Ibu Untuk Putraku

Ibu Untuk Putraku
BAB 55


__ADS_3

Mereka ber 6 sudah menaiki pesawat dan sudah duduk di kursi mereka masing-masing, memang ramma sengaja mengatur tempat duduknya berpasang-pasangan, biar teman-temannya itu tidak terlihat jomblo akut.


“pak, bapak tidur saja, saya tahu tadi malam bapak tidurnya ngak nyenyak kan karena tidur di soffa” ucap alin ke satria


“iya, pak bram juga tidur saja, saya tidak mau kalau bapak sakit gara-gara kurang tidur” ucap ayu ke bram


Bram dan satria akhirnya memilih untuk tidur, karena perjalanan mereka kali ini bisa di bilang cukup untuk di buat tidur sebelum sampai tujuan. Tujuan mereka kini adalah negara jepang, mereka ingin mengunjungi salah satu anak perusahaan ramma yang ada di sana dan berencana ingin memperluas perusahaan agar bisa menambah lapangan pekerjaan di sana, dan juga menjalin kerja sama dengan perusahaan besar yang ada di sana.


Sementara para laki-laki tidur, alin ayu dan vita mulai bosan karena tidak ngapa-ngapain di dalam pesawat, bahkan mereka sudah sangat kenyang jadi tidak ada nafsu untuk nyemil di dalam pesawat, mereka ingin sekali curhat tapi mereka takut kalau ada yang mendengar curhatan mereka.


“lin kita ngapain kek, bosen niee, tidak ngapa-ngapain” ucap ayu dengan mulut manyunnya


“iya vit, kasih ide dong ngapain kita biar tidak bosen” ucap alin ke vita


“gw juga tidak tahu lin, yu, gw sendiri juga sudah bosen. Bagaimana kalau kita tidur saja, perjalanan kita masih lama loh ini” ucap vita yang mencoba ngasih saran


“ahhh elo vit, itu bukan saran tapi itu jalan akhir kita” ucap ayu


“kamu ngapin sih sayang, berisik banget. Sudah ayo tidur sekarang” ucap ramma sambil menggenggam tangan vita dan mencium sekilas kening vita


“yahhh nasip kita jelek banget lin, sih vita enak punya laki lahh kita” ucap ayu yang mencoba meratapi nasipnya karena harus melihat keuwuwan pasutri di sampingnya


“iya yu, kapan yah kita bisa menemukan pangeran seperti tuan ramma yang bisa mencintai kita dengan setulus hati, tanpa memandang siapa kita dan bagaimana keluarga kita” ucap alin


“lin, lebih baik kamu tidur sekarang, jangan ngomong lagi. Cepat tidur sekarang, kalau nolak aku cium kamu sekarang” ucap satria sambil mencoba merebahkan kepala alin di lengannya dan satria juga terus menggandeng tangan alin.

__ADS_1


Alin yang mendapat perlakuan yang spesial dari satria membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa menurut dengan semua omongan satria.


“Yu kamu juga tidur, tidak capek apa dari tadi ngomong terus, ayo cepat tidur sekarang” ucap bram sambil sedikit membelai kepala ayu dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik ayu, bram juga langsung mengenggam dan mendekap tangan ayu.


Ayu sendiri tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut dengan semua perlakuan bram padanya, jujur hati ayu dan alin kini sedang bertanya-tanya maksud dari perlakuan manis bram dan satria ini apa. Mereka juga tidak mau berfikiran terlalu jauh mengenai perasaan masing-masing karena takut jika perasaan itu hanyalah perasaan sepihak.


Setelah beberapa jam berlalu akhirnya pesawat mereka mendarat di Bandara Udara Internasional Tokyo, mereka kini sedang menunggu instruktur dari awak kabin untuk membuka sabuk pengaman,


setelah instruktur dari awak kabin di sampaikan mereka langsung bergegas mengambil barang mereka dari bagasi atas, dan setelah itu mereka turun dengan bergantian dari pesawat.


