngomong main tutup tutup aja" guman adinda
__ADS_1
"ada apa din? " tanya kiki pada dinda
"tidak kakak ku mau ngajak aku keluar hari ini, jadi sepertinya aku tidak bisa menemani kamu di kamar hari ini" ucap adinda dengan sangat menyesal, dan juga memeluk kiki
"iya tidak apa apa, pokoknya kamu jangan lupa beli oleh oleh buat aku, minimal cemilan yang enak enak" jawab kiki sambil menepuk nepuk tangan adinda
"oke siap.... nanti aku bawakan makanan yang banyak untuk kita makan, dan kita akan pamer ke jihan dan icha nanti" ucap adinda
"beres.... yah sudah sana siap siap, jangan buat kakak mu menunggu lama" jawab kiki
adinda langsung mengganti pakeannya dan dia langsung menunggu rendy datang di depan asrama dia.
"kebiasaan banget sih... bilangnya 30 menit sampai... ini sudah mau satu jam tapi belum juga kelihatan batang hidung nya" ucap adinda yang sudah mulai bosan menunggu rendy
"10 menit lagi kalau belum sampai juga, aku tinggal masuk ke asrama lagi, dan aku tidak akan mau keluar bareng dia lagi" ucap adinda
*beberapa menit kemudian*
"adinda.... dek" panggil rendy yang berlari menuju tempat adinda berdiri
adinda langsung menoleh ke arah suara rendy yang memanggilnya
"iya iya maaf, di jalan macet dan itu bukan kehendak kakak dong... yah sudah ayo berangkat" jawab rendy
"huffftt.... untuk kakak ku, kalau bukan sudah aku caci maki habis habisan kamu" ucap adinda yang berjalan di belakang rendy sambil ngepalin tangan dan belaga ingin menonjok rendy
"ehhhh ngomong apa kamu tadi.... berani ngomong begitu sama kakak, trus mau menonjok kakak juga" ucap rendy yang tiba tiba berbalik ke arah adinda
"he he he he tidak kak.... tidak... mana berani sih adinda seperti itu sama kakak, adinda kan sayang kakak.... he he he he" ucap adinda sambil memeluk rendy
"hemmm kamu sayang kakak atau sayang uang kakak hahhh jujur kamu" jawab rendy
__ADS_1
"yahh sayng uang kakak lah... " jawab adinda dengan tegas dan juga menepuk pundak rendy, dan setelah itu dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya
"apa kamu bilang.... ulangi sekali lagi" ucap rendy sambil mencubit kedua pipi adinda
"ahhhh ahhhh ihhh iya maaf maaf.... bercanda.... ihhh kakak sakit.... lepasih, bercanda" ucap adinda sambil meminta ampun ke rendy
"oke jangan di ulangi lagi.... setidaknya kamu jangan terlalu jujur seperti tadi faham" jawab rendy
"he he he he... aku sayang sama kakak, hanya kakak yang mampu membuat aku merasa nyaman seperti ini, dan hanya kakak yang paling bisa mengerti aku" ucap adinda
"kakak yakin... pasti setelah ini kamu akan minta yang enggak enggak ke kakak, kamu mau minta apa? " jawab rendy
"he he he he emang hanya kakak yang bisa mengerti aku" jawab adinda
"sudah sudah... kita kapan berangkat kalau kamu ngomong terus seperti ini" ucap rendy dan dia langsung menggandeng tangan adinda
mereka masuk ke dalam mobil dan berangkat ke mall untuk jalan jalan, dan sekalian rendy ingin banyak mendengar cerita dari adiknya secara langsung.
beberapa menit kemudian mobil rendy sudah masuk ke parkiran mall milik keluarga nya, dan mereka memilih untuk singgah di ruang VIP di salah satu lestoran yang ada di mall tersebut.
"kenapa kakak pilih ruangan ini, bukannya di depan jauh lebih enak karena banyak orang" tanya adinda
"kakak ingin memiliki waktu berdua sama kamu, karena kakak sudah rindu dengan adik kakak yang cantik dan cerewet ini, kakak ingin mendengar beberapa cerita dari kamu, dan kakak juga akan ceritakan apa aja yang terjadi di hidup kakak saat kamu tinggal di asrama " jawab rendy
"aku juga rindu sama kakak, rindu buat ngerjain kakak he he he he" jawab adinda
"kamu kenapa makin kurus dek, dan wajah kamu seperti orang sakit, kamu kenapa?" tanya rendy
"aku tidak apa apa kok kak.... aku juga tidak tahu kenapa aku makin kurus, aku juga sering merasah cepat capek. apa ini karena banyaknya tugas dari kampus yah kak... atau.... sakit ku dulu mulai kambuh lagi " ucap adinda sambil menunduk dan kini air mata dia mulai menetes
"dinda... dinda... kamu sudah cukup besar, kenapa makan selalu belepotan seperti ini, sini kakak bersihkan" ucap rendy sambil jongkok di depan dinda dan sebenarnya ia ingin menghapus air mata adinda
"dinda takut kak.... " ucap adinda dengan suara pelan
rendy langsung memeluk adinda dengan sangat erat, dan dia membiarkan adinda menangis di pelukan dia.
__ADS_1
"kamu cerita semua sama kakak.... kita cari jalan keluar ini bersama sama, kamu jangan takut... kakak akan selalu ada di samping kamu. jangan pernah merasa sendirian, kamu masih memiliki kakak yang siap berkorban buat kamu" jawab rendy
adinda masih enggan melepaskan pelukan dia ke rendy, karena hanya sama rendy saja adinda bisa bercerita terus terang tanpa ada kebohongan yang dia sembunyi kan.