“yeyy tokyo jepang” teriak vita, alin, dan ayu karena memang ini pertama kalinya mereka menginjakan kaki di negara jepang


“sudah-sudah kalian jangan norak, kalau di dengar orang bisa malu kita” ucap ramma sambil menarik tangan vita


“yeyy emang mereka tahu sama bahasa kita? Baru kalau kita teriak-teriak pakai bahasa jepang kalian malu gak papa” ucap vita dengan nada sewotnya


“pak.. alin minta tolong yah koper alin ambilkan” ucap alin ke satria


“pak bram jangan lupa koper ayu juga yah pak” ucap ayu ke bram


“sebenarnya yang asisten itu mereka atau kita sih” ucap satria sambil melirik ke arah ramma dan bram


“tauu... seharusnya kan mereka yang mengambilkan barang-barang kita, ini malah kita sebaliknya” jawab bram dengan tangan di pinggang


“sudah, lebih baik kita ambil sekarang. Gw sudah capek banget, pingin langsung ke rumah” ucap ramma sambil berlalu ke tempat penitipan koper

__ADS_1


******


“yu, lin bagaimana kita ngomongnya yah di sini. Gw tidak bisa sama sekali bahasa jepang” ucap vita ke ayu dan alin


“sama vit, gw juga tidak bisa bahasa jepang, elo aja yang pinternya di atas gw kagak bisa apa lagi gw” ucap ayu sambil nyengir kebingungan


“gw juga gak bisa, mungkin kalau bahasa inggris gw masih bisa, tapi kalau jepang gw angkat tangan” jawab alin


“yahh kalau bahasa inggris kita juga bisa lin, Cuma masalahnya mereka yang di sini itu bisa atau tidak bahasa inggris” ucap ayu sambil melirik ke ayu dan vita


“truss kalau kita mau jajan bagaimana dong, hahhhh kalau begini ceritanya kita akan sangat membutuhkan laki-laki itu, kita tidak bisa jalan-jalan sendiri dong” ucap vita sambil meratapi nasipnya


“iya!! Mangkanya kalian jangan jauh-jauh dari kita, kalau kalian masih mau pulang ke indonesia” ucap ramma sambil mendorong trolly yang berisi koper


“kalian harus ikutin kita kemana pun itu, dan jangan pernah berfikiran untuk kabur sendiri kalau kalian tidak ingin nyasar” ucap satria yang langsung berdiri di samping alin


“yah sudah ayo kita keluar, yang menjemput kita sudah menunggu di depan” ucap bram pada semuanya


Mereka akhirnya keluar dengan menggunakan pintu B dan ternyata di depan pintu sudah berjejer 3 mobil mewah milik ramma, bram, dan satria.


Vita, alin, dan ayu benar-benar terkejut karena sudah ada banyak orang yang menyambut mereka dengan berpenampilan serba hitam dengan postur tubuh tinggi dan besar bahkan orang-orang itu menyambut kedatangan mereka.


“vit, yu sebenarnya kita ini sedang pergi bersama siapa sih? Kok penyambutannya itu kaya gini banget” ucap alin yang berbisik-bisik sama ayu dan vita


“gw juga tidak tau lin, dan sekarang gw merasa seperti orang kerajaan yang punya banyak sekali pengawal pribadi” ucap ayu pada ke dua temannya itu

__ADS_1


“walaupun gw istrinya ramma, tapi gw juga tidak tau tentang ini semua” ucap vita yang memang bingung dengan ini semua


Sementara ramma, satria, dan bram sedang ngobrol dengan salah seorang pengawal, yang entah mereka membicarakan apa, karena memang vita, alin, dan ayu tidak penasaran sedikitpun. Para perempuan lebih memilih duduk di kursi bandara sambil ngerumpi sendiri ketimbang penasaran dengan urusan yang mungkin mereka sendiri tidak faham.


__ADS_